Berita

Novel Baswedan/Net

Politik

Kasus Novel Mentoknya Di Sidik Jari

Polisi Kesulitan Kumpulkan Bukti
SELASA, 18 APRIL 2017 | 09:57 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kepolisian belum menemukan titik terang dalam kasus teror terhadap Novel Baswedan. Korps baju coklat kesulitan mencari bukti. Salah satunya adalah mengidentifikasi sidik jari dalam cangkir yang digunakan pelaku untuk menyiram air keras ke penyidik KPK ini.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menyebut, polisi tidak menemukan adanya sidik jari di cangkir itu. Alasannya, "Namanya cangkir, gagangnya kecil. Kami tak mendapatkan di situ," ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, kemarin.

Selain cangkir, polisi mengantongi bukti foto orang yang diduga mengintai kediaman Novel sebelum menjalankan aksinya. Namun belum dipastikan apakah orang dalam foto itu memang pelaku penyerangan Novel atau bukan. "Masih kami dalami kembali," papar Argo.


Hingga kemarin, tim khusus dari Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Utara dan Polsek Kelapa Gading sudah memeriksa 19 saksi yang merupakan tetangga penyidik KPK itu.

Mereka hendak mendalami tamu yang berkunjung ke sekitar perumahan tempat tinggal Novel di Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara. "Saksi-saksi ini yang perlu kami dalami berkaitan dengan kegiatan-kegiatan keluar-masuknya orang di perumahan korban," imbuhnya.

Selain itu, polisi juga masih menunggu hasil pemeriksaan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri terhadap CCTV yang ada di lingkungan tempat tinggal Novel.

Terpisah, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar menyebut, CCTV yang menjadi petunjuk, kurang jelas. "Kalau (gambar) CCTV jelas, enak," ujar Boy di Mabes Polri, kemarin. "Ini peristiwa masih dini hari, matahari belum terbit, belum ada info secara langsung dengan peristiwa."

Rekaman CCTV di kediaman Novel, sama sekali tak bisa mengidentifikasi wajah kedua pelaku. Bahkan, plat nomor kendaraan pelaku saja tidak bisa dilihat dari rekaman itu.

Boy pun membandingkan dengan CCTV yang ada di rumah korban perampokan Pulo Mas pada awal tahun 2017 lalu yang menewaskan sang empunya rumah, Dodi Triyono. "Peristiwa Pulomas, CCTV sangat jelas, mempelajari gerak-gerik pelakunya di mana satu agak pincang. Itu memang diuntungkan," terangnya.

Sekalipun begitu, Boy menegaskan, kepolisian tak menyerah. Mereka terus melakukan pendalaman. Saat ini, penyidik tengah menyinkronkan semua keterangan saksi-saksi dengan alat bukti lain.

Salah satunya, dari foto yang didapat polisi. Foto itu diambil Novel saat merasa diikuti seseorang. "Selain Pak Novel sendiri, siapa nih yang mendukung yang menyatakan dua orang itu melintas di situ (depan rumah). Itu yang dikejar," tandas eks Kapolda Banten itu.

KPK sendiri berharap polisi segera menangkap pelaku teror terhadap penyidiknya itu. "Kami berikan apa yang dibutuhkan kalau penyidik Polri membutuhkan," kata Jubir KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, kemarin.

Febri menyatakan, dengan ditangkapnya pelaku akan diketahui motif dan pihak yang berkepentingan dalam teror terhadap Novel. Tak hanya KPK, Febri mengatakan, masyarakat, terutama keluarga Novel sangat menantikan pengusutan yang dilakukan kepolisian.

Soal kondisi Novel, Febri melanjutkan, tim dokter menyampaikan kondisi Novel telah membaik dibanding saat dibawa ke rumah sakit di Singapura pada Rabu (12/4) lalu.

Tekanan mata kiri maupun kanan telah berangsur normal. Perusakan sel akibat air keras sudah berhenti, sementara di sisi lain sel jaringan bagian selaput mata pun telah tumbuh, meski lamban. Karena pertumbuhan terjadi, dokter menyimpulkan selaput mata bagian putih tidak perlu operasi. "Tapi, bagian kornea belum ada pertumbuhan saat ini. Kami berharap sel jaringan bagian (kornea) ini mengalami pertumbuhan juga," harap Febri.

Tim dokter, lanjut Febri, terus memantau kondisi kornea mata yang terkena siraman air keras itu. Dalam seminggu ke depan, tim dokter akan mengevaluasi dan memutuskan perlu atau tidaknya melakukan tindakan medis terhadap mata Novel.

Jika dokter memutuskan operasi, Novel membutuhkan donor kornea. Donor dapat berasal dari pihak keluarga ataupun pihak lain. "Bisa juga menggunakan artificial operation," imbuhnya.

Febri mengapresiasi dukungan dan doa dari masyarakat terhadap Novel. KPK juga mengapresiasi pemerintah yang telah memberikan perhatian terhadap teror ini dan menanggung biaya pengobatan Novel. Meski Novel masih dirawat intensif, Febri menegaskan, KPK tetap bekerja maksimal menuntaskan kasus-kasus yang sedang ditangani.

Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif semalam menyatakan, kedua mata Kasatgas kasus korupsi e-KTP itu rusak. Kerusakan pada mata sebelah kiri Novel mencapai level empat dan yang sebelah kanan level tiga. "Tapi alhamdulillah saat ini Novel telah ditangani oleh tim dokter ahli di Singapura," ucap Syarif di DPR.

Menurut dia, Novel disiram oleh Asam sulfat, H2SO4, yang merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Akibatnya, terjadi kebakaran kimia di kornea Novel. Namun menurut Syarif, proses pengrusakan itu sudah berhenti.

Kini, dokter menunggu pertumbuhan dari sel-sel jaringan yang ada di kedua mata Novel. Jika pertumbuhan sel itu bergerak lambat, kemungkinan akan dilakukan pencangkokan kornea. "Mudah-mudahan tumbuhnya sel itu bisa lancar. Pertumbuhan sel sangat lambat kata dokter. Jadi jika lambat akan ada pencangkokan," harapnya.

Sementara Sekretaris Fraksi Partai Nasdem DPR, Syarief Abdullah Alkadrie menilai kinerja polisi lamban dalam mengusut kasus ini.

"Kita minta Polri bekerja lebih maksimal, gesit dan cepat dalam pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK," imbaunya, kemarin.

Syarief mengingatkan, sampai kepercayaan kepada Polri ini semakin menurun. Apalagi saat ini, kasus yang ditangani terkait teror terhadap penyidik KPK. "Profesional institusi kepolisian saat ini sedang diuji dan masyarakat menunggu hasil," ujar anggota Komisi V DPR itu. Syarief pun menyarankan presiden membentuk tim independen untuk mempercepat dan transparansi dalam penanganan serta pengungkapan kasus ini. ***

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya