Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Alangkah Indahnya....

KAMIS, 11 AGUSTUS 2016 | 10:25 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

AKHIRNYA Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memutuskan maju bertarung di Pilkada 2017 lewat jalur parpol. Melalui twitter mereka, Teman Ahok mengaku tidak marah bahkan tegas mendukung penuh keputusan Ahok. Mereka menyadari bahwa Ahok sedang menghadapi masa sulit dan di saat kesulitan inilah Ahok membutuhkan dukungan lebih dari sebelumnya.

Meski jika menghitung keringat dan air mata yang telah tumpah setahun terakhir, Teman Ahok mengakui bahwa mereka adalah pihak yang paling sedih atas keputusan Ahok. Namun Teman Ahok mengaku bukan relawan naif kacangan penuh pamrih, yang menarik dukungan hanya karena Ahok memutuskan maju lewat jalur parpol. Teman Ahok bergerak berdasarkan kepercayaan kepada Ahok, bukan pada idealisme jalur yang dipilih Ahok maka sejak awal tujuan utama Teman Ahok adalah menjadikan Ahok terpilih kembali sebagai Gubernur pada 2017 tanpa hutang politik. Maka Teman Ahok akan tetap berjuang sampai Ahok dipastikan dilantik sebagai Gubernur terpilih pada 2017 nanti.

Di tengah membanjirnya berita bohong maka tidak jelas apakah berita tentang Teman Ahok tetap setia mendukung Ahok meski mereka ditinggalkan Ahok itu, benar atau bohong. Juga tidak jelas mengenai tulus-tidaknya pengakuan Teman Ahok tetap setia Ahok. Apabila berita itu benar dan kesetiaan Teman Ahok benar-benar tulus maka Teman Ahok telah menampilkan suatu sikap politik yang benar-benar sangat layak diangkat menjadi suri teladan bagi kaum politisi Indonesia. Sikap Teman Ahok merupakan suatu teladan sikap sudah melangka di kemelut politik Indonesia yang sedang menderita paceklik etika dan akhlak.


Kesetiaan tidak termasuk dalam kamus politik Indonesia masa kini akibat dianggap suatu sikap anakronis alias ketinggalan zaman. Kesetiaan diyakini  tidak sesuai semangat utilitarisme menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Jika memang kekuasaan adalah tujuan utama politik maka kesetiaan justru dianggap beban kendala yang menghambat laju gerak politik merebut atau mempertahankan kekuasaan. Sejarah telah membuktikan bagaimana dinasti Mughal di India tidak segan saling menangkap, memenjarakan bahkan membunuh keluarga sendiri dalam memperebutkan kekuasaan. Nicolo Machiavelli berkisah angkaramurka para penguasa siap membantai para lawan politik mereka termasuk anggota keluarga sendiri demi mempertahankan kekuasaan. Jika mau belajar tentang ketidaksetiaan sejati silakan simak sepak-terjang Cao-Cao , tokoh dalam kisah Sam Kok, yang tidak segan mengorbankan para serdadunya sendiri demi menyelamatkan diri sendiri dari ancaman musuh. Para politisi kutu loncat sibuk tangkas berpindah dari parpol satu ke parpol lain.

Pameo politik yang  populer adalah tidak ada yang abadi dalam politik kecuali kepentingan. Demi kepentingan, kawan bisa menjadi lawan dan sebaliknya. Akibat Teman Ahok tidak pamrih kekuasaan bagi diri mereka sendiri dalam pengorbanan mereka mendukung Ahok mempertahankan kekuasaan maka mereka mampu legowo untuk tetap setia kepada Ahok. Alangkah indahnya apabila para penguasa termasuk Ahok berkenan belajar makna kesetiaan dari Teman Ahok. Alangkah indahnya apabila para penguasa di Tanah Tumpah Darah tercinta kita ini tidak memberhalakan kekuasaan sebagai tujuan tunggal perjuangan mereka. Alangkah indahnya apabila para penguasa berkenan mempersembahkan kesetiaan kepada rakyat yang telah memilih mereka untuk duduk di tahta kekuasaan maka wajib meletakkan kepentingan rakyat di atas segala-galanya termasuk ambisi kekuasaan dalam perjuangan membangun Indonesia demi meraih cita-cita terluhur bangsa Indonesia yaitu  masyarakat adil dan makmur. Merdeka! [***]

Penulis adalah pembelajar makna kerakyatan

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Purbaya Siapkan Sanksi bagi Importir Buntut Kontainer Menumpuk

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:21

Kebakaran Rumah di Palmerah, 17 Unit dan 85 Personel Damkar Dikerahkan

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:05

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Widiyanti Putri Wardhana dan Nusron Wahid Layak Direshuffle

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:38

Kompetisi Ketapel Antar ASN

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:19

Buzzer Jokowi Jangan Dulu Pesta, P21 Bukan Vonis Pengadilan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:00

Investor Asing Laporkan Dugaan Penyalahgunaan Dana Proyek Marina Bay City ke Polda Bali

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:48

Kritik Rocky Gerung, Gumarang: Menteri Keuangan Bukan Sekadar Kasir

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:27

State-Driven Economy untuk Hentikan Ketimpangan dan Ketergantungan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:57

Puluhan Miliar Dana Investasi Dipersoalkan, Siapa Bertanggung Jawab di Marina Bay City?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:33

Selengkapnya