Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Smokey Mountain

MINGGU, 05 FEBRUARI 2017 | 09:12 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DALAM kunjungan ke Manila, saya tersadar atas eksistensi sebuah lokasi bernama Smokey Mountain alias Gunung Berasap di kawasan Tondo. Nama "Gunung" berasal dari tumpukan sampah yang memang secara harafiah menggunung maka berbentuk seperti gunung. Sementara nama "Berasap" berasal dari gas yang ke luar dari tumpukan limbah membusuk dalam bentuk asap yang bahkan kerap berubah menjadi api penyebab kebakaran yang menelan nyawa para pemulung sampah yang secara turun menurun terpaksa mencari nafkah dengan memulung sampah di kawasan Smokey Mountain sejak puluhan tahun.

Tumpukan sampah di Smokey Mountain memang bukan alang kepalang sebab meliputi lebih dari dua juta metrik ton sampah. Selama puluhan tahun, pegunungan sampah di Smokey Mountain menjadi daya tarik bagi kaum miskin Filipina untuk mencari nafkah sebagai pemulung di kawasan yang tersohor sebagai percontohan kemiskinan. Para pemulung mendirikan bedeng-bedeng sebagai permukiman mereka di tumpukan sampah Smokey Mountain.

Pada tahun 1980-an pemukim Smokey Mountain mencapai jumlah sekitar 30.000 orang termasuk ribuan anak-anak. Sejak tahun 1990, pemerintah Kota Manila secara bertahap menutup Smokey Mountain sebagai tempat pembuangan sampah kemudian secara bertahap pula sejak 2001 memindah para pemulung dari bedeng ke rumah susun lima tingkat yang sengaja dibangun untuk mereka di lokasi terdekat. Sekitar 20 hektar tanah diberhenti-fungsikan sebagai lokasi pembuangan sampah.


Dengan lenyapnya sang sampah maka lenyap pula sumber nafkah para pemulung. 30 ribu anggota keluarga pemulung tidak ditelantarkan namun dibina dan dibimbing oleh pemerintah untuk mendirikan koperasi. Dengan dukungan Dana Kemiskinan dan Lingkungan dari Asian Development Bank, koperasi pemulung Smokey Mountain memfokuskan diri pada profesi daur ulang sebagai pengganti profesi kepemulungan.

Koperasi Smokey Mountain mendirikan lembaga swadaya Fasilitas Daur Ulang yang dikelola dan ditata laksana secara mandiri oleh para mantan pemulung melalui latihan dan sertifikasi keterampilan manajemen daur ulang. Fasililtas Daur Ulang ditatalaksana sebagai perusahaan dengan mengejar profit agar mampu berjalan mandiri. Mereka yang bekerja di FDU bisa memperoleh penghasilan sampai USD 225 per bulan sambil bekerja di lingkungan yang aman dan sehat.

Toto Rivas, mantan methamphetamine addict yang di masa remaja memulung di Smokey Mountain kini berkarya di FDU sebagai kepala bagian pemisahan sampah kini memperoleh kebahagiaan dan kebanggaan dalam perjuangan mencari nafkah bagi  keluarganya. Koperasi Smokey Mountain mengoperasikan stasiun air yang mensuplai air bersih bagi segenap warga bekas pembuangan sampah memperkejakan 10 pekerja tetap dan 10 pekerja tidak tetap. Bekerja sama dengan stasiun air adalah Eco-laundromat Service Center yang menggunakan air bersih untuk memfungsikan mesin cuci .

Dua cabang laundromat lainnya menggunakan air hujan untuk mesin-mesin cuci yang menjadi sumber nafkah bagi warga eks pemulung. Koperasi Smokey Mountain juga mendirikan sentra kerajinan tangan di mana kertas-kertas bekas yang dibuang sebagai sampah didayagunakan untuk membuat kerajinan keranjang, tas, trays dan tempat botol anggur. Departemen kerajinan tangan berhasil memperoleh omset USD 8.750 pada tahun 2012 yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013 mereka menampilkan karya-karya kerajinan berasal dari bahan sampah pada pameran desain dan lifestyle FAME di Manila dengan label PAPEL, kata bahasa Tagalog untuk "kertas".  

Sebenarnya pembangunan partisipatif rakyat seperti yang terjadi di Smokey Mountain juga sudah dipersiapkan oleh Sandyawan Sumardi dengan laskar Ciliwung Merdeka bekerja sama dengan warga Kampung Pulo dan Bukit Duri sehingga memperoleh anugerah dari Kementerian Pekerjaan Umum sebagai suri teladan pembangunan bukan dengan mengorbankan namun melibatkan peran serta langsung rakyat mulai dari perencanaan sampai dengan penatalaksanaan pembangunan. Namun sayang setriliun sayang, kini Kampung Pulo dan Bukit Duri telah dibumiratakan oleh pemerintah Daerah Khusus Istimewa Jakarta. [***]  

Penulis merupakan pemrihatin nasib rakyat tergusur


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Purbaya Soal Pegawai Rompi Oranye: Bagus, Itu Shock Therapy !

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:16

KLH Dorong Industri AMDK Gunakan Label Emboss untuk Dukung EPR

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:05

Inflasi Jakarta 2026 Ditargetkan di Bawah Nasional

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:04

PKB Dukung Penuh Proyek Gentengisasi Prabowo

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:57

Saham Bakrie Group Melemah, Likuiditas Tinggi jadi Sorotan Investor

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:51

Klaim Pemerintah soal Ekonomi Belum Tentu Sejalan dengan Penilaian Pasar

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:50

PN Jaksel Tolak Gugatan Ali Wongso pada Depinas SOKSI

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:48

Purbaya Optimistis Peringkat Utang RI Naik jika Ekonomi Tumbuh 6 Persen

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:32

IHSG Melemah Tajam di Sesi I, Seluruh Sektor ke Zona Merah

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:27

Prabowo Dorong Perluasan Akses Kerja Profesional Indonesia di Australia

Jumat, 06 Februari 2026 | 13:16

Selengkapnya