Berita

rachmawati soekarnoputri/net

Mbak Rachma: Ada Apa dengan Mudik?

SELASA, 21 JULI 2015 | 20:15 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Data dari kepolisian telah menunjukkan bahwa sebanyak seribu jiwa lebih meninggal akibat kecelakaan saat mudik Lebaran.

Menanggapi hal itu, putri pendiri bangsa Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri mempertanyakan siapa pihak yang harus bertanggung jawab atas musibah lalu lintas tersebut.

"Apa yang terjadi dengan orang Indonesia? Siapa yang tanggung jawab? Bagaimana dengan orang yang mendorong gerakan "Ayo Mudik Gratis? Maukah tanggung jawab? Menanggung pengobatan dan biaya-biaya lain, seperti pemakaman? Bagaimana pemerintah? Jangan hanya mau dibilang 'sok sosial' tanpa melihat dampak sosialnya," ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu (Selasa, 21/7).


Mbak Rachma, begitu ia disapa, juga mempertanyakan arti mudik yang sesungguhnya bagi rakyat Indonesia. Ia juga menyayangkan langkah Presiden Joko Widodo yang turut memberi contoh mudik ke Solo kepada rakyat.

Lebih lanjut, ia mencoba membandingkan dengan suasana Lebaran semasa Presiden Soekarno. Menurutnya, saat itu tidak ada euforia yang berlebih. Lebaran dijalankan dengan sederhana, namun tetap penuh khidmat dan tertib.

"Tidak ada saat itu manusia yang berlomba berdesak-desakan dan tidak menghiraukan keselamatan, anak-anak dibiarkan kena angin dan kepanasan. Bahkan saat ini karena tidak mau kalah berpartisipasi mudik, masyarakat sudah kehilangan rasionalitas. Meraka rela menggunakan truk terbuka, odong-odong, bemo, dan sepda motor untuk mudik sekeluarga," sambung politisi senior itu.

Selain era Soekarno, Mbak Rachma juga membandingkan dengan negara yang mayoritas berpenduduk muslim. Menurutnya, di negara-negara itu tidak ada yang disebut dengan mudik massal. Terlebih, dampak mudik massal tidak sedikit, seperti angka kriminalitas yang meningkat, anak-anak yang tersiksa dan terjepit, antrian yang sangat melelahkan di jalan, dan pemborosan BBM.

"Ada apa sebetulnya dengan orang Indonesia mau berbuat demikian? Pemerintah juga malah mendorong masyarakat berbondong-bondong exodus dan kembali lagi dengan membawa segudang persoalan baru. Datang dengan urbanisasi baru yang menjadi PR kompleks," tandas pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) tersebut. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya