Berita

foto:net

On The Spot

Jelang Sidang, Pengurus Yayasan Supersemar Rapat

Meski Kantornya Tampak Sepi
RABU, 16 DESEMBER 2015 | 09:30 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kantor Yayasan Supersemar yang terletak di lantai 4 Gedung Granadi, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan sepi. Dari pintu kaca di depan kantor ini, tidak terlihat karyawan, petugas, atau tamu di lobi.

Di lobi tersebut hanya ada meja resepsionis yang tidak dijaga, dan dua buah sofa keciltem­pat tamu menunggu. Mushalla yang berada di sisi kiri lobi juga dalam keadaan kosong. Hanya beberapa sajadah dan karpet merah terbentang di lantai ru­angan seluas 3x3 meter persegi tersebut.

Masuk ke dalam, koridor kan­tor Yayasan Supersemar juga kosong. Terdapat dua ruangan di sebelah kanan dan kiri koridor. Di dua ruangan awal koridor itu, hanya terlihat tumpukan berkas. Pintu kedua ruangan itu tertutup, dan lampunya dalam kondisi dimatikan.


Agak ke dalam, di sebelah kanan koridor terlihat sebuah lemari. Pada lemari tersebut terdapat beberapa piala yang diperoleh Yayasan Supersemar. Kemudian di seberang rak piala itu, baru tampak 3 orang karyawan Yayasan Supersemar. Para staf bagian umum tersebut masih sibuk bekerja.

Sedangkan para pengurus Yayasan Supersemar mengadakanrapat. Tidak diketahui, apak­ah rapat itu adalah agenda biasa, atau mempersiapkan sidang aanmaning (teguran).

Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel) berencana mengadakan sidang aanmaning, pada 23 Desember 2015 pukul 09.30 WIB. Sidang aanmaning itu dengan ketetapan Nomor 72/Eks.Pdt/2015 junto Nomor 904/Pdt.G/2007/PN.JKT.SEL ter­tanggal 7 Desember 2015. Pada sidang ini, Yayasan Supersemar selaku pihak kalah dalam perka­ra yang telah diputus Mahkamah Agung (MA), dipanggil untuk penetapan perintah eksekusi.

Aanmaning sendiri dilakukan dengan melakukan panggilan pada pihak yang kalah dengan menentukan hari, tanggal dan jam persidangan. Apabila pihak yang kalah tidak hadir, maka akan dipanggil lagi. Namun, apabila tidak hadir lagi, maka hak tergugat untuk dipanggil gugur, dan tidak perlu ada proses sidang peringatan.

"Kemudian ketua pengadilan dapat langsung mengeluarkan surat penetapan perintah ek­sekusi kepada panitera atau juru sita," ujar Kepala Humas PN Jaksel Made Sutrisna di Jakarta, kemarin.

Sutrisna mengatakan, dalam persidangan aanmaning, pihak tergugat akan ditanyakan kesedi­aannya membayar sesuai putusan MA. Made berharap, Yayasan Supersemar akan sukarela mem­bayar tanpa ada upaya paksa.

"Apakah pemenuhan kewa­jiban amar putusan MA itu di­lakukan secara sukarela atau di­lakukan upaya paksa, akan diten­tukan dalam sidang aanmaning.Pengadilan melalui panitera bisa melakukan upaya paksa jika tergugat tak mau melaksanakan amar putusan MA," urai dia.

Namun, saat ditanya, apakahahli waris bekas Presiden Soeharto ikut bertanggung jawab untuk membayar ganti rugi, Made tidak merespon pertan­yaan tersebut.

Sementara itu, Kuasa Hukum Yayasan Supersemar Denny Kailimang memastikan, pihaknya akan menghadiri sidang tersebut. Selain dirinya, Kuasa Hukum Yayasan Supersemar lainnya, Bambang Hartono juga dipasti­kan akan hadir.

"Kalau untuk pengurus yayasansaya belum tahu siapa saja yang akan hadir. Belum ada pemberitahuan tentang itu," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurut Denny, dalam sidang nanti, pihaknya akan kembali menerangkan tentang dana yang dipermasalahkan itu. Pihaknya akan menjelaskan, jika dana itu betul-betul dialokasikan untuk beasiswa. "Karena memang ke­nyataannya untuk pendidikan," imbuhnya.

