Berita

Bambang Sadono/net

Indonesia Butuh Konsep Pembangunan Menyeluruh dan Berkesinambungan

RABU, 29 JULI 2015 | 11:07 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Konsep pembangunan di bawah pemerintahan Jokowi-JK tidak mengundang banyak masalah. Hanya saja ada sedikit kesulitan dalam mensinergikan pembangunan berdasar visi misi Presiden dari pusat sampai daerah. Ini mengingat antara Presiden dan kepala daerah memiliki perbedaan visi misi.

Begitu kata Ketua Badan Pengkajian MPR Bambang Sadono saat menjadi keynote speaker di acara Seminar Nasional di Balai Sidang Universitas Indonesia di Kampus UI Depok, Jawa Barat, Rabu (29/7).

Seminar yang diselenggarakan Badan Pengkajian MPR bekerjasama dengan Institute of Leadership Development (iLeaD) UI ini diikuti sekitar 250 mahasiswa dari UI dan mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia.


Menurut Bambang, salah satu tujuan seminar nasional ini adalah untuk mendapatkan masukan mengenai konsep pembangunan yang bersifat menyeluruh, berkesinambungan, dan didukung oleh seluruh rakyat Indonesia.

"Kalau konsep pembangunan sekarang ini yang membuat DPR. Dengan demikian tingkatnya UU. Kalau mau diangkat lebih tinggi lagi, yang membuat konsep pembangunan itu diserahkan ke MPR, dan ini akan jadi masalah juga nama produknya apa?" ujarnya.

Kalau dulu, tambah Bambang, yang menugaskan MPR menyusun konsep pembangunan (GBHN) itu adalah UUD. Namun sekarang, setelah MPR tidak lagi sebagai lembaga tertinggi negara, UUD tidak lagi menugaskan MPR menyusun konsep pembangunan.

"Untuk itulah melalui seminar nasional ini kita mengolah dan mengkaji apakah kita membutuhkan konsep pembangunan nasional model GBHN ini memang diperlukan," ujar Bambang Sadono, yang kemudian membuka resmi seminar nasional ini.

Seminar nasional di UI menampilkan sejumlah narasumber pakar hukum tatanegara dari UI seperti Prof. Dr. Satrio Arinanto, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Dr. Arief Munandar. Dihadiri juga oleh Rektor UI Prof. Dr. Mohammad Anis, dan Anggota MPR antara lain Okky Asokawati (Fraksi PPP), dan Aryo Djojohadikusumo (Fraksi Gerindra). [rus]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya