Berita

Hukum

Senayan Tetap Desak Polisi Kejar Aktor Intelektual Insiden Tolikara

JUMAT, 24 JULI 2015 | 20:34 WIB | LAPORAN:

. Dari sepekan penelusuran fakta, banyak hal yang sudah terungkap dibalik peristiwa Tolikara, Papua. Untuk itu, aparat penegak hukum didesak menelusuri aktor intelektual dibalik peristiwa itu.

"Banyak fakta yang telah terungkap, diantaranya adanya surat edaran pelarangan ibadah yang tersebar beberapa hari sebelum kejadian," terang anggota Komisi III DPR RI, Aboe Bakar Al Habsyi saat dikontak, Jumat (24/7).

Politisi PKS itu juga menyebut  adanya surat pelarangan tersebut telah diakui dikeluarkan oleh pihak GIDI. Ini merupakan salah satu indikasi penyerangan dan pembakaran tersebut dilakukan secara terencana dan sistematis. Apalagi ada indikasi keterlibatan asing dalam persoalan ini sebagaimana disampaikan kepala BIN dan BNPT dalam berbagai media.


Dia pun meminta polisi untuk jangan hanya menindak para pelaku di lapangan saja, tetapi harus juga mengusut tuntas siapa saja yang merencanakan, mendanai dan memberikan dukungan terhadap penyerangan dan pembakaran masjid tolikara.

"Saya mengapresiasi ketegasan Kapolri yang langsung menyebut para pelaku penyerangan dann pembakaran tersebut sebagai pelanggar konstitusi. Namun saya harap Polri terus melakukan pengusutan tuntas aktor intelektual dibalik insiden Tolikara. Ini sekaligus akan menunjukkan adanya kedaulatan hukum yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia,” tambahnya.

Abu Bakar sendiri  menilai setidaknya ada tiga tindak pidana yang mereka lakukan. Pertama melakukan pelarangan beribadah kepada ummat Islam, kedua melakukan penyerangan terhadap ummat Islam yang sedang shalat ied dan ketiga adalah pembakaran rumah ibadah.

Bahkan ada lembaga swadaya masyarakat yang mengkategorisasikan hal itu sebagai tindakan pelanggaran HAM berat. Karenanya, aparat kepolisian harus segera menjalankan tugasnya untuk melakukan penegakan hukum.

"Segera tangkap dan proses mereka secara hukum, jangan sampai masyarakat melihat polisi hanya berlaku tegas terhadap FPI saja,” demikian Aboe Bakar. [sam]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Menhan Sjafrie-Dubes Maroko Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:11

Kompensasi Uang Bau TPST Bantar Gebang Molor

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:01

DJP: Sistem Sudah Siap Pungut Pajak Pedagang Online Mulai 1 Juli

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:25

GMNI Dorong Efisiensi APBN Berorientasi Kesejahteraan

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:12

CBA Ancam Laporkan KPK ke Dewas soal Suap Impor Bea Cukai

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:00

Der Panzer Rontok, Bangsa yang Pernah Hampir Punah Justru Melaju

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:34

Erling Haaland Bawa Norwegia Tantang Brasil

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:22

Ini Alasan Upacara Hari Bhayangkara Digelar di Satlat Brimob Polri Cikeas

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:00

Sanksi Partai Tak Bisa Gantikan Proses Hukum Kasus Dokter Icha

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:41

Selengkapnya