Berita

Posisi Perempuan Dalam Perubahan Iklim Sangat Vital

SELASA, 08 MARET 2016 | 08:55 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Kongres Wanita Indonesia (Kowani) bertekad dan komitmen untuk ikut melestarikan alam dan bumi.

"Kami mendukung dan pelaksanaan gerakan pelestarian alam dan seluruh aktivitas konservasi dan sejenisnya," kata Ketua Umum Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo di Jakarta, Selasa (8/3).

Bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kowani ikut melakukan penanaman pohon mangrove pada 6 Maret di Pantai Indah Kapuk Jakarta, dan Dialog Perempuan Sahabat Perubahan Iklim pada 7 Maret di Jakarta.


Giwo mengatakan, Kowani sebagai Ibu Bangsa mempunyai komitmen sebagai pendidik yang utama dan pertama dalam menyiapkan generasi penerus yang lebih sadar akan kebangsaannya untuk berprilaku budaya yang ramah lingkungan, dengan dapat mewujudkan dan menanamkan nilai-nilai dan pendidikan sejak usia dini tentang arti penting penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab.

"Kita harus mau, mampu dan menyadari untuk melaksanakan pelestarian serta akan pentingnya kelestarian ekosistem demi dunia dan seluruh makhluk," ungkapnya.

Kowani berkomitmen untuk terus mensosialisasikan, mengedukasikan serta melaksanakan bersama dengan seluruh stakeholder dan seleuruh anak bangsa semua kegiatan yang selaras dengan pelestarian konservasi lingkungan.

"Hutan mangrove kita adalah setara dengan 25 persen luas mangrove dunia, 60 persen dari luas mangrove di Asia, dan sebagaimana kita ketahui 30 persen karbon dunia berada di ekosistim pesisir," kata Giwo.

Ia menambahkan posisi perempuan dalam konteks perubahan iklim sangat vital dan besar. Langkah strategis yang perlu dilakukan oleh perempuan baik secara organisatoris maupun sebagai bagian dari masyarakat yaitu berupa mitigasi dan adaptasi.

Secara singkat, mitigasi berarti sebuah usaha yang dilakukan untuk mencegah, menahan dan atau memperlambat efek gas rumah kaca yang menjadi penyebab pemanasan global di bumi. Berkebalikan dengan mitigasi, adaptasi lebih kepada upaya yang dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim yang telah terjadi dan dirasakan oleh manusia di bumi.

"Mitigasi saja tidak cukup, demikian pula dengan hanya beradaptasi saja. Keduanya harus berjalan beriringan. Oleh sebab itu, baik mitigasi dan adaptasi sangat penting dilakukan secara bersama-sama dan terintegrasi dalam menghadapi perubahan iklim," tukas Giwi. [rus]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Mojtaba Khamenei Janjikan Kekalahan Pahit bagi AS-Israel

Minggu, 19 April 2026 | 16:14

Wondr Kemala Run 2026 Putar Roda Ekonomi hingga Rp140 Miliar

Minggu, 19 April 2026 | 16:06

India Protes ke Iran, Dua Kapalnya Ditembak di Selat Hormuz

Minggu, 19 April 2026 | 15:33

Didik Rachbini: Video Ceramah JK Direkayasa untuk Memecah Belah

Minggu, 19 April 2026 | 15:29

Ketua GPK: Isu Pemecatan Massal PPP Menyesatkan

Minggu, 19 April 2026 | 14:57

KPK Soroti Risiko Korupsi Pinjaman Luar Negeri

Minggu, 19 April 2026 | 14:13

MUI Dorong Penguatan Akhlak di Kampus untuk Cegah Kekerasan Seksual

Minggu, 19 April 2026 | 14:09

Iran Ringkus 127 Orang Terduga Mata-mata Musuh

Minggu, 19 April 2026 | 13:39

Cak Imin Wanti-wanti Penyalahgunaan Vape untuk Narkoba

Minggu, 19 April 2026 | 13:25

Menkop Ajak DPRD Dukung Kopdes Jadi Mesin Ekonomi Baru

Minggu, 19 April 2026 | 13:10

Selengkapnya