Berita

Diduga Gelapkan Pajak, Pengusaha Asal Singapura Akan Dilaporkan ke Polisi

SELASA, 05 MEI 2015 | 15:22 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pengusaha asal Singapura Kuah Geok Khim akan dilaporkan ke kepolisian. Pendiri sekaligus Presiden Direktut PT Trackpare (TRP) itu diduga telah menggelapkan dan memanipulasi pajak senilai Rp 11 miliar.

PT Trackpare menjual sparepart alat-alat berat dengan mengimpor dari perusahaan Kuah di Singapura melalui beberapa perusahaan antara lain PT Boltindo.

"Jadi barang diimpor dari Singapura melalui PPJK (Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan), tidak dilakukan oleh PT Trackspare, tetapi oleh beberapa perusahaan antara lain PT Baltindo. Nah, PT Baltindo yang dimintai SPT oleh petugas pajak, karena dianggap belinya langsung dari Singapura, sementera PT Trackpare tidak" kata Marihot Siahaan dari kantor Law Firm MT & Associates dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Selasa (5/5).


Bahkan, kata Marihot, Kuah Geok Khim selaku Presiden Direktur PT Trackpare juga telah memanipulasi pajaknya tahun 2004 sampai dengan 2012 dengan mengkambing-hitamkan pegawainya bernama Linda Susiani Handijanto (LSH) dan Syarifuddin (Syf). Saat ini Marihot menjadi penasihat hukum LSH.

"Setiap bulan TRP melaporkan SPT masa PPN. Pada masa Januari 2004 sempai dengan Mei 2010 ditandatangan oleh LSH dan Juni 2010 sampai Desember 2012 ditandatangani Syarifuddin. Padahal LSH hanya seorang marketing," katanya.

Akibatnya LSH dan Syf dijadikan tersangka tindak pidana pajak oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPN) Ditjen Pajak. "LSH dan Syf dijadikan tersangka berdasarkan pemeriksaan TRP oleh Ditjen Pajak dan ditemukan pemalsuan dokumen faktur pajak," katanya.

Anehnya, belakangan terjadi perubahan status tersangka dan jumlah pidana pajak yang disangkakan. Syf tidak lagi menjadi tersangka dan tetap beberja di TRP, sementara LSH tetap dijadikan tersangka dan tidak lagi bekerja di TRP sejak Mei 2010.

"Menurut informasi penyidik pajak Aries Sutopo, Bevri Dwiputra dan Indra Fajar, bahwa pidana pajak yang disangkakan kepada LSH dan Syf pada awalnya semulah Rp 11 miliar, kemuddian berubah drastis jadi Rp 440 juta," katanya.

Marihot mempertanyakan hal ini karena tanpa ada alasan yang jelas Syf dibatalkan status tersangka, dan LSH tetap jadi tersangka, termasuk penurunan sangkaan pidana pajaknya.

"Kita sudah kirim surat ke Direktul Inteldik, mereka (Ditjen Pajak) tidak bisa menjawab. Itu kesalahan penyidik sebelumnya bernama Hendri Sinaga. Kabar terbaru, katanya Kuah Geok Khim, Presiden Direktut PT Trackpare ditetapkan sebagai tersangka," katanya.

Karena itu, Marihot mengaku akan melaporkan kasus ini ke Bareskim Mabes Polri dalam waktu dekat terkait perbedaan hasil pemeriksaan pidana pajak dari Rp 11 miliar menjadi Rp 400 miliar untuk diperiksa secara benar.

"Kita akan segera laporkan ke Mabes Polri agar diperiksa secara benar, termasuk dugaan keterlibatan oknum pegawai Ditjen Pajak karena klien kami dikorbankan. Bagaimana klien kami seorang staf marketing dipaksa diberi surat kuasa untuk menandatangani SPT dan faktur pajak, mestinya yang bertanggungjawab adalag Kuah Geok Khim," katanya.

Saat ini, Kuah Geok Khim berada di Singapura sejak kasus tersebut merebak untuk menghindari diri dari kejaran aparat hukum di Indonesia.

"Kuah Geok Khim tidak punya NPWP," kata Marihot yang juga Ketua bidang Hukum dan Advokasi Gerakan Reskeu (Revolusi Sistem Keuangan Negara Indonesia) ini.

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Saham BMW Menguat di Tengah Kerja Sama Qualcomm

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 12:21

1,49 Juta Penerima Bansos Terindikasi Judol Ditangguhkan, Begini Cara Cek Penerima Agustus 2026

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 11:24

Karhutla Kerap Terjadi di Lokasi Sama, Kemenhut Diminta Perkuat Mitigasi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 11:17

Emas Antam Terbang Rp40.000, Dekati Harga Rp2,7 Juta per Gram

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 11:08

Tailan Perketat Aturan Senjata Usai Penembakan Sekolah Tewaskan 8 Orang

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 10:53

Lewat AI Innovator University, UNSIA Janji Hadirkan Pendidikan Merata di Indonesia

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 10:43

Laporan FAO: Konflik Teluk hingga El Nino Pemicu Lonjakan Harga Pangan Global

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 10:26

DPR Dukung Kepala BGN Tindak Lanjuti Temuan 6 Juta Data Ganda Penerima MBG

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 10:17

Sinopsis Film Thriller Terbaru The Last House di Netflix

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 10:09

Komisi III DPR Minta Polisi Transparan Usut Temuan 995 Senpi di Sekolah Pondok Pinang

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 10:01

Selengkapnya