Berita

Nasaruddin Umar/Net

Merawat Toleransi (60)

Menghindari Fitnah

KAMIS, 26 JANUARI 2017 | 09:02 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

SALING fitnah antar atau internal umat beragama seringkali menjadi faktor la­hirnya konflik dan berkelanjutan dengan permusuhan. Padahal tidak sedikit fitnah itu lahir pada awalnya bukan masalah keagamaan, tetapi sengaja dilibatkan untuk memperoleh dukungan emosion­al untuk membela orang atau kelom­pok tertentu. Dalam era reformasi dan masyarakat demokrasi, fitnah sering kali tampil sebagai istilah biasa, padahal makna agamanya luar biasa. Al-Qur’an berulangkali mengingatkan kita, fitnah itu lebih keji daripada pembunuhan (Q.S. al-Baqarah/2:191 dan Q.S. al-Baqarah/2:217). Ada kecenderungan begitu gam­pang orang melemparkan fitnah. Mulai fitnah yang berskala kecil sampai berskala besar dan amat keji. Apapun jenisnya fitnah itu, pasti akan menyebabkan adanya jatuh korban. Per­ingatan Al-Qur’an di atas pasti bisa dirasakan kebenarannya, khususnya orang yang korban fitnah.

Konflik keagamaan yang terjadi dalam dasawarsa terakhir ini, baik antar umat beragama atau internal umat beragama lebih banyak berawal dari kasus fitnah secara pribadi lalu mel­uas menjadi konflik keagamaan terbuka. Kasus yang terjadi di Ambon dan Poso, demikian pula kasus yang terjadi di Sam­pang, Madura, keseluruhannya dipicu atau berawal dari perso­alan pribadi lalu dikemas di dalam bentuk fitnah dan pada akh­irnya terjadilah konflik terbuka. Dampak fitnah amat dahsyat. Kalau orang dibunuh sekali saja menderita dan hanya yang bersangkutan menderita. Akan tetapi jika orang difitnah sama dengan membunuh orang secara pelan-pelan dengan menya­kitkan. Fitnah bisa membawa orang lain hancur sehancur-han­curnya. Bahkan fitnah yang keji bisa membunuh hidup-hidup satu keluarga. Yang sakit bukan hanya yang bersangkutan tetapi anak istri atau suami, orang tua, kerabat, dan teman se­jawat orang itu ikut tersiksa. Pantas jika Allah swt mengancam hukuman yang amat pedih bagi pelaku fitnah. Ahli fitnah bukan hanya disiksa tetapi pahalanya di dunia diambil alih oleh yang difitnah, sehingga tidak tersisa sedikit pun.

Umat dan segenap masyarakat perlu diberikan wawasan untuk hati-hati di dalam menyikapi fitnah, terutama fitnah yang berbau SARA, karena tidak sedikit persoalan yang timbul di dalam masyarakat bisa diboncengi fitnah. Apalagi sekarang dengan kecanggihan alat komunikasi, fitnah bisa merebak begitu cepat dan massif, misalnya melalui SMS, BBM, WA, dan internet. Jika kita tidak selektif membaca isu dan fitnah maka potensi konflik bisa terjadi. Para pemimpin ummat atau tokoh-tokoh agama perlu menyadarkan seluruh umat dan warganya untuk tidak begitu gampang terpancing dengan fitnah. Pengelola media, baik media cetak maupun media elektronik seperti radio, TV, Web, dll juga harus lebih dewasa dan lebih profesional mengelola medianya, karena media bisa menjadi faktor yang sangat signifikan menebar­kan fitnah.


Umat kita juga perlu diajari mengelola fitnah. Jika ses­eorang cerdas mengelola fitnah, ia bisa menjadikannya se­bagai momentum untuk meraih kehidupan baru. Fitnah yang diadreskan kepadanya bisa dijadikan momentum untuk me­mulai dunia baru, yang boleh jadi lebih baik dari ada sebelum­nya. Fitnah yang dapat dikelola dengant cerdas bisa mem­berikan pelajaran penting kepada orang lain, bahwa fitnah tidak perlu diratapi atau membuat hidup kita kiamat.

Indonesia sebagai Negara yang heterogen perlu lebih hati-hati. Wacana regulasi hate speech atau ungkapan kebencian yang cenderung provokatif kepada orang atau kelompok lain, yang akhir-akhir ini marak di media, bisa dipertimbangkan dengan catatan hareus betul-betul dibuat secara profesional. ***

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya