Berita

jk/net

Sudah Seharusnya JK Tak Terlibat Kocok Ulang Kabinet

MINGGU, 24 MEI 2015 | 15:57 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Pengamat ekonomi politik dari Universitas Bung Karno (UBK) Gede Sandra meluruskan kecurigaan dari pihak kantor Wakil Presiden tentang adanya upaya sistematis untuk memisahkan Jokowi dengan JK.

"Tidak ada yang ingin memisahkan Wapres dan Presidennya, semua juga ingin program pemerintah segera berjalan," ujar Gede kepada Kantor Berita Politik RMOL.

"Yang terjadi saat ini adalah berkembang kecurigaan publik terhadap terlalu mendominasinya peran orang-orang di lingkaran Presiden, seperti wapresnya dan para oligarkis partai lainnya," sambung dia.


Penegasan Gede ini disampaikan untuk menanggapi pernyataan Jurubicara JK, Husain Abdullah. Husain menilai Gede tengah berupaya memisahkan Jokowi dengan JK. Gede berpendapat JK tidak perlu memberikan masukan bila Jokowi hendak me-reshuffle kabinet, terutama menteri bidang ekonomi. Gede beralasan tim ekonomi Kabinet Kerja yang ada saat ini, yang menurut banyak kalangan telah gagal, merupakan tim JK. Karena terbukti gagal, JK harus bertangung jawab dan karenanya tidak perlu lagi mengusulkan.

Beredar informasi, kocok ulang menteri bidang ekonomi akan dilakukan terhadap Menko Perekonomian dan Menteri BUMN. Menko Perkonomian Sofyan Djalil yang tak lain adalah orang dekat JK, kabarnya akan diganti oleh Darmin Nasution, yang juga usulan JK. Sementara Sofyan Djalil akan dipindahkan mengisi menteri BUMN, Rini Sumarno tidak akan dipakai lagi mengingat sudah rendahnya dukungan dari Megawati.

JK sangat berpengalaman. Namun demikian Gede berpandangan ke depan JK harus kurangi manuver. Pekerjaan seorang wapres di negeri manapun hanya dua; pertama menghadiri undangan dari parlemen, DPR atau DPD, dan menghadiri undangan kekeluargaan untuk Presiden, semisal acara pesta kelahiran, perkawinan, dan kematian.

"Jika benar-benar ingin membantu Pak Jokowi, mohon maaf sekali lagi tugas Wapres bukanlah ikut menyodorkan nama menteri. Karena hak menentukan para menteri mutlak ada di tangan Presiden Jokowi," katanya.

Terkait klaim pertumbuhan ekonomi yang baik di saat pemerintahan SBY, apakah saat JK ataupun saat Boediono jadi wapresnya, Gede yang juga ekonom muda lulusan FEUI menyatakan bahwa pada era itu  pertumbuhan ekonomi banyak ditunjang oleh boom harga komoditi dunia. Sehingga, setelah harga komoditi jatuh selama tiga tahun terakhir akibat perlambatan ekonomi di Eropa dan belum pulihnya perekonomian AS, maka terjadilah defisit pada berbagai indikator makro ekonomi Indonesia dalam tiga tahun terakhir, yang sering disebut sebagai kwartet defisit di anggaran, yakni neraca perdagangan, neraca pembayaran, dan transaksi berjalan.

"Artinya para ekonom yang memimpin di pemerintahan juga gagal melakukan reformasi struktural, buktinya ekonomi Indonesia masih tergantung pada naik turunnya harga komoditi bahan mentah. Sementara pada era SBY memerintah, indeks ketimpangan sosial juga naik cukup tinggi, yang ditunjukkan oleh rasio gini yang meningkat dari 0,32 ke 0,43. Jadi apa kerja para ekonom di era SBY bila keadilan sosial terlupakan? ," tutup Gede.[dem]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya