Berita

foto:net

X-Files

Anggota DPRD DKI Hanura Dicecar Jaksa 18 Pertanyaan

Kasus Dugaan Penggelapan Kredit Bank Mandiri
RABU, 13 APRIL 2016 | 09:12 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kejaksaan Agung menyelidiki dugaan penggelapan kredit Bank Mandiri untuk pembangunan hotel Yellow Echo Beach di Canggu, Bali. Direktur utama PT Tri Selaras Sapta (TSS) yang juga anggota DPRD DKI Fraksi Hanura, Wahyu Dewanto dimintai keterangan di Gedung Bundar.

"Kredit yang dikucurkan itu tidak sesuai dengan laporan perkembangan pembangunan yang ada," kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) Arminsyah.

Wahyu yang pernah minta katebelece dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara untuk pelesir ke Australia itu, di­mintai keterangan selama tujuh jam. Ia dicecar 18 pertanyaan.


Keluar dari Gedung Bundar, Wahyu bungkam. Ia langsung masuk ke mobil yang menjemputnya di teras.

Kejagung telah memanggil Wahyu sejak dua pekan lalu. Wahyu diminta datang pada 5 April untuk memberikan keterangan. Namun dia tak nongol. Alasannya, sedang ada kegiatan dengan konstituen. Wahyu me­minta diundur.

Kejagung melayangkan surat panggilan kedua. Wahyu diminta datang pada 12 April. Ia akh­irnya datang.

Sebelumnya, Wahyu pernah dilaporkan ke Polres Jakarta Selatan mengenai dugaan peng­gelapan kredit dari Bank Mandiri. Pelapornya Andy Randy Rivai, rekan bisnis Wahyu. Laporan ber­nomor 537/K/III/2015/ResJaksel dibuat 26 Maret 2015.

Belakangan kasus dugaan penggelapan ini ditindaklanjuti Kejagung.

Kasus ini bermula pada 2013 silam ketika Andy, Wahyu bersama Hamad Saleh dan I Wayan Putra sepakat memben­tuk PT TSS yang bergerak di bidang perhotelan. Wahyu di­tunjuk menjadi direktur utama. Sedangkan tiga rekan bisnisnya sebagai pemegang saham.

TSS akan membangun hotel Yellow Echo Beach di Canggu Bali. Wahyu mengajukan kredit Rp 60 miliar ke Bank Mandiri Denpasar untuk membiayai pembangunan hotel. Jaminannya tanah aset perusahaan di Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Bank Mandiri bersedia men­gucurkan kredit namun bertahap. Tahap pertama Rp 18 miliar. TSS harus melakukan pembangunan dulu 30 persen untuk menerima kucuran kredit tahap pertama.

Wahyu lalu membuat laporan ke Bank Mandiri bahwa pem­bangunan sudah 30 persen dan meminta kredit tahap pertama dikucurkan. Dana pun cair. "Dilaporkan (pembangunan su­dah) 30 persen, faktanya cuma 14 persen," kata Arminsyah.

Pada 18 Maret 2015, TSSmendapat surat peringatan dari Bank Mandiri karena kredit su­dah jatuh tempo. Bank Mandiri pun mengecek ke lahan yang akan dibangun hotel. Ternyata progress pembangunan hotel tak sesuai laporan Wahyu.

Pengacara Wahyu, Hendra Heriansyah mengatakan, kasus ini muncul akibat perselisihan antar pemegang saham. Wahyu adalah pemegang saham terbesar di TSS.

Pemegang saham lain curiga Wahyu menggelapkan kredit dari Bank Mandiri. Kemudian melaporkan Wahyu ke polisi. Hendra menyebut para peme­gang telah berdamai.

Menurut Hendra, Bank Mandiri pun menghentikan pem­berian kredit lantaran muncul permasalahan di antara peme­gang saham.

"Distop dulu," katanya.

Penghentian kredit dari Bank Mandiri menyebabkan pembangunan hotel terhenti. "Mangkrak karena kreditnya tidak berjalan," katanya.

Hendra membantah Wahyu menggelapkan kredit Bank Mandiri. Kata dia, pekerjaan dasar dan konstruksi sudah di­lakukan. Namun memang belum berbentuk fisik.

Ia pun menampik angga­pan bahwa kredit yang diberi­kan kepada TSSini macet. "Pembayaran angsuran Pak Wahyu lancar terus, bahkan pokoknya juga oleh Pak Wahyu dibayar," ujar Hendra.

Mengenai pemanggilan Wahyu ke Gedung Bundar, Hendra men­jelaskan untuk memberikan keterangan soal perjanjian dengan Bank Mandiri dan pengucuran kredit. ***

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

UPDATE

Kejagung Pede Hadapi Febrie di Sidang Praperadilan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:27

Gebrakan PAM Jaya Tekan Kebocoran Air Diapresiasi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:19

FEB UNJ Dukung Pariwisata Berkelanjutan di Bali Lewat Pengabdian Masyarakat

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:01

Danantara Investasi Rp44 Triliun di JBS Group

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:01

Anggota PWI Jakbar Laporkan Oknum Polisi ke Propam Polda Metro, Ini Sebabnya

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:47

Bawaslu Campus Connect Jadi Solusi Tantangan Digital di Pemilu

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:28

Publik Curiga UGM Melindungi Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:17

Febrie Adriansyah Siap Buka-bukaan di Sidang Praperadilan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:02

Gedung Bapenda DKI Kebakaran

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 00:32

Pemerintah Diultimatum 15 Hari Terbitkan PP Cukai MBDK

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 00:13

Selengkapnya