Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Banjir! Banjir!

SENIN, 29 AGUSTUS 2016 | 13:12 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

BANJIR terjadi bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di Kanada, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, China, Bangladesh dan entah di mana lagi.

Banjir merupakan suatu fenomena bencana alam maka pada hakikatnya bukan dosa maupun jasa pemerintah. Bahwa banjir bukan dosa mau pun jasa permerintah tersirat pada dua peristiwa yang terjadi pada dua hari secara beruntun di Jakarta.

26 Agustus 2016, Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama menyatakan bahwa Pemprov DKI Jakarta akan segera memberi Surat Peringatan Pertama (SP1) kepada warga Bukit Duri, Jakarta Selatan, supaya mereka mau direlokasi dari kawasan yang akan terkena proyek normalisasi sungai Ciliwung.  


Ia mengatakan, normalisasi sungai Ciliwung yang telah dilakukan terbukti sudah memberi dampak cukup signifikan dalam mengurangi banjir di Ibu Kota. Padahal kata Basuki, tahun-tahun belakangan ini setelah badai La Nina, intensitas air hujan jauh lebih besar dari biasanya. Tetapi berkat normalisasi sungai Ciliwung yang sudah dijalankan, sekarang tidak ada lagi cerita banjir di Jakarta.

Semua itu adalah bukti bahwa pemprov DKI Jakarta sudah berhasil mengatasi banjir. 27 Agustus 2016, baru sehari setelah pernyataan Gubernur Jakarta bahwa normalisasi sungai Ciliwung sudah memberi dampak signifikan dalam menanggulangi banjir di Jakarta, mendadak Yang Maha Kuasa berkehendak lain.

Hujan deras yang mengguyur wilayah Jakarta sejak Sabtu 27 Agustus 2016 siang menyebabkan banjir di sejumlah tempat. Banjir terkonsentrasi di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur karena hujan berintensitas tinggi turun di wilayah ini. Selain hujan yang deras, banjir juga disebabkan saluran drainase tidak mampu menampung dan mengalirkan aliran permukaan dari hujan.

Berdasarkan data sementara yang dihimpun BPBD DKI Jakarta terdapat 39 RW di 15 kelurahan yang ada di 8 kecamatan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur terendam banjir. Sebanyak 10.538 KK atau 31.622 jiwa terdampak langsung oleh banjir. Banjir di Jakarta Selatan meliputi Kecamatan Kebayoran Baru, Cilandak, Cipete Selatan, Pasar Minggu, Mampang Prapatan, dan Pesanggrahan. Sedangkan, di Jakarta Timur banjir terjadi di Kecamatan Pasar Rebo, Ciracas, dan Kramat Jati.

Daerah yang paling parah terendam banjir adalah di Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru, yang terendam banjir setinggi 90-100 centimeter. Sekitar 39 RT di 3 RW di daerah Kelurahan Petogogan Kecamatan Kebayoran Baru terendam banjir. Banyak rumah dan kendaraan yang terjebak oleh banjir. Di Kecamatan Cilandak banjir setinggi 40-100 centimeter merendam 3 kelurahan dan 9 RW yang meliputi 54 RT di Kelurahan Pondok Labu, Cipete Selatan, dan Gandaria Selatan. Tinggi banjir di Kelurahan Gandaria Selatan mencapai 70-100 centimeter.

Kendaraan yang nekat melintas jalan akhirnya mogok di jalan. Begitu juga dengan banjir di Kecamatan Pasar Minggu yang meliputi Kelurahan Jatipadang dan Ragunan. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada menghadapi banjir. Fenomena La Nina diperkirakan mulai September 2016 akan memberikan pengaruh meningkatnya hujan.

Alih-alih  mengakui belum berhasil mengatasi banjir, Gubernur Jakarta menegaskan agar penggusuran warga Bukit Duri sebagai bagian dari normalisasi kali Ciliwung harus segera dilaksanakan. Implisit timbul kesan bahwa para warga Bukit Duri yang menolak penggusuran adalah para kambing hitam biang keladi banjir.

Tampaknya dengan berat hati dapat disimpulkan bahwa warga Bukit Duri memang apa boleh buat terpaksa harus mengikhlaskan diri mereka untuk digusur. Meski masih terbesit sepercik harapan bahwa pihak penggusur masih berkenan berbelas kasihan untuk melakukan penanggulangan banjir dengan bukan menggusur namun menata permukiman rakyat bukan secara paksa namun melalui jalur musyawarah-mufakat sesuai asas kerakyatan serta kemanusiaan adil dan beradab.

Penulis pemrihatin nasib rakyat tergusur

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Purbaya Siapkan Sanksi bagi Importir Buntut Kontainer Menumpuk

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:21

Kebakaran Rumah di Palmerah, 17 Unit dan 85 Personel Damkar Dikerahkan

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:05

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Widiyanti Putri Wardhana dan Nusron Wahid Layak Direshuffle

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:38

Kompetisi Ketapel Antar ASN

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:19

Buzzer Jokowi Jangan Dulu Pesta, P21 Bukan Vonis Pengadilan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:00

Investor Asing Laporkan Dugaan Penyalahgunaan Dana Proyek Marina Bay City ke Polda Bali

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:48

Kritik Rocky Gerung, Gumarang: Menteri Keuangan Bukan Sekadar Kasir

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:27

State-Driven Economy untuk Hentikan Ketimpangan dan Ketergantungan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:57

Puluhan Miliar Dana Investasi Dipersoalkan, Siapa Bertanggung Jawab di Marina Bay City?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:33

Selengkapnya