Berita

Nasaruddin Umar/Net

Merawat Toleransi (71)

Mempercepat UU Kerukunan

RABU, 08 FEBRUARI 2017 | 09:08 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

MERAWAT toleransi di neg­ara multi etnik dan agama tidak gampang. Tidak cu­kup hanya mengandalkan warisan psikologis sebagai sesama warga bangsa yang memiliki persamaan sejarah. Tidak cukup juga dengan peraturan-peraturan SKB Menteri, bahkan tidak cukup dengan perpres, tetapi diperlukan peraturan setingkat Un­dang-Undang (UU) untuk memandu dan sekaligus merawat kerukunan dan toleransi antar etnik dan agama di negeri ini.

Negara yang dipadati oleh berbagai suku, bang­sa, agama, dan kepercayaan seperti Indonesia, konflik antara agama dan etnik sewaktu-waktu bisa terjadi. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia mem­buktikan hal ini. Indonesia sudah kenyang dengan konflik agama dan etnik, namun konflik tersebut se­lalu bisa diatasi dengan cepat karena adanya per­samaan sejarah panjang sebagai warga bangsa. Sama-sama menjalani kehidupan senasib dan sep­enderitaan, mengalami pengalaman pahit hidup di bawah penjajahan konlonial Belanda, sama-sama mengalami berbagai dampak buruk bencana alam, dan berbagai cobaan dalam kehidupan berbangsa dan dan negara lainnya, baik berupa bencana lokal maupun nasional.

Kehadiran UU yang secara khusus mengatur kerukunan antar umat beragama dan berkeper­cayaan di negara ini sangat diperlukan. Sebe­narnya sudah ada UU No. 1 tahun 1965 tentang penistaan agama tetapi terlalu ringkas, hanya 3 ayat, untuk menyelesaikan kompleksitas konflik keagamaan di negeri ini. Sudah waktunya yang tepat UU itu hadir sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama yaitu konflik terbuka antara umat beragama. Kita semua tahu bahwa konflik keagamaan jauh lebih bahsyat akibatnya ketimbang konflik primordial seperti suku, bang­sa, dan kedaerahan. Jika konflik agama terjadi maka berlaku motto: 'Isy kariman au mut syahi­dan (Hidup mulia atau mati syahid).


Mungkin memang UU ini agak kontroversi, su­dah barang tentu ada kelompok masyarakat yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan alasan­nya masih-masing. Namun demikian jika dilihat dari berbagai sudut pandang, maka kehadiran UU ini lebih menjanjikan harapan lebih baik. Apalagi saat ini muncul tren peningkatan gerakan kelompok radikal keagamaan secara universal. Kelompok tersebut tidak segan menjalankan misinya dengan menghalalkan segala cara. Untuk mencegah sega­la dampak buruk gerakan kelompok radikal maka perlu diproteksi dengan melahirkan UU yang bisa berfungsi mencegah dan sekaligus menimbulkan efek jera bagi para pelakunya.

Sesungguhnya yang paling membutuhkan UU Kerukunan ialah kelompok minoritas. Kelompok mayoritas tidak terlalu membutuhkan kehadiran UU ini karena mereka mampu mengatasi persoalan­nya sendiri. Jika terjadi konflik keagamaan sering kali aparat keamanan mengalami kesulitan karena tidak adanya jaminan dan dasar hukum yang lebih kuat untuk melakukan tindakan pencegahan dini. Jika mereka melakukannya khawatir akan terjerat dengan peraturan dan perundang-undangan baru yang berhubungan dengan HAM. UU ini nantinya bisa menjadi payung hukum untuk memayungi sejumlah kebijakan pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Diharapkan dengan kelahiran UU ini bisa memberikan rasa aman dan ketenangan bagi setiap warga negaran­ya untuk menjalankan agamanya masing-masing tanpa merasa terancam atau terintimidasi oleh kel­ompok-kelompok tertentu, khususnya dari kelomok agama yang berbeda.

Di samping itu, diharapkan dengan lahirnya UU ini beberapa daerah yang dituding melakukan syar­iatisasi peraturan daerah bisa segera diselesaikan dengan baik. Selama ini selalu ada tudingan sejum­lah daerah tertentu dianggap menghukum positif­kan hukum Syari’ah melalui perda-perda, sehingga kebijakan itu mengusik harmoni kehidupan antar umat beragama. Contohnya perda-perda sejum­lah daerah yang mengatur berbusana muslimah, keharusan baca tulis Al-Qur'an bagi calon pegawai Pemda, minuman keras, dan calon pengantin laki-laki dan perempuan. Banyak lagi contoh lain dan kemungkinan peristiwa lain bisa terulang kembali jika tidak diproteksi dengan sistem hukum yang leb­ih komperhensif. ***

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya