Ramai diperbincangkan Presiden Joko Widodo harus mencopot Sofyan Djalil dari posisi sebagai Menko Perekonomian karena terbukti tidak cakap membuat kebijakan ekonomi.
Suara agar Sofyan Djalil dicopot tak hanya disampaikan elit partai politik, tapi juga kalangan akademisi.
Analis politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Mohammad Nabil, mengatakan Sofyan Djalil merupakan satu dari beberapa menteri Kabinet Kerja yang layak diganti.
"Saya kira menteri yang performanya terlalu datar seperti Sofyan Djalil memang perlu direshuffle," kata dia dalam perbincangan dengan
Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (14/5).
Menurut dia kinerja Sofyan Djalil memimpin kebijakan ekonomi Kabinet Kerja tidak cukup baik alias berapor merah. Jika menggunakan skor penilaian dari 1 hingga 10, Sofyan Djalil mendapat skor 5.
"Dari awal posisi Sofyan Djalil memang kurang pas sebagai Menko Perekonomian," imbuhnya.
Nabil sependapat dengan suara-suara yang ramai disampaikan banyak pihak, bahwa Presiden Jokowi juga harus mencopot Menteri BUMN Rini Soemarno. Menurutnya, kinerja menteri Rini sama buruknya seperti Sofyan Djalil.
"Rini (Soemarno) terlalu banyak kontroversinya, dan dia malah jual-jual BUMN. Saya kira dia memang layak dilempar (dari kabinet)," paparnya.
Sejauh ini nama mantan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution disebut-sebut dalam perbincangan di kalangan aktivis sebagai kandidat kuat pengganti Sofyan Djalil.
Namun karena mendapat dukungan besar dari Wapres Jusuf Kalla, Sofyan Djalil disebut-sebut masih akan tetap berada di kabinet, diplot mengisi kursi Menteri BUMN yang kosong setelah Rini Soemarno tidak lagi dipakai seiring melemahnya dukungan dari PDIP, terutama dari ketua umum Megawati Seokarnoputri.
Menanggapi itu, Nabil berpendapat kurang tepat jika pada akhirnya Jokowi mengangkat Darmin sebagai Menko Perekonomian.
Selain terkait kemampuan makro ekonomi yang lemah, Darmin sebagaimana pengakuan terpidana suap M. Nazaruddin kepada penyidik KPK, terlibat korupsi pembangunan gedung pajak senilai Rp 2,9 triliun.
Di tengah kondisi perekonomian saat ini, Menko Perekonomian harus diisi oleh orang yang bukan hanya paham dan menguasai permasalahan-permasalahan ekonomi, tetapi juga mampu mengatasinya.
Lebih penting lagi, dia memiliki komitmen dan pembelaan yang jelas terhadap nasib dan kesejahteraan rakyat.
Menurut Nabil, hanya ada dua nama yang memenuhi kriteria tersebut, yakni ekonom senior yang juga Menko Perekonomian pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, Rizal Ramli dan ekonom senior Ichanuddin Noorsy.
"Dua nama ini layak menggantikan Sofyan Djalil," tukas Nabil.
[dem]