Berita

Ilustrasi/net

NGO Gunakan Isu Lingkungan untuk Habisi Sawit Indonesia

SENIN, 05 OKTOBER 2015 | 15:52 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Produksi minyak kedelai sebagai minyak nabati nomor satu dunia terancam ketika produksi minyak kelapa sawit meningkat pesat, terutama di Indonesia. Tak heran bila negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, sebagai produsen utama minyak kedelai, merasa terusik dan mulai menggalang non-governmental organization (NGO) untuk berkampanye menolak minyak sawit.

‎Pembina Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Maruli Gultom, membongkar kampanye hitam yang dilakukan NGO untuk "membunuh" produksi kelapa sawit, yaitu dengan membawa isu lingkungan, misalnya dengan isu pemanasan global dan perubahan iklim.

‎Maruli menjelaskan, penyebab terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim adalah terciptanya Gas Rumah Kaca (GRK). GRK terbentuk antara lain oleh banyaknya polusi karbon (C02) yang dihasilkan oleh emisi industri, alat transportasi, dan pembangkit listrik. Sekitar 65 persen emisi berasal dari hanya 10 negara kaya, termasuk China. 

‎GRK yang terbentuk semakin lama semakin tebal, menghalangi dipancarkannya kembali panas yang diterima bumi dari matahari, keluar atmosfir. Karena panas dari matahari tidak dapat dipancarkan kembali keluar atmosfir, suhu bumi meningkat, atau yang dikenal dengam global warming. Meningkatnya suhu bumi mengakibatkan perubahan iklim, atau climate change.‎ 

‎"Berbicara masalah perubahan iklim dan pemanasan global, dengan sengaja NGO membelokkan persoalan kepada masalah penebangan hutan atau deforestrasi dunia, khususnya hutan hujan tropis di Indonesia dan Amerika Latin. Hutan dibutuhkan untuk menyerap polusi karbon dan memproduksi oksigen," kata Maruli dalam keterangan beberapa saat lalu (Senin, 5/10). 

‎"NGO menyerang dan menuduh Indonesia hingga 2006 telah menggunduli 75 juta hektar hutan tropisnya," sambung Maruli, yang tidak punya sejengkal pun kebun sawit tapi membela sawit demi Indonesia.‎ 

‎"Aneh tapi nyata, dalam konteks climate change NGO menyerang Indonesia dengan isu hutan namun tidak mempersoalkan penyebab climate change itu sendiri, yakni polusi karbon yg dihasilkan oleh negaranya sendiri, atau Eropa dan AS," sambung Maruli. 

‎Maruli menilai, NGO berhasil menyesatkan publik dunia dan Indonesia terkait masalah pemanasan global dan perubahan iklim. NGO itu fokus membicarakan hutan dan melupakan polusi karbon. NGO juga sibuk membicarakan akibat, yaitu kebutuhan akan hutan penghisap polusi karbon, dan melupakan penyebab, yaitu  karbon. 

‎"Setelah merasa berhasil menghitamkan persepsi dunia terhadap produksi minyak sawit (CPO), pada tanggal 5 Oktober 2006 Parlemen Eropa mengusulkan pelarangan (ban) penggunaan CPO sebagai bahan baku biodiesel. International Food and Agriculture Trade Policy Council, Washington, dimana H.S. Dillon duduk mewakili Asia, sebagai salah satu councelor, menilai bahwa tindakan parlemen Eropa tersebut. tidak ada kaitannya dengan usaha pelestarian lingkungan. Alasan logisnya tidak lain hanyalah untuk proteksi terhadap produk domestik dan energy security," jelas Maruli. 

‎Sebelumnya, Maruli menilai kesepakatan dua negara produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia, Indonesia dan Malaysia, sebagai sebagai langkah yang bagus untuk menghadapi perang energi, terutama yang menggunakan bahan bakar nabati. Bukan rahasia lagi, sejak beberapa dekade belakangan ini, negara-negara Barat yang terganggu dengan produksi CPO Indonesia dan Malaysia melancarkan kampanye hitam anti-sawit. ‎

‎Menurut Maruli Gultom, kerjasama Indonesia, melalui Menteri Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli bersama Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Sofjan Djalil, dengan Malaysia, melalui Menteri Industri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, Datuk Amar Douglas Uggah Embas, merupakan wujud nyata dalam membela eksistensi produk unggulan kedua negara di pasar dunia. 

‎ Keberhasilan Indonesia merangkul Malaysia, sebutnya, sangat strategis dalam membangun kekuatan untuk menghadapi gerakan anti-sawit. [ysa] ‎

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

DPR Minta Evaluasi Perlintasan Usai Insiden Tabrakan Argo Bromo-KRL

Selasa, 28 April 2026 | 00:15

KRL Sempat Menabrak Taksi Sebelum Diseruduk KA Argo Bromo

Selasa, 28 April 2026 | 00:04

Kedaulatan Data RI jadi Sorotan di Tengah Gejolak Geopolitik

Senin, 27 April 2026 | 23:46

Tim SAR Berjibaku Evakuasi Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur

Senin, 27 April 2026 | 23:24

Kereta Argo Bromo Tabrak KRL di Bekasi Timur, KAI Masih Investigasi

Senin, 27 April 2026 | 23:10

Heboh Anggaran Baju Dinas Pemprov Sumsel Tembus Rp3 Miliar

Senin, 27 April 2026 | 22:30

Kuasa Hukum Thio: Jangan Korbankan Terdakwa Atas Kesalahan Negara

Senin, 27 April 2026 | 22:28

Rocky Terkekeh Dengar Candaan Prabowo Soal “Disiden” di Istana

Senin, 27 April 2026 | 22:11

Kejati Sumut Geledah Kantor Satker Perumahan Usut Dugaan Korupsi Proyek Rusun

Senin, 27 April 2026 | 22:11

KAI Fokus Evakuasi Penumpang di Stasiun Bekasi Timur

Senin, 27 April 2026 | 22:06

Selengkapnya