Berita

foto:net

X-Files

Tersangka Gugat Laporan Audit BPK Soal Kerugian Negara

Kasus Mobile Crane Pelindo II
KAMIS, 25 FEBRUARI 2016 | 09:33 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Tersangka kasus korupsi pengadaan mobile crane Pelindo II, Ferialdy Noerlan menggugat laporan audit perhitungan kerugian negara (PKN) yang dibuat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
 
Gugatan telah didaftarkanke Pengadilan Tata Usaha Negara (TUN) Jakarta pada 10 Februari 2016 dan diregister se­bagai perkara nomor 23/G/2016/PTUN-JKT. Sebagai tergu­gat dalam perkara ini adalah Anggota III BPK Eddy Mulyadi Soepardi.

Pengadilan TUN Jakarta te­lah menunjuk majelis hakim yang menyidangkan perkara ini. Yakni Adhi Budi Sulistyo selaku hakim ketua. Sedangkan M Arief Pratomo dan Edi Septa Surhaza sebagai hakim anggota. Sidang perdana pun telah ditetapkan: Senin, 29 Februari 2016.


Penasihat hukum Ferialdy, Frederich Yunadi tak tahu Ferialdy menggugat hasil audit BPK BPK. "Gugatan apa?" ka­tanya ketika dikonfirmasi.

Ia mengaku tak ikut men­dampingi Ferialdy mempersoal­kan hasil audit BPK itu ke PTUNJakarta. "Mungkin itu yang tangani pengacara lainnya," kata bekas pengacara Wakapolri Budi Gunawan saat memperkarakan KPK itu.

Dalam laporan hasil audit­nya, BPK menemukan pelang­garan hukum dalam proses pengadaan 10 unit mobile crane Pelindo II Tahun Anggaran 2012. Kesimpulan itu diambil BPK setelah menyelesaikan audit perhitungan keuangan negara (PKN) dalam pengadaan pengadaan tersebut.

"BPK menyimpulkan adanya penyimpangan terhadap pera­turan perundang-undangan yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait dalam proses perenca­naan, pelelangan, dan pelaksa­naan kontrak yang mengakibat­kan terjadinya kerugian keuan­gan negara,” ungkap Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Internasional Yudi Ramdan Budiman.

Audit ini dilakukan setelah BPK menerima surat dari Bareskrim Polri pada 3 September 2015 perihal Pemintaan Audit Perhitungan Kerugian Negara Perkara Korupsi PT Pelindo II. Menindaklanjuti permintaan itu, BPK melakukan audit sejak 13 Oktober 2015 hingga 23 Januari 2016.

Yudi mengatakan, hasil audit sudah diserahkan ke Bareskrim. Ia tak bersedia mengungkap­kan jumlah kerugian negara kasus ini. "Tindak lanjut atas laporan audit ini sepenuhnya ada pada Bareskrim. Silakan tanya Bareskrim," elaknya.

Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim, Komisaris Besar Agung Setya mengakui telah menerima lapo­ran audit BPK. "Hasil audit ini merupakan temuan atas per­buatan melawan hukum yang dilakukan tersangka FN dan kawan-kawan," kata Agung.

Ia lalu membeberkan angka kerugian negara kasus ini. "Total kerugian negara atas pengadaan 10 Mobile Crane sebesar Rp 37.970.277.778," sebutnya.

Dengan sudah diterimanya hasil audit BPK ini, penyidik bisa merampungkan berkas perkara tersangka Ferialdy. Menurut Agung, tak lama lagi berkas perkara dilimpahkan ke kejaksaan.

Ferialdy ditetapkan sebagai tersangka sejak 28 Agustus 2015. Penetapan itu disampai­kan dalam Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang dikirim Bareskrim ke Kejaksaan Agung.

Dalam SPDP bernomor R/87/VIII/2015/Dit Tipideksus nama Ferialdy Noerlan dicantumkan dengan inisial FN. Selain dis­idik dalam kasus mobile crane, Ferialdy juga dibidik sebagai pelaku dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Hingga kini Ferialdy tak ditahan.

Kemarin, bekas dirut Pelindo II RJ Lino datang ke Bareskrim untuk menandatangani berita ac­ara pemeriksaan (BAP) dirinya sebagai saksi perkara Ferialdy. "Cuma teken-teken saja kok. Pokoknya saya kalau dipanggil, saya datang," kata Lino.

"Melengkapi berita acara pemeriksan (BAP). Nggak ada apa-apa," timpal Frederich yang juga jadi penasihat hukum Lino. Frederich memastikan Lino kooperatif terhadap penyidikan yang dilakukan polisi.  ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya