Berita

Sufmi Dasco Ahmad/net

Permasalahan Lapas, Sipir Tidak Seimbang Dengan Napi

MINGGU, 27 MARET 2016 | 11:57 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Kekurangan pegawai lembaga pemasyarakatan atau sipir ikut diseroti, pasca bentrok di Rumah Tahanan (Rutan) Malabero, Bengkulu, Jumat (25/3). Masalah ini tidak boleh hanya dibebankan kepada Kementerian Hukum dan HAM saja, tetapi juga Kementerian Pedayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

"Jangan hanya salahkan Kemenkumham. Saya melihat masalah utama di LP adalah tidak sebandingnya jumlah warga binaan dengan jumlah pegawai lapas," kata Anggota Komisi III DPR, Sufmi Dasco Ahmad dilansir dari JPNN.Com, Minggu (27/3).

Menurut informasi yang ia peroleh, secara nasional saat ini satu pegawai lapas harus mengawasi sekitar 55 warga binaan. Hal ini tentu tidak akan cukup efektif untuk mengawasi warga binaan. Kondisi itu semakin parah setelah Menpan RB Yuddy Chrisnandi menerapkan moratorium penerimaan CPNS.


"Saya dengar di beberapa daerah seperti Kabupaten Bogor, karena ada LP Cibinong yang baru dan LP Gunung Sindur, satu regu pegawai penjaga yang tadinya terdiri dari 15 orang sekarang hanya 9 orang karena sebagian dialihkan ke LP yang baru," kata Sufmi Dasco.

Sebagai contoh, lanjut politikus Gerindra ini, LP di Bandung dengan isi 189 orang tapi penjaganya cuma 12 orang yang dibagi menjadi 4 regu. Mereka harus menjaga keamanan di LP. "Ini bahaya sekali, bisa jadi tragedi LP Bengkulu kembali terulang di tempat lain," ujarnya.

Karenanya, hanya ada satu solusi untuk mengantisipasi masalah tersebut, yakni penambahan pegawai LP sesuai kebutuhan. Minimal, perbandingannya 1: 25 orang, agar pengawasan lebih efektif.

"Menpan RB harus buat kebijakan khusus soal LP, jika terus dibiarkan maka LP justru akan menjadi surga bagi pecandu narkoba karena pengawasannya lemah," tukas Sufmi Dasco. [rus]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya