Berita

ILUSTRASI/NET

Publika

Riedl Gagal, PSSI Lebih Gagal

JUMAT, 28 NOVEMBER 2014 | 07:11 WIB

PASCA kekalahan Timnas Indonesia atas Filipina 4-0, bisa dibilang sudah tidak ada lagi harapan "Indonesia Juara AFF 2014" yang muncul di kepala masyarakat Indonesia.  Ucapan penuh harap tersebut berganti menjadi kritik tajam. Mulai kritik kepada Pemain Timnas, Alfred Riedl, sampai kritikan kepada PSSI sebagai induk sepakbola tanah air.

Berlebihankah respon masyarakat itu? Saya kira tidak juga. Banyak hal yang menjadikan kritik-kritik tersebut dikatakan wajar dan pantas.

Mulai dari lawan yang menghancurkan Indonesia kemaren, Filipina. Negara yang lebih terkenal dengan olahraga Basket-nya tersebut faktanya tidak pernah menang dari Indonesia sejak tahun 1958. Bahkan bisa dibilang Filipina merupakan "makanan empuk" untuk Indonesia di berbagai ajang. Kemenangan 5-1 sampai 13-1 pun menjadi hal yang pernah dan biasa didapatkan Indonesia dari negara asal petinju Manny Pacquiao tersebut. Tapi yang terjadi kemaren, Indonesia dipermalukan secara permainan dan hasil, telak 4-0 kita dibantai.


Selain itu, mulai terdengar kembali kritik kepada Pelatih Alfred Riedl. Ada dua hal disini yang menjadi sorotan. Pertama Riedl dinilai gagal menampilkan Permainan atraktif timnas seperti 2010 dulu dan bisa dipastikan gagal memenuhi target juara AFF. Kedua, komposisi pemain pilihan Riedl menjadi sorotan tajam. Mulai dari usia skuad timnas yang dinilai terlalu tua dan tidak dimainkannya Evan Dimas di dua pertandingan yang sudah dijalani Timnas. Selanjutnya, tidak dicantumkannya pemain-pemain yang dinilai layak menghuni skuad timnas seperti Bustomi, Bayu Gatra, hingga Ferdinand Sinaga sang pemain terbaik ISL.

Sedangkan untuk PSSI, banyak pihak yang langsung bersuara tentang "mafia bola" di dalam tubuh PSSI. Merekalah yang dinilai banyak masyarakat sebagai penyebab hancur dan berantakannya Timnas Indonesia di AFF 2014 ini. Selain itu, penyelenggaraan ISL yang dinilai sangat buruk musim ini, berdampak kepada penampilan Timnas. Kritik tentang Liga ini selain disampaikan oleh masyarakat, juga dilontarkan oleh Alfred Riedl. Tentunya Pembinaan pemain juga menjadi titik fokus kritik kepada PSSI yang dinilai tidak punya masterplan yang jelas.

Khusus untuk pembinaan pemain, saya rasa PSSI harus benar-benar serius menanggapi kritik ini. Karena memang kenyataannya PSSI tidak punya program yang benar-benar jelas. Kenapa PSSI tidak mencoba membuat blueprint pembinaan pemain yang jelas guna membentuk Timnas yang kuat. Kita bisa ambil contoh Belgia, setelah gagal total di piala Eropa 2000, Belgia langsung membuat terobosan dalam hal pembentukan Timnas. Mulai dari membuat regulasi untuk akademi klub sepakbola di Belgia yang harus banyak mencetak pemain-pemain muda, Memaksa semua Klub untuk memakai formasi yang sama dengan Timnasnya, sampai mencetak Pemain yang bisa menjadi key player di klub-klub top Eropa. Hasilnya, bisa kita lihat sendiri sekarang.

Memang masih ada pertandingan melawan Laos nanti Malam, tapi masyarakat sudah tidak lagi menganggap penting lolos dari penyisihan grup dan bisa dibilang telah lupa harapan juara AFF 2014. Masyarakat hanya mau Timnas bermain lebih baik, atraktif, dan hasilnya menang! Anggaplah permainan dan hasil nanti malam melawan Laos sebagai persembahan terakir Alfred Riedl untuk Indonesia.

Yang jelas, pasca AFF 2014 ini, Alfred Riedl dipecat atau tidak diperpanjang kontraknya oleh PSSI. Tapi bukan berarti ini semua kesalahan Riedl 100  persen. Riedl memang bertanggung jawab karena dia adalah pelatih, tapi PSSI lebih bertanggung jawab kepada seluruh masyarakat Indonesia.

PSSI harus segera berbenah ( sebenarnya perlu revolusi) secepat mungkin. Mulai dari pembinaan pemain sampai penyelenggaraan Liga yang jauh lebih baik lagi. Yang jelas itu semua haruslah bertujuan untuk membentuk Timnas Indonesia kedepan yang jau lebih baik dan bisa mewujudkan harapan masyarakat bangsa ini, menjadi juara. Karena meski bagaimanapun, seluruh masyarakat negeri ini tidak pernah surut untuk selalu berharap Timnas Sepakbolanya berprestasi di berbagai ajang. Salam Satu Jiwa Indonesia!

 M Baihaqi Nabilunnuha
Jalan Semanggi, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Matador Pulangkan Belgia di Menit Akhir

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:14

Pengadaan Batu Bara Belum Tentu Penyebab Blackout Sumatera

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:05

Ijazah Asli Jokowi Dipastikan Sama seperti Unggahan Dian Sandi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:45

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Jampidsus Febrie Resmi Mundur

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:23

Antara VAR dan Tuduhan Argentina Anak Emas FIFA

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:02

Pemerintah Dukung Kortastipidkor Usut Tuntas Perkara Korupsi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:35

Pernyataan Febrie Dinilai Upaya Kendalikan Narasi di Tengah Deretan Fakta

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:33

Demo Copot Jampidsus Febrie

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:24

Akademisi University Swedia Teliti Penanggulangan Bencana PMI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:11

Selengkapnya