Berita

Hukum

Adhie Massardi: Pansel KPK Dikira Panitia Ibu-ibu PKK

JUMAT, 05 JUNI 2015 | 10:39 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Kebiasaan Presiden Joko Widodo tidak membaca dokumen yang ditandatanganinya, dan tidak memahami substansi teks yang dibacanya di ruang publik, menambah keanekaragaman masalah dalam rimba persoalan bangsa Indonesia.

Tapi, sebagaimana diungkapkan Adhie M Massardi kepada Kantor Berita Politik RMOL di Jakarta siang (6/5) ini, sejumlah kesalahan Joko Widodo, bahkan soal pembagian traktor kepada para petani yang ternyata diambil lagi karena bermasalah, belum terlalu mengganggu.

Bahkan kesalahan menandatangani Keppres (keputusan presiden) soal kenaikan jatah uang muka cicilan mobil para pembesar negara, atau pidato presiden dalam seremoni peringatan Konperensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tempo hari, yang mengecam World Bank dan IMF seraya tetap mempertahankan kedua lembaga keuangan dunia itu sebagai sumber utang negara, tidak terlalu mengganggu kehidupan ketatanegaraan, dan hanya jadi isu lucu-lucuan di masyarakat.


Persoalan mulai agak fatal ketika dalam peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni (2015) di Blitar, Presiden Joko Widodo membaca teks yang berbunyi: "Setiap kali saya berada di Blitar, kota kelahiran proklamator kita, Bapak Bangsa kita, Bung Karno, hati saya selalu bergetar...!"
 
Agak fatal karena dalam konteks pidato dengan teks ini, Blitar episentrum bergetarnya hati sang presiden, karena kota di Jatim ini (dianggap) tempat kelahiran tokoh yang melahirkan fondasi bangsa (Pancasila). Maka ketika Blitar ternyata bukan tempat kelahiran Bung Karno, bisa dipastikan yang berguncang dalam dada Joko Widodo adalah "getaran palsu" atau dalam istilah sekarang: getaran plastik!

Yang tampaknya bakal berdampak sangat fatal adalah "kesalahan" Presiden Joko Widodo menandatangani Keppres Pansel KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang terdiri dari 9 orang dan seluruhnya perempuan.

"Saya menduga Presiden Joko Widodo dikelabui orang-orang di sekitarnya. Terutama arsitek pembentuk Pansel KPK itu. Jangan-jangan presiden main tandatangan karena ini keppres Pansel KPK itu dikira untuk panitia nasional penggerak ibu-ibu PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) yang memang domainnya kaum perempuan," ujar koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB.) ini.

"Bukan mustahil perancang pansel KPK ini bilangnya kepada presiden sebagai panitia nasional PKK, yang selintas bunyinya mirip KPK. Ini harus ada penjelasan serius, karena pemberantasan korupsi merupakan agenda sangat serius bagi bangsa Indonesia. Bukan agenda main-main," katanya.

"Makanya, apabila Sukardi Rinakit, pembuat teks pidato Joko Widodo di Blitar kemarin itu sudah mengakui kesalahannya, kini kita tunggu pengakuan kesalahan perancang (nama-nama) panitia seleksi pimpinan KPK yang kontroversial itu," pungkas Adhie M Massardi. [ysa]

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

UPDATE

Kejagung Pede Hadapi Febrie di Sidang Praperadilan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:27

Gebrakan PAM Jaya Tekan Kebocoran Air Diapresiasi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:19

FEB UNJ Dukung Pariwisata Berkelanjutan di Bali Lewat Pengabdian Masyarakat

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:01

Danantara Investasi Rp44 Triliun di JBS Group

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:01

Anggota PWI Jakbar Laporkan Oknum Polisi ke Propam Polda Metro, Ini Sebabnya

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:47

Bawaslu Campus Connect Jadi Solusi Tantangan Digital di Pemilu

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:28

Publik Curiga UGM Melindungi Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:17

Febrie Adriansyah Siap Buka-bukaan di Sidang Praperadilan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:02

Gedung Bapenda DKI Kebakaran

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 00:32

Pemerintah Diultimatum 15 Hari Terbitkan PP Cukai MBDK

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 00:13

Selengkapnya