Berita

Jaya Suprana

Gusur 325 Lokasi

KAMIS, 25 AGUSTUS 2016 | 13:44 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEMULA saya ingin berhenti menulis keberpihakan kepada rakyat tergusur sebab setelah ekskalasi protes berbagai pihak dan dewan hakim menerima gugatan rakyat tergusur di Bukit Duri dan Bidara Cina, tampaknya Pemprov DKI Jakarta berkenan menghentikan penggusuran. Namun mendadak koran Rakyat Merdeka secara mencolok di halaman pertama edisi 24 Agustus 2016 gegap-gempita memberitakan bahwa pemerintah provinsi Daerah Khusus Istimewa Jakarta akan melakukan penggusuran di tidak kurang dari 325 lokasi di ibukota negara Indonesia.

Berita besar tersebut jelas sangat mengejutkan sanubari saya yang baru mulai berhasil menenteramkan diri . Maka saya tidak bisa menahan diri untuk kembali menulis  keberpihakan kepada rakyat tergusur yang  tidak ikhlas dirinya digusur. Namun berdasar pengalaman masa lalu , saya perlu menyesuaikan tulisan saya dengan kenyataan sikap mereka yang mendukung penggusuran rakyat. Sudah cukup lelah saya menjelaskan alasan rakyat tidak mengikhlaskan dirinya digusur padahal Pemprov DKI Jakarta sudah berbaik hari menawarkan rumah susun meski rumah susun berdasar sewa dengan kontrak maksimal dua tahun.

Saya juga sudah putus asa menjelaskan bahwa di samping uang sewa, mereka yang dipindah ke rumah susun berbasis sewa maksimal dua tahun juga masih wajib memikul biaya sampingan lain-lainnya seperti biaya perawatan kebersihan, biaya keamanan, biaya listerik dan air, dan entah apa lagi.
Terlepas dari urusan dana, secara psikologis juga tidak semua warga setuju dirinya dipindah ke rumah susun semewah apa pun sebab tidak terbiasa hidup di rumah bersusun-susun. Mengenai dampak kehilangan sumber nafkah akibat dipaksa pindah ke rumah susun tampaknya memang sulit dimengerti oleh mereka yang tidak sadar akibat belum pernah hidup di permukiman kumuh bahwa permukiman sekaligus menjadi tempat mencari nafkah. Pendek kata memang banyak alasan untuk tidak mampu dan tidak mau mengerti kenapa sampai ada rakyat yang tidak mau digusur padahal disediakan rumah susun.

Terlepas dari urusan dana, secara psikologis juga tidak semua warga setuju dirinya dipindah ke rumah susun semewah apa pun sebab tidak terbiasa hidup di rumah bersusun-susun. Mengenai dampak kehilangan sumber nafkah akibat dipaksa pindah ke rumah susun tampaknya memang sulit dimengerti oleh mereka yang tidak sadar akibat belum pernah hidup di permukiman kumuh bahwa permukiman sekaligus menjadi tempat mencari nafkah. Pendek kata memang banyak alasan untuk tidak mampu dan tidak mau mengerti kenapa sampai ada rakyat yang tidak mau digusur padahal disediakan rumah susun.

Seharusnya rakyat jangan menentang namun mendukung sambil mensyukuri penggusuran terhadap diri mereka karena tujuan niat pemerintah justru sangat luhur yaitu ingin menyejahterakan rakyat miskin. Tidaklah heran apabila keberpihakan ke rakyat tergusur justru dianggap sebagai subversi perlawanan terhadap kebijakan pemerintah. Keberpihakan kepada rakyat tergusur dihujat sebagai sekadar kosmetik alias kedok untuk menutupi tujuan buruk memancing di air keruh.

Para pembela rakyat tergusur dituduh sebagai  mafia tanah yang memanipulasi harga tanah demi kepentingan angkara murka keserakahan komersial. Bahkan membela rakyat tergusur dihujat sebagai pencitraan murahan demi mendongkrak popularitas diri agar sukses di pilkada 2017. Saya pribadi tidak memiliki pamrih komersial, popularitas atau kekuasaan apa pun kecuali rasa iba melihat nasib rakyat tergusur. Maka saya tidak melibatkan diri ke dalam kemelut perdebatan pro-kontra penggusuran namun sekadar dengan penuh kerendahan hati memberanikan diri untuk memohon kepada pihak yang berwenang melakukan penggusuran untuk berkenan bermurah hati dan berbelas kasihan kepada rakyat di 325 lokasi di ibukota Indonesia yang terancam kebijakan penggusuran.

Kami memohon Pemprov DKI Jakarta bukan menghentikan pembangunan namun sekadar agar Pemprov DKI Jakarta berkenan melakukan musyawarah-mufakat dengan rakyat sebelum melakukan penggusuran. PBB sudah menyatakan bahwa pada hakikatnya pembangunan dapat tetap dilakukan tanpa mengorbankan lingkungan hidup, sosial, budaya apalagi rakyat. Apabila pihak yang berwenang berkenan mengabulkan permohonan saya maka jelas saya sangat berterima kasih meski tidak mampu berbuat banyak untuk membalas budi baik pihak yang berwenang kecuali memanjatkan doa agar Yang Maha Kasih berkenan senantiasa melimpahkan Rahmat dan KurniaNya kepada mereka yang berkenan berbelas kasih kepada rakyat tergusur. AMIN [***]


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya