Berita

Nasaruddin Umar/Net

Mempersiapkan Khaira Ummah (21)

Membaca Pola Migrasi Umat

SELASA, 07 MARET 2017 | 10:00 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

UMAT ideal (khaira umah) di masa depan semakin su­lit diprediksi. Selain kriteria juga muncul fenomena det­eritorialisasi umat. Perkem­bangan terakhir umat Is­lam tidak lagi terkonsentrasi di salah satu negara saja tetapi menyebar dan mem­baur dengan umat-umat lain. Dalam kondisi seperti ini sudah barang tentu memerlukan kriteria baru di dalam konsep khaira ummah.

Kecenderungan terakhir pola migrasi umat yang sangat cepat dan luas. Perkembangan sains dan teknologi, terutama di sektor transpor­tasi dan didukung pertumbuhan ekonomi umat yang semakin baik, mengharuskan pemimpin umat untuk mengantisipasi sejumlah kemung­kinan yang mungkin tidak pernah ditemukan di dalam lintasan sejarah. Pola migrasi umat se­lama dua dekade terakhir menimbulkan wajah baru dunia Islam. Mereka secara besar-be­saran melakukan eksodus ke negara-negara maju seperti di Eropa, Amerika, Australia, dan Asia Selatan. Mereka eksodus karena krisis politik, ekonomi, dan sosial di negerinya, teru­tama di era pasca 'Badai Gurun' (Arab Spring). Banyak di antara mereka terpaksa hijrah ke negara-negara tujuan yang bisa menampung­nya untuk menyelamatkan diri sambil mencari lahan kehidupan baru.

Menurut Murad W. Hofmann, mantan Direktur Informasi NATO, dalam bukunya "Religion on the Rise, Islam in the Third Millennium", akan mem­berikan dampak hegemoni sosial-politik dun­ia, mengingat Islam adalah sistem ajaran yang menuntut loyalitas kepada penganutnya. Menurut Hofmann, pola migrasi komunitas Islam agak ber­beda dengan komunitas lain. Secara fisik komun­tas muslim berada di negara lain, bahkan sudah menjadi warga negara (citizen) atau pemegang green card, tetapi loyalitas terhadap negara asal­nya masih tetap tinggi. Hal itu disebabkan karena ikatan keagamaan paling dominan. Mereka mem­bayar pajak di negeri barunya tetapi masih mem­bayarkan zakat harta, infaq, shadaqah, dan belan­ja-belanja keagamaan lainnya ke negeri asalnya. Ziarah ke maqam leluhur dan guru-guru spiritual tetap rutin dilaksanakan. Sebagian juga masih membangun rumah di negeri asal termasuk dana yang dikumpulkan diinvestasikan ke negeri asal­nya. Mereka masih sangat terikat dengan negara asalnya, karena tokoh-tokoh keagamaan kharis­matik dari negerinya tetap dijalin. Bahkan secara periodik tokoh spiritual itu didatangkan ke negeri baru ini untuk memberikan pencerahan.


Migran muslim di negara-negara barat kini sudah lahir generasi kedua atau ketiga. Mere­ka masih tetap dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam. Dari manapun dan di manapun ko­munitas Islam itu berada selalu menciptakan ling­kungan sosial unik karena Mereka memiliki sim­bol-simbol perekat (melting pot) berupa mesjid, halal food, pendidikan dasar keagamaan untuk anak-anak mereka, dan majlis taklim untuk para orang tua. Persaudaraan sesame umat Islam dari manapun asalnya sangat akrab satu sama lain di negeri barunya. Mereka bersama-sama mem­bangun sekolah atau madrasah untuk melestari­kan generasi muslim ideal. Mereka juga menjalin komunikasi dalam bentuk media sosial sehingga antara satu sama lain sangat akrab. Keakraban mereka terutama dapat terlihat seusai menjalank­an ibadah-ibadah ritual seperti shalat Jum'at, ma­jlis ta’lim, kerja bakti, dll.

Hari-hari raya keagamaan juga sangat inten­sif mempertemukan antara sesama komunitas muslim. Misalnya hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha sering menjadi ajang pertemuan antar keluarga muslim. Mereka menyelenggarakan shalat 'Id bersama. Dalam bulan Ramadhan ada kegiatan rutin yang disebut buka bersamar shalat tarwih berjamaah, sahur dan tadarru­san bersama. Di negeri orang kadang-kadang keakraban satu sama lain lebih terasa, seka­lipun berasal dari negara yang berbeda. Soli­daritas keagamaan ini memungkinkan adanya kemudahan hidup di negeri orang karena ba­gaimanapun ukhuwah Islamiyah selalu hidup di dalam napas keislaman umat Islam.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

AKPI Perkuat Profesionalisme dan Integritas Profesi

Senin, 13 April 2026 | 19:51

KNPI: Pemuda Harus Jadi Penyejuk di Tengah Isu Pemakzulan

Senin, 13 April 2026 | 19:50

14 Kajati Diganti, Termasuk Sumut dan Jatim

Senin, 13 April 2026 | 19:31

Cara Buat SKCK Online lewat SuperApps Presisi Polri, Mudah dan Praktis!

Senin, 13 April 2026 | 19:17

Bersiap Long Weekend, Ini Daftar 10 Tanggal Merah di Bulan Mei 2026

Senin, 13 April 2026 | 19:16

Viral Dokumen Kerja Sama Udara RI-AS, Okta Kumala: Kedaulatan Negara Prioritas

Senin, 13 April 2026 | 19:14

Daftar Hari Libur Nasional Mei 2026, Ada 3 Long Weekend

Senin, 13 April 2026 | 19:07

Ajudan Gubernur Riau Terima Fee Proyek Rp1,4 Miliar

Senin, 13 April 2026 | 19:02

4 Penyakit yang Harus Diwaspadai saaat Musim Pancaroba

Senin, 13 April 2026 | 18:57

Ongen Sentil Pengkritik Prabowo: Jangan Sok Paling ‘98’

Senin, 13 April 2026 | 18:52

Selengkapnya