Berita

habiburokhman

Politik

Ada Indikasi Rekayasa Jokowi-JK untuk Munculkan Kesan Dicurangi

SELASA, 08 JULI 2014 | 12:49 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Pemberitaan di media sosial soal kericuhan saat pencoblosan Pilpres di Victoria Park, Hong Kong, sudah berbau fitnah terhadap kubu pasangan nomor 1, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Padahal, dalam insiden itu ada banyak kejanggalan yang terekam.

Demikian ditegaskan Direktur Hukum dan Advokasi Tim Kampanye Nasional Prabowo-Hatta, Habiburokhman, kepada Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu (Selasa, 8/7). Soal kejadian sebenarnya dan kejanggalan-kejanggalan di Hong Kong itu pun sudah diterangkan oleh KPU dengan terang benderang.

"Saya pada kesimpulan, patut diduga ada rekayasa kubu Jokowi-JK untuk timbulkan kesan dicurangi dengan mengorbankan KPU dan Bawaslu. Mereka sudah bekerja benar, tapi dikorbankan," tegas Habiburokhman.


Sejak malam kejadian itu, Habiburokhman sudah menyatakan bahwa insiden itu berbau rekayasa. Menurut dia, ada kesengajaan keterlambatan orang-orang yang datang untuk memilih. Mereka datang setelah TPS ditutup, tidak ada antrian lagi, dan mengaku-ngaku hanya diperbolehkan mencoblos asalkan memilih nomor 1.

"Sengaja dipersepsikan ada kecurangan terhadap kubu nomor 2. Padahal, soal pilihan kan itu rahasia, tidak ada yang tahu kita mencoblos apa. Siapa yang tahu bahwa surat suara yang ada di kotak suara itu adalah suara untuk Prabowo atau Jokowi?" ujarnya.

Dan soal keterlambatan calon pemilih, ditegaskannya bahwa peraturan dan tata cara pencoblosan berlaku untuk semua pihak, baik itu pendukung Jokowi atau Prabowo. Bahkan, dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisi beberapa saat lalu, Ketua Bawaslu, Muhammad, mengatakan, dari para WNI di Hong Kong yang melakukan protes itu sebagian besar sudah mencoblos dengan tanda tinta di jarinya.

"Siapapun tidak bisa memilih kalau TPS sudah ditutup. Pendukung kami juga pasti tidak boleh mencoblos kalau TPS sudah ditutup," tegasnya.

Habib menyatakan, pihaknya sudah melakukan penelusuran bahwa ada upaya dari pihak pasangan nomor 2 (Jokowi-JK) menciptakan kesan dizalimi untuk menimbulkan simpati masyarakat dalam negeri di masa tenang yang bebas dari aktivitas kampanye politik.

"Dugaan saya, targetnya memang akan bombardir pemberitaan soal dicurangi selama masa tenang ini," tegasnya.

"Kita jangan lupa di kubu Jokowi-JK itu kan ada mantan komandan intel yang terlatih melakukan hal-hal kayak begini," tambahnya. [ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Suahasil Puji Bea Cukai Setelah Purbaya Tersingkir, Ada Apa Nih?

Minggu, 20 September 2026 | 19:41

Tim Qonun Asasi Sebut Wacana Muktamar Ulang NU Tak Punya Dasar

Minggu, 20 September 2026 | 19:29

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Rusia Gelar Pemilu Parlemen di Wilayah Ukraina yang Diduduki

Minggu, 20 September 2026 | 18:48

Negosiasi dengan Houthi, Solusi Arab Saudi

Minggu, 20 September 2026 | 18:43

Datangi Pospera, Ratusan Warga Minta Turunkan Desil

Minggu, 20 September 2026 | 18:18

Honor Play 11 Resmi Meluncur, Bawa Baterai Jumbo 8.300 mAh

Minggu, 20 September 2026 | 18:06

Timur Tengah Memanas, Trump Cepat-cepat Tinggalkan Camp David

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

Apa Itu Perairan Masalembo yang Dijuluki Segitiga Bermuda Indonesia?

Minggu, 20 September 2026 | 17:50

BNI dan Unpad Perkuat Ekosistem Kampus melalui Layanan Digital Terintegrasi

Minggu, 20 September 2026 | 17:28

Selengkapnya