Berita

Jaya Suprana/Net

Publika

Memprihatini Nasib Rakyat Tergusur

SELASA, 09 AGUSTUS 2016 | 09:05 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

AKIBAT memprihatini nasib rakyat tergusur di Kampung Pulo, Pasar Ikan, Luar Batang, Bukit Duri, Gunung Kapur dan lain sebagainya, saya dihujani aneka ragam hujatan mulai dari tua bangka bau tanah, lansia kurang kerjaan, pahlawan kesiangan, sampai ke pemberontak melawan pemerintah.

Hujatan tua bangka bau tanah sepenuhnya dapat saya terima sebab kenyataan saya memang sudah tergolong tua bangka sudah berbau tanah akibat maka dari hari ke hari memang makin mendekati liang kubur. Sebutan lansia juga benar sebab usia saya memang sudah layak dianggap lanjut. Namun istilah kurang kerjaan agak kurang tepat sebab sebenarnya kerjaan saya menulis, menggarap komposisi musik, membina wayang orang, menggembleng para musisi muda berbakat, melestarikan jamu, menyelenggarakan acara seminar/diskusi/simposium dan lain sebagainya cukup berlimpah menyita waktu dan energi lahir batin saya yang sudah makin terbatas ini.

Hujatan pahlawan jelas berlebihan sebab saya sama sekali tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai pahlawan meski hujatan kesiangan memang tepat sebab seharusnya saya lebih dini mulai merasa prihatin nasib rakyat tergusur akibat  kepekaan sosial saya rada tumpul. Namun hujatan pemberontak melawan pemerintah jelas tidak benar. Saya sama sekali bukan pemberontak sebab niscaya senantiasa setia kepada NKRI. Saya juga tidak melawan siapa pun apalagi pemerintah akibat saya memang pengecut maka tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukan perlawanan.   


Sepenuhnya saya mendukung kebijakan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah namun terbatas pada kebijakan pembangunan yang tidak melanggar Pancasila, UUD 1945, hak asasi manusia dan mashab Pembangunan Berkelanjutan yang telah disepakati oleh PBB sebagai mashab pembangunan abad XXI dengan tidak mengorbankan lingkungan hidup, sosial dan budaya yang pada ujung-ujungnya akhirnya akan memusnahkan umat manusia di planet bumi yang satu-satunya di alam semesta ini.  

Maka mohon dimaafkan bahwa saya tidak mendukung kebijakan pemerintah menggusur rakyat tanpa melalui proses musyawarah mufakat. Dalam konteks keberpihakan gusur-menggusur memang saya memilih berpihak ke pihak yang digusur akibat logika bahwa pihak yang digusur lebih tidak berdaya ketimbang pihak yang menggusur. Pihak yang menggusur pasti lebih memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk menggusur ketimbang pihak yang digusur yang tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk tidak digusur. Kebetulan saya juga tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan yang dimiliki pihak penggusur maka mubazir jika saya melawan pihak yang menggusur sama mubazirnya seperti seekor semut melawan seekor gajah.

Bahkan saya tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk mengritik pihak penggusur sama mubazirnya dengan seekor anjing menyalak senyaring apa pun juga tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan mengritik demi menghentikan sebuah khafilah berlalu. Maka saya hanya mampu memrihatini nasib rakyat tergusur. Rasa prihatin itu saya ungkap melalui tulisan seperti naskah yang sedang anda baca ini. Sama sekali tidak ada harapan politis dalam naskah-naskah saya sebab saya sama sekali tidak memiliki ambisi jabatan apalagi kekuasaan.

Harapan saya melalui ungkapan keprihatinan saya terhadap rakyat tergusur melalui tulisan hanya terbatas pada harapan kemanusiaan saja. Insya Allah, tulisan-tulisan sederhana saya bisa menyentuh lubuk sanubari dan nurani pihak yang menggusur agar berkenan bermurah hati untuk berbelas-kasihan untuk bermusyawarah-mufakat dengan rakyat tergusur sesuai sila kemanusiaan, kerakyatan dan keadilan sosial bagi segenap rakyat Indonesia. Bermusyawarah-mufakat dengan rakyat tergusur demi bersama mencari kemungkinan untuk mengurangi beban derita rakyat tergusur. [***]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya