Berita

Politik

Islam Radikal Terorisme

JUMAT, 10 MARET 2017 | 08:57 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KETIKA berdebat di masa kampanye Pilpres, Hillary Clinton mempertanyakan kebiasaan Donald Trump menggunakan istilah "Islam Radikal Terorisme". Dengan penuh keyakinan, Trump menjawab, "Before you solve the problem, you have to say the name" (Sebelum kamu memecahkan masalahnya, kamu harus sebut namanya).

Maka selanjutnya Donald Trump makin bersikeras menggunakan istilah "Islam Radikal Teorisme" termasuk pada pidato resmi kepresidenannya di bukit Capitol. Istilah "Islam Radikal Terorisme" juga digunakan oleh para pendukung kebijakan Trump menumpas terorisme kecuali justru oleh Penasehat Keamanan Nasional USA, H. R. McMaster, secara eksplisit menolak istilah "Islam Radikal Terorisme". Sebab meyakini bahwa istilah tersebut tidak tepat digunakan demi melukiskan apa sebenarnya yang dimaksud dengan terorisme.

Menjelang pidato pada Sidang Paripurna U.S. Congress, McMaster menasehati Trump untuk tidak menggunakan istilah "Islam Radikal Terorisme". Seperti biasa nasehat selalu diabaikan oleh Trump yang malah menyatakan bahwa, ""Our obligation is to serve, protect, and defend the citizens of the United States. We are also taking strong measures to protect our nation from Radical Islamic Terrorism." (Tugas kami adalah melayani, melindungi dan membela warga Amerika Serikat maka kami bersungguh-sungguh melakukan apa pun demi melindungi bangsa kita dari Islam Radikal Terorisme).


Pada pertemuan dengan para anggota National Security Council, McMaster menegaskan bahwa hakikat penggunaan istilah "Islam Radikal Terorisme" adalah tidak benar sebab terorisme tidak sesuai dengan ajaran Islam. Terorisme tidak pernah dibenarkan dalam ajaran Islam sejak masa lalu sampai masa kini mau pun masa depan. Terorisme memang pernah dilakukan oleh mereka yang mengaku diri sebagai umat Islam namun sebenarnya Islam tidak pernah membenarkan apalagi mengajarkan terorisme.

Dalam sejarah peradaban umat manusia, terbukti bahwa  yang melakukan terorisme bukan hanya mereka yang mengaku diri sebagai umat Islam namun juga umat agama-agama lainnya. Terorisme di Irlandia Utara dilakukan oleh umat Nasrani terhadap umat Nasrani. Terorisme terhadap umat Islam di Rachine, Myanmar dilakukan oleh mereka yang menganut agama Buddha.

Teroris yang membunuh Mahatma Gandhi adalah insan penganut agama Hindu. Tak terhitung berapa nyawa melayang akibat terorisme penjajah Spanyol di Amerika Tengah dan Selatan. Pembantaian kaum Yahudi dilakukan atas perintah Adolf Hitler yang jelas bukan Muslim. Maka jelas bahwa terorisme sama sekali bukan monopoli umat Islam.

Keliru jika Presiden Donald Trump mencekal imigran dari negara-negara Islam dengan dalih mencegah terorisme di bumi Amerika Serikat. Fakta membuktikan bahwa mayoritas para pelaku terorisme pasca 911 termasuk pembunuhan massal terhadap anak-anak sekolah yang mewabah di Amerika Serikat ternyata bukan Muslim.

Sementara istilah radikal yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sebenarnya bermakna secara mendasar sampai kepada hal yang prinsip, amat keras menuntut perubahan, maju dalam berpikir atau bertindak seperti yang dilakukan oleh para tokoh penentang angkara murka penjajahan dan penindasan seperti Mahatma Gandhi, Sun Yat Sen, Simon Bolivar, Jose Rizal, Che Guevara Lech Wallesa, Soekarno, Hatta, jelas kurang senonoh apabila dikaitkan dengan terorisme.

Maka memang sudah tepat dan benar bahwa McMaster sebagai Penasehat Keamanan Nasional Amerika Serikat berusaha menasehati agar Presiden Donald Trump dalam baper gelora semangat menumpas terorisme tidak menggunakan istilah "Islam Radikal Terorisme". Istilah yang benar cukup "Terorisme" saja tanpa embel-embel apapun.

Penulis adalah sosok penolak kekerasan

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya