Berita

net

Politik

PILPRES 2014

Diduga Ada Permainan Intelijen di Balik Ricuh Hong Kong

SENIN, 07 JULI 2014 | 12:53 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Kericuhan yang divideokan di sekitar Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang berada di Victoria Park, Hong Kong, diduga sebagai bagian dari sebuah operasi intelijen.

Pengamat politik dari Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID), Jajat Nurjaman, bahkan menyebut operasi intelijen itu yang dirancang untuk menjatuhkan citra Calon Presiden RI nomor urut 1, Prabowo Subianto.

"Ada pemain intelijen yang menyiapkan kamera. Kurang lebih 200 orang sengaja baru diarahkan ke TPS setelah TPS ditutup," ujar Jajat, dalam pernyataan persnya (Senin, 7/7).


Banyak saksi mata di lapangan yang melaporkan bahwa para calon pemilih sudah sampai di Victoria Park jauh sebelum TPS ditutup. Persoalannya, sebagian orang itu menunggu sampai TPS ditutup untuk bergerak ke TPS.

"Dan, kenapa pakai mengatakan mereka ditolak memilih karena ingin mencoblos capres nomor urut dua?" kata Jajat heran.

Jajat mengatakan, hak memilih dan dipilih memang dilindungi oleh UU. Namun, aturan seperti batas waktu memberikan suara yang sudah ditetapkan juga harus ditaati.

Dia lanjutkan, melihat situasi politik saat ini situasinya beda tipis antara Prabowo dan Joko Widodo. Dampak dukungan Ketua Umum Partai Demokrat, SBY, kepada Prabowo pun sangat luar biasa. Namun dampak dukungan SBY bisa tergerus jika penyelenggara pemilu dan aparat dicitrakan berpihak ke Prabowo.

"Rakyat Indonesia harus waspada akan taktik intelijen seperti ini," tutup Jajat.

Diberitakan, ratusan WNI di Hongkong kecewa karena tak bisa menggunakan hak pilihnya dalam pilpres. Mereka tak bisa mencoblos karena terlambat datang dari waktu yang sudