Berita

ilustrasi:net

On The Spot

Dikumpulkan Di Ketua RT, Paling Besar Dapat Sejuta

Melihat Salah Satu Bank Sampah
KAMIS, 26 NOVEMBER 2015 | 09:21 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sejumlah kali di Jakarta, antara lain Ciliwung, aliran airnya kerap terhambat sampah yang dibuang warga sembarangan, sehingga menimbulkan banjir saat musim hujan. Padahal, sampah bisa menjadi tabungan.
 
Bagi sebagian besar warga Jakarta, sampah merupakan masalah besar. Namun tidak bagi Sri Hartini, salah seorang pengurus Bank Sampah Seruni di Komplek Kostrad, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Pasalnya, sampah yang dikumpulkan Sri Hartini dan kawan-kawannya, justru menjadi tabungan di bank sampah ini.

Tidak ada kegiatan yang men­colok di tempat pengumpulan sampah terpadu ini, pada Selasa sore (24/11) itu. Posisinya yang di tengah-tengah perumahan penduduk, membuatnya sulit diketahui khalayak. Kantornya pun menjadi satu dengan Kantor RW 7, RT 6, Komplek Kostrad, Kelurahan Kebayoran Lama Selatan.


Karena sepi, pintu gerbang ditutup rapat, tapi tidak digem­bok. Bangunannya berbentuk rumah berukuran sekitar 100 meter persegi. Warnanya hijau. Maklum saja, bank sampah ini berada di dalam Komplek Kostrad, TNI Angkatan Darat.

Yang menjadi penanda hanya plang yang tidak terlalu besar di dekat pintu masuk. Tulisannya, "Bank Sampah Seruni". Di dekat pintu masuk, ditempatkan dua tong besar berisi sampah yang sudah dipisahkan. Yaitu, organik dan nonorganik. Masuk lebih dalam, tersedia westafel untuk cuci tangan.

Tak jauh dari situ, ditem­patkan meja panjang lengkap dengan kursi.

Sebuah lemari kaca berukuran besar juga dipajang di teras. Isinya, berbagai macam piala dengan ukuran yang berbeda-beda.

Kantor Bank Sampah Seruni tampak asri, karena halamannya yang tidak terlalu luas itu ditu­mbuhi rerimbunan pepohonan. Di tengah halaman juga terdapat tanaman hidroponik dalam pipa-pipa panjang.

Di pojok kantor, terdapat gu­dang semi permanen yang tidak terlalu besar. Isinya, berbagai macam jenis sampah seperti, kardus dan botol yang sudah ter­tata rapi. "Ini sudah agak kosong karena sudah dijual tadi pagi," kata salah satu pengurus Bank Sampah Seruni, Sri Hartini.

Wanita paruh baya ini men­gaku sudah empat tahun melako­ni bisnis sampah ini. "Saya tidak sendirian, tapi bareng-bareng sa­ma ibu-ibu satu RW. Lumayan, bisa membantu perekonomian keluarga," kata dia.

Jumlah anggota bank sampah ini, lanjut dia, sekitar 70 war­ga setempat. "Sampah tidak langsung diserahkan ke kami. Tapi, mereka mengumpulkannya terlebih dahulu kepada ketua RT masing-masing hari Jumat, bersamaan acara Juru Pemantau Jentik atau Jumantik," katanya.

Kemudian, sampah yang ter­kumpul di setiap RT baru dijual ke bank sampah sebulan sekali. Kalau ada warga yang secara pribadi ingin menjual langsung juga bisa, waktunya pun sama, sebulan sekali. "Tapi jarang, karena sudah dikoordinir 14 RT di komplek ini," ucap Sri.

Warga yang menjual langsung ke bank sampah, biasanya hanya beberapa kilogram. "Kalau dik­oordinir RT, bisa satu kwintal lebih setiap bulannya," kata Sri.

Tidak semua sampah diterima. Wanita kelahiran Ambarawa, Jawa Tengah ini menyebut, hanya sampah bernilai ekono­mis yang diterima. Sampah bernilai ekonomis itu antara lain botol plastik air mineral, kardus, botol beling, besi dan kaleng aluminium. Sampah ini akan dilebur pabrik, antara lain menjadi bijih plastik, bijih besi, bijih aluminium dan bubur kar­dus. "Yang paling mahal kaleng aluminium, Rp 10 ribu per kilo­gram," jelas Sri.

Warga yang menjual sampah, lanjut Sri, biasanya tidak lang­sung mengambil uangnya, tapi ditabung dulu di bank sampah. "Kalau butuh, baru diambil," ujarnya.

Selanjutnya, sampah yang ter­kumpul di bank sampah, akan di­beli pengepul. "Setiap satu bulan sekali, diambil pengepul, paling sedikit setengah ton," kata dia.

Namun, lanjutnya, jumlah uang yang didapat bank sampah dari pengepul tidak begitu besar. "Paling besar kami dapat Rp 1 juta, paling sedikit Rp 500 ribu setiap bulan," tutur Sri.

Apalagi saat musim hujan ini, kata dia, nilainya jatuh sekali. "Sekarang malah cuma Rp 400 ribu," katanya.

Secara pribadi, Sri juga punya tabungan di bank sampah ini. Tabungan terakhirnya sebesar Rp 165 ribu. "Tapi kemarin sudah saya ambil semua untuk keperluan rumah tangga," ka­tanya malu-malu.

Kebanyakan warga, menurut Sri, mengambil tabungannya set­ahun sekali. Uangnya untuk jalan-jalan satu komplek. "Ibaratnya uang tiban dari sampah, untuk senang-senang saja," katanya bersambung tawa.

Di akhir pembicaraan, Sri berharap kepada Kementerian Lingkungan Hidup yang su­dah mengajari membuat bank sampah, memberikan pendamp­ingan lagi agar hasil yang dida­pat warga menjadi besar. "Kami ingin mendapat masukan ba­gaimana sampah yang dikelola bank sampah, bisa menghasilkan uang yang besar," harapnya.

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Muhammad Sanusi me­nilai, kehadiran bank sampah be­lum menjadi solusi efektif untuk mengatasi sampah di Jakarta.

Pasalnya, menurut dia, saat ini bank sampah hanya mampu menangani lima persen dari per­masalahan sampah yang ada. "Bank sampah hanya menerapkan daur ulang, menggunakan kem­bali dan mengurangi. Bukan solusi jangka panjang, karena daya serap­nya yang rendah," kata Sanusi.

Salah satu cara cukup efektif yang perlu dilakukan Pemprov DKI Jakarta, lanjutnya, adalah membuat pengelolaan sampah terpadu di enam wilayah DKI, yakni Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Kepulauan Seribu.

"Tapi, saya lihat belum ada upaya serius dari pemerintah membangun pengelolaan sampah terpadu. Sepertinya pemerintah lebih suka cara konvensional, membuang langsung ke Bantar Gebang," kata dia. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya