Berita

Nasaruddin Umar/Net

Merawat Toleransi (3)

Mundur Selangkah Untuk Meraih Kemenangan

KAMIS, 24 NOVEMBER 2016 | 08:58 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

KEPUTUSAN untuk mundur selangkah guna meraih kemenangan merupakan strategi Nabi. Sebaliknya nekat melawan arus besar bisa tenggelam dan hanyut. Ban­yak kasus Nabi melakukan strategi demikian. Nabi be­berapa kali memilih langkah hijrah, mengungsi ke suatu tempat untuk mendinginkan situasi atau untuk menyusun taktik dan strategi baru. Nabi per­nah hijrah ke Thaif dan beberapa tempat lainnya sebelum ke Madinah. Nabi secara terbuka men­inggalkan sahabat-sahabatnya di rumah persem­bunyiannya kemudian bersembunyi di Gua Tsaur bersama Abu Bakar. Nabi juga berkali-kali mem­buat perjanjian damai dan gencetan senjata yang secara redaksional sepintas merugikan umat Is­lam. Namun langkah-langkah tersebut hanya merupakan strategi untuk meraih kemenangan yang lebih besar dan lebih permanen. Pada akh­irnya keseluruhan perjuangan Nabi berhasil den­gan menakjubkan. Bukan hanya Nabi tetapi lin­tasan sejarah perjuangan umat Islam banyak menempuh cara-cara seperti Nabi tadi.

Strategi Nabi untuk hijrah dan menyetujui perjanjian damai yang ganjil sama sekali tidak bisa diartikan langkah pengecut, seperti yang sering dituduhkan kalangan orientalis, bahwa acapkali tindakan Nabi mengambil penyelamatan diri send­iri dan melakukan pembiaran terhadap umatnya, seperti yang sering diangkat ialah kasus hijrah­nya Nabi ke Yatsrib (Madinah). Bisa diartikan tin­dakan pengecut jika dilakukan tanpa perhitungan matang. Akan tetapi jika itu melalui pertimbangan dan perhitungan cermat, apalagi didukung oleh petunjuk wahyu, maka tindakan itu sama sekali bukan tindakan pengecut.

Langkah jihad yang menempuh jalur nekat, seperti menolak segala bentuk perjanjian da­mai, gencatan senjata, atau menolak alternatif strategi mundur selangkah untuk mencapai kemajuan, apalagi menolerir terjadinya tinda­kan bunuh diri atau dengan sengaja melakukan tindakan mengorbankan orang banyak yang tak berdosa, sama sekali bukan jihad yang diper­kenalkan di dalam Islam. Bahkan Al-Qur'an dengan tegas mengecam orang yang dengan sengaja menghancurkan diri sendiri ke dalam kebinasaan, walaupun dengan tujuan yang suci, sebagaimana dikatakan: "Dan jangan­lah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena ses­ungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". (Q.S. al-Baqarah/2:195). Tinda­kan bom bunuh diri yang nyata-nyata mengor­bankan diri sendiri sama sekali tidak pernah di­contohkan Nabi dan para sahabatnya di dalam melaksanakan jihad. Lagi pula, hakekat jihad sesungguhnya untuk menghidupkan orang, bu­kannya untuk mematikan orang, apalagi orang-orang yang tak berdosa.


Harus selalu diingat bahwa jihad yang diper­kenalkan Nabi ialah jihad yang mengintegrasikan antara ijtihad dan mujahadah. Ijtihad ialah per­juangan untuk menyelesaikan persoalan melalui akal dan pikiran yang sehat dan objektif dan mi­hajahadah ialah perjuangan untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah Swt dengan sungguh-sungguh mengerahkan kecerdasan emosional-spiritual. Dengan demikian, jihad yang sesungguhnya ialah kombinasi perjuangan fisik (jihad), perjuangan akal/logika (ijtihad), dan per­juangan batin (mujahadah). Jika salah satunya hilang maka bukan jihad. Orang-orang yang su­dah menggunakan ketiga unsur tersebut lalu kor­ban di medan jihad maka itulah disebut syuha­da', bentuk jamak dari syahid, yang berarti orang yang mati syahid. Tidak semua orang yang mati di dalam suatu perjuangan, yang biasa diistilah­kan dengan Pahlawan Kusuma Bangsa, bisa dis­ebut syuhada'. Para pahlawan yang dikuburkan di Taman Pahlawan Nasional pun, belum tentu keseluruhannya bisa disebut syuhada', meskipun harapan kita sebagai generasi pelanjut seperti itu. Allah Swt memiliki kriterianya sendiri tentang ji­had sebagaimana disebutkan di dalam artikel ter­dahulu. Kita tidak boleh dengan begitu gampang menggunakan term jihad untuk mengorbankan diri sendiri atau orang lain. 

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Pemerintah Didesak Tetapkan Karhutla Sebagai Bencana Nasional

Rabu, 02 September 2026 | 12:22

Anggaran Kementerian LH 2027 Diusulkan Naik Jadi Rp2,57 Triliun

Rabu, 02 September 2026 | 12:16

Film Animasi Terlaris China All Wishes Come True Resmi Tayang di Bioskop Indonesia

Rabu, 02 September 2026 | 11:56

Mahasiswa Indonesia Antusias Sambut Kedatangan Prabowo di Vladivostok

Rabu, 02 September 2026 | 11:53

Kapolri Minta Seluruh Kapolda Perkuat Pencegahan dan Pengendalian Karhutla

Rabu, 02 September 2026 | 11:49

Siaga 98 Minta RUU Perampasan Aset Fokus pada Perampasan Tanpa Pemidanaan

Rabu, 02 September 2026 | 11:38

Prabowo Tiba di Vladivostok, Penuhi Undangan Putin Hadiri EEF ke-11

Rabu, 02 September 2026 | 11:24

Komdigi Usul Tambahan Rp3,23 Triliun, DPR Ingatkan Ini

Rabu, 02 September 2026 | 11:19

Mending Persoalkan Kasus Judol Ketimbang Ribut Pernyataan Budi Arie

Rabu, 02 September 2026 | 11:17

AHY: Posisi Boleh Berubah, Komitmen Demokrasi Harus Terjaga!

Rabu, 02 September 2026 | 10:58

Selengkapnya