Berita

net

Politik

Dibongkar, Orang-orang Neolib di Sekitar Jokowi yang Berbungkus Kerakyatan

SELASA, 05 AGUSTUS 2014 | 16:56 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Calon presiden Joko Widodo menghadapi situasi internal yang pelik. Pertarungan kelompok-kelompok kepentingan di sekitarnya begitu sengit.

Kelompok aktivis 98 menekankan bahwa yang harus diwaspadai Jokowi adalah kehadiran kelompok neoliberalisme, atau dijuluki neolib, yang sudah terlanjur merengsek masuk ke ring-1 tim pemenangan dan penyusunan kabinet.

"Bagaimanapun mereka jauh lebih lihai masuki lingkaran Jokowi dengan jubah profesionalisme. Sadar tidak sadar mereka sudah masuki lingkaran Jokowi yang bungkusannya kepentingan rakyat," kata eksponen gerakan reformasi 98, Lukman Hakim, kepada Rakyat Merdeka Online, Selasa (5/8).


Menurut dosen FISIP Universitas Moestopo itu, Jokowi tak akan bisa menerapkan nasionalisme dan pembangunan berbasis Trisakti ala Bung Karno, seperti yang dicita-citakannya, bila tetap menampung kekuatan liberalisme dalam pemerintahannya.

"Jokowi harus sadari, jauh berbeda antara kepentingan rakyat Indonesia dengan kepentingan neoliberal. Jangan bikin jauh panggang dari api," tegasnya.

Lukman menyebut beberapa tokoh neoliberalisme yang tak pantas duduk di pemerintahan Jokowi-JK.

"Contohnya, Anies Baswedan, Rini Suwandi, Chatib Basri, itu tokoh-tokoh anti nasionalisme yang berbungkus kerakyatan. Bagaimana bicara nasionalisme kalau ideologinya jauh beda dengan kepentingan nasional?" ungkapnya.

Sebaliknya, masih kata Lukman, Jokowi sebaiknya mempertimbangkan para tokoh dan aktivis nasionalis untuk masuk dalam pemerintahannya. Mereka jauh dari kegenitan panggung politik namun memahami bagaimana mengutamakan kepentingan nasional.

"Saya punya contoh tokoh-tokoh yang jadi anti tesis mereka, misalnya pakar politik Yudi Latif, mantan aktivis 77-78 Indro Tjahjono, mantan menteri era Gus Dur yaitu Rizal Ramli, aktivis 80-an Amarsyah, itu semua orang yang pro rakyat dan tidak genit politik," urainya . [ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Menkeu Baru Angkat Bicara Soal Perombakan Pejabat Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Senin, 14 September 2026 | 17:28

UPDATE

Suahasil Puji Bea Cukai Setelah Purbaya Tersingkir, Ada Apa Nih?

Minggu, 20 September 2026 | 19:41

Tim Qonun Asasi Sebut Wacana Muktamar Ulang NU Tak Punya Dasar

Minggu, 20 September 2026 | 19:29

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Rusia Gelar Pemilu Parlemen di Wilayah Ukraina yang Diduduki

Minggu, 20 September 2026 | 18:48

Negosiasi dengan Houthi, Solusi Arab Saudi

Minggu, 20 September 2026 | 18:43

Datangi Pospera, Ratusan Warga Minta Turunkan Desil

Minggu, 20 September 2026 | 18:18

Honor Play 11 Resmi Meluncur, Bawa Baterai Jumbo 8.300 mAh

Minggu, 20 September 2026 | 18:06

Timur Tengah Memanas, Trump Cepat-cepat Tinggalkan Camp David

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

Apa Itu Perairan Masalembo yang Dijuluki Segitiga Bermuda Indonesia?

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

BNI dan Unpad Perkuat Ekosistem Kampus melalui Layanan Digital Terintegrasi

Minggu, 20 September 2026 | 17:28

Selengkapnya