Selain soal pengalokasian dana, kata Denny, pihaknya juga akan mempertanyakan tentang besaran ganti rugi yang ditetapkan. Pasalnya, ketika awalkasus ini bergulir pada 2008, Kejaksaan Agung (Kejagung) sudah melakukan audit terhadap yayasan tersebut. Sehingga, menurutnya, Kejagung sudah tahu, sejak awal Yayasan Supersemar tidak memiliki dana tersebut.

"Setelah Suharto lengser, ketujuh yayasan miliknya sudah dimonitoring Kejagung. Audit jugasudah dilakukan," jelas dia.

Dia menegaskan, ketika itu audit Yayasan Supersemar dipimpin Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun), Suharjono. Audit yang dilakukan, kata dia, men­cakup kepada aliran dana dari yayasan kepada beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang dipersoalkan kemudian hari. Namun, hal tersebut dianggap tidak melanggar undang undang.

"Lalu setelah reformasi, uang­nya juga ada yang diserahkan kepada negara. Jadi, seharusnya sudah clear," tegasnya.

Terkait posisi keluarga cen­dana dalam kasus ini, Denny yakin tidak akan dikenai ganti rugi. Alasannya, mereka tidak bertanggungjawab atas pengelo­laan yayasan.

"Lalu sesuai putusan MA, Yayasan Supersemar yang harus melakukan ganti rugi. Jadi walah pun ahli waris nanti dipanggil oleh pengadilan, namun tidak untuk melakukan ganti rugi," tuturnya.

Denny pun meminta, negara ikut menanggung konsekuensi putusan MA atas denda Rp 4,4 triliun. Denny mengatakan, hal tersebut merujuk hasil audit kekayaan dan keuangan yang pernah dilakukan kejaksaan terhadap yayasan. Dengan demikian, Yayasan Supersemar bisa dieksekusi secara sukarela.

"Putusan tersebut memang da­pat dijadikan dasar bagi eksekusi sukarela. Namun, lebih baik jika negara ikut menanggung, mengingat sejak awal juga mer­eka tahu dana yang kami miliki jumlahnya jauh lebih kecil dari pada yang dituntut. Kemudian, sebagian dana tersebut sudah digunakan untuk pembiayaan beasiswa," tukasnya.

Denny menambahkan, jika eksekusi sukarela tersebut di­lakukan, maka akan terdapat penghitungan biaya yang harus dibayarkan oleh yayasan serta oleh negara. "Kalau hitungan­nya merujuk ke audit finansial kejaksaan yang dilakukan tahun 1998," tandasnya.

Yayasan Supersemar didirikan awal tahun 70-an dengan tujuan sosial kependidikan. Namun, dalam perjalanannya, dana yang seharusnya untuk membiayai da­na pendidikan rakyat Indonesia itu, diduga diselewengkan.

Dari putusan Mahkamah Agung (MA), kasus ini bermula saat Presiden Soeharto menge­luarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 tahun 1976 yangmenentukan, 50 persen dari 5 persen sisa bersih laba bank negara, disetor ke Yayasan Supersemar. Bermodal PP ini, Yayasan Supersemar sejak 1976 hingga Soeharto lengser, mendap­atkan uang sebesar 420 juta dolar AS dan Rp 185 miliar. ***

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Duel Panas Timnas Indonesia Vs Malaysia, Ini Rekor Statistiknya

Minggu, 27 September 2026 | 02:22

Tak Peduli Teman, Prabowo Tegas Sikat Pencuri Duit Negara

Minggu, 27 September 2026 | 02:02

Di Balik Kemudahan QRIS, Merchant Tetap Wajib Terima Tunai

Minggu, 27 September 2026 | 01:46

Gugatan Denny Indrayana Cs Untungkan Seluruh Parpol di DPR

Minggu, 27 September 2026 | 01:20

Pemerintah Jangan Pukul Rata Evaluasi IUP

Minggu, 27 September 2026 | 01:07

Emas Rahmat Bawa Indonesia Lompat ke Posisi 14

Minggu, 27 September 2026 | 00:35

Kowani Apresiasi Penegasan Menteri Hukum soal SK Kepengurusan

Minggu, 27 September 2026 | 00:17

Rahmat Erwin Abdullah Persembahkan Emas Kedua Indonesia

Minggu, 27 September 2026 | 00:05

Bhayangkari Salurkan 6 Ribu Paket Sembako untuk Warga Aceh

Sabtu, 26 September 2026 | 23:49

Wamenag Protes Keras Pembebasan Bersyarat Bechi Pemerkosa Santriwati

Sabtu, 26 September 2026 | 23:20

Selengkapnya