Berita

Jaya Suprana/Net

Politik

Anugerah Nurani Kemanusiaan Bagi Setiap Insan Manusia

MINGGU, 02 OKTOBER 2016 | 07:26 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SELURUH jiwaraga saya melemas tidak berdaya apa pun pada saat menyaksikan kedahsyatan kesaktian belalai alat berat mengobrak-abrik gubuk warga RW 9,10,11,12 Bukit Duri yang berdasar perintah Pemerintah DKI Jakarta hukumnya wajib dibumi-ratakan atas nama pembangunan infra struktur demi menjadikan ibukota Indonesia lebih tertib, bersih, sehat, sejahtera dan gemerlap.

Konon pembongkaran secara paksa dan secara sadar melanggar hukum sebab Bukit Duri masih dalam proses hukum itu memang harus cepat dilakukan agar Jakarta tampak indah-permai pada saat Asian Games diselenggarakan.

Dapat dibayangkan betapa mengerikan angkara murka pembongkaran dilakukan apabila Jakarta menjadi tuan rumah Olimpiade ! Ketika saya terpana menyaksikan kedigdayaan sang monster alat-berat dengan belalai baja raksasa mengobrak-abrik Bukit Duri, seorang petugas Satpol PP menghampiri saya. Tentu saja, saya bersiap-siaga menghadapi segala kemungkinan terburuk dari sang Satpol PP yang wajar terjadi sebab saya berpihak ke rakyat tergusur.


Ternyata sang Satpol PP hanya berbisik ke saya untuk mengaku bahwa sebenarnya dia merasa kasihan terhadap nasib rakyat tergusur. Namun tidak berdaya melawan perintah penggusuran dari pemerintah sebab tidak ingin dipecat dari profesi sumber nafkah bagi diri dan keluarganya.

Sekitar dua hari berselang, saya berkisah tentang bisikan nurani kemanusiaan kepada sang pejuang kemanusiaan dari Jeneponto, Sandyawan Sumardi yang hidup bersama warga Bukit Duri sejak awal aad XXI. Di tengah suasana duka akibat musnahnya karsa dan karya kemanusiaan di Bukit Duri yang sempat memperoleh anugerah penghargaan CITY CHANGER dari kementerian PU,  Sandi tersenyum lalu berkisah apa yang dia dengar dari para pemilik warung makan di seberang kawasan Bukit Duri yang tidak atau belum tersentuh penggusuran.

Ternyata pada saat makan siang 26 September 2016 sebagai hari pemusnahan Bukit Duri, para petugas Satpol PP sebagai ujung tombak penggusuran menyempatkan mampir makan siang di warung-makan kaki lima di seberang kawasan Bukit Duri yang sedang digusur.

Semula saya menduga para Satpol PP pasti bergembira dan tertawa bersama sambil makan siang merayakan keberhasilan mereka menggusur rakyat tak berdaya melawan penggusuran. Ternyata dugaan saya keliru. Menurut para pemilik warung makan, ternyata para petugas SatpolPP semuanya murung tidak tertawa bahkan ada yang menangis sebab ternyata di lubuk sanubari mereka masih tersisa sisa-sisa nurani kemanusiaan.

Ternyata para petugas penggusuran sepakat dalam iba dan prihatin atas nasib sesama rakyat Indonesia yang tidak berdaya apa pun ketika menyaksikan gubuk mereka dihancur-leburkan bersama harga diri dan harkat-martabat mereka sebagai warga negara dan bangsa Indonesia.

Saya jadi teringat bahwa ketika memimpin satuan keamanan mulai masuk ke kawasan yang akan digusur, Kapolres mendampingi saya ketika bersama warga Bukit Duri menyerahkan bunga kepada para petugas keamanan. Beliau mohon maaf atas tugas penggusuran yang terpaksa dilakukan sambil tegas memberi komando agar para anak-buahnya menerima pemberian bunga dari rakyat.

Saya juga melihat wajah para wartawan dari dalam dan luar negeri (termasuk media yang dogmatis mendukung penggusuran sebagai tindakan kemanusiaan adiluhur sesuai Pancasila dan mashab Pembangunan Nirkelanjutan yang meyakini bahwa harus ada korban yang dikorbankan demi kesuksesan pembangunan) tidak ada yang terkesan gembira apalagi bangga atas pembongkaran gubuk-gubuk warga Bukit Duri yang sebenarnya memiliki surat bukti kepemilikan sah atas pemukiman mereka.

Beberapa warga asing yang on the spot menyaksikan amukan monster alat berat melumat Bukit Duri tidak tahan menahan tetesan air mata .

Saya sendiri menulis naskah ini dengan menangis terharu akibat menyadari bahwa pada dasarnya setiap insan manusia adalah baik.  Yang Maha Kasih menganugerahkan nurani kemanusiaan bagi setiap insan manusia. Hanya saja memang kerap kali jabatan, profesi , kekuasaan dan kerakusan membuat insan manusia melakukan angkara murka yang tidak sesuai dengan nurani kemanusiaan di lubuk sanubari manusia. [***]

Penulis adalah pembelajar kemanusiaan adil dan beradab

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Manifesto PRD 1996: Ketika Sekelompok Anak Muda Membuat Penguasa Susah Tidur

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:27

Kanada Minta Warganya Waspadai Wabah Cyclospora sebelum Bepergian ke AS

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:16

BRI Peduli Buka Jalan UMKM Mebel Sukoharjo Tembus Pasar Global

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:10

Ganti Kapolri dan Jaksa Agung Diusulkan Barengan

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:06

Kemnaker Jamin 134 Pegawai PT Amos Terima Pesangon Rp12,7 Miliar

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:03

Purbaya Ungkap Alasan RI Tawarkan Pajak 0 Persen Selama 50 Tahun di PFII

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:47

KPK Sita Toyota Alphard Diduga Hadiah Proyek Bupati Lalu Ahmad Zaini

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:30

Risiko Perang Terbuka AS-Iran Meningkat Gegara Rebutan Selat Hormuz

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:23

KPK Bantah Kabar Penangkapan Gatot Heroe Hernanda

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:17

Fahira Ungkap Lima Tantangan Anak Indonesia dan Solusinya

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:12

Selengkapnya