Berita

Sudarnoto Abdul Hakim/Net

Politik

Islam, Demokrasi Dan Tantangannya

KAMIS, 15 SEPTEMBER 2016 | 04:15 WIB | OLEH: SUDARNOTO A HAKIM

TOPIK tentang Islam dan demokrasi  sebetulnya sudah lama diperbincangkan. Hal ini antara lain karena, pertama, umat Islam secara empirik selalu bersentuhan dengan pengalaman-pengalaman politik kenegaraan yang variatif.

Kedua, banyak yang percaya bahwa terdapat prinsip-prinsip yang tertuang dalam al-Qur'an yang sangat bersesuaian dengan demokrasi. Ada tuntutan untuk menegakkan prinsip-prinsip ini dalam praktek politik negara dan pemerintahan.

Ketiga, banyak juga yang menolak demokrasi karena diyakini tidak bisa dipertanggung jawabkan secara keagamaan.


Pengalaman-pengalaman umat Islam yang berbeda dalam memahami dan mengkompromikan Islam dan demokrasi ini menjadi sesuatu yang unik. Ini artinya bahwa pemikiran tentang demokrasi bukanlah sesuatu yang monolitik apalagi hanya sekedar mencangkokkan demokrasi barat. Paling tidak, ada tiga kecenderungan.

Pertama,  kelompok apologetik yang menegaskan bahwa demokrasi dan prinsip-prinsip kebebasan itu inheren dalam Islam. Tidak ada alasan untuk melakukan penolakan terhadap demokrasi karena demokrasi menegaskan pentingnya egalitarianisme, kesamaan derajat kemanusiaan, menolak diskriminasi dan menjunjung tinggi hak-hak manusia.

Kedua, kelompok rejeksionis yang menolak demokrasi karena demokrasi berasal dari Barat, bukan dari Islam. Bahkan demokrasi bertentangan dengan Islam karena demokrasi menjunjung tinggi kedaulatan rakyat sementara Islam menegaskan kedaulatan Tuhan/Allah. Sudah dipastikan demokrasi akan mrminggirkan agama/Islam.

Ketiga, kelompok rekonstruksionis yang berusaha untuk membaca secara kritis dan mendialogkan prinsip-prinsip Islam dengan demokrasi dalam rangka menemukan dan membangun paradigma baru demokrasi yang jauh lebih progresif. Harus ada upaya secara terus menerus untuk menyegarkan pemahaman terhadap Islam dan demokrasi. Jika tidak, maka Islam akan memgalami stagnasi atau jumud dan demokrasi akan menjadi berhala baru karena sudah terlanjur diabsolutkan. Kekuatan demokrasi justru terletak kepada kesediaan dan keterbukaannya terhadap kritik internal sekaligus melakukan perbaikan-perbaikan maksimal demi kemaslahatan dan keadilan bersama.

Charter of Madina atau Piagam Madinah masih sangat relevan untuk dieksplorasi lebih lanjut dan diimplementasikan dalam konteks politik kebangsaan dan kenegaraan kontemporer.

Ada pelajaran penting dari leadership Muhammad Rasulullah dengan Piagam Madinah, yaitu membangun dan memperkokoh integrasi nasional bedasarkan kepada nilai-nilai atau prinsip-prinsip dasar ajaran agama, supremasi hukum, kebudayaan yang agung dan partisipasi masyarakat yang maksimal.

Dengan cara ini, maka potensi konflik besar yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan dan keanekaragaman budaya, pandangan politik, agama dan status sosial bisa diubah atau ditransformasi menjadi enerji positif dalam rangka memperkokoh bangsa. Karena itu, kelompokisme dan egoisme yang saat ini mulai muncul dalam praktek politik termasuk di kalangan umat Islam harus dikoreksi melalui perspektif ini.

Nepotisme, kolusi dan korupsi yang menjadi salah satu problem di negara-negara muslim muncul antara lain karena prinsip-prinsip ajaran Islam tidak dihadirkan. Pragmatisme politik lebih mengedepan ketimbang menjunjung tinggi agama sebagai sumber penting bagi demokratisasi dan kehidupan poltik kebangsaan dan kenegaraan.

Ini tentu saja menjadi salah satu tantangan besar umat Islam untuk secara terus menerus menterjemahkan prinsip prinsip moral Islam dalam konteks kehidupan politik kontemporer.

Negara-negara muslim seperti Malaysia, Indonesia dan Brunei Darussalam khususnya perlu membangun kerjasama yang lebih produktif antara lain untuk mengkaji secara mendalam dan serius bagaimana relasi Islam dan demokrasi dalam kehidupan mendatang.

Tantangan ke depan akan jauh semakin kompleks dan besar yang dihadapi oleh umat Islam di Asia Tenggara. Antara lain, kelompok fundamentalisme atau radikalisme yang menggunakan agama sebagai simbol akan memanfaatkan instrumen demokrasi tapi justru untuk membajak dan memperlemah demokrasi. Jika ini dibiarkan maka gagasan yang selama ini digaungkan oleh mayoritas muslim moderat yaitu Islam Rahmatan Lil Alamin akan mengalami pelemahan secara sistimatik. [***]


Sudarnoto Abdul Hakim adalah Dosen Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (FAH-UIN) Jakarta, Ketua Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI dan Ketua Dewan Pakar Forum Keluarga Alumni (Fokal) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Tulisan ini disampaikan saat menyampaikan keynote speech dalam acara ulang tahun ke-70 UMNO di Johor Baru Malaysia yang diselenggarakan oleh UMNO Johor dan Bait al-Amanah.   

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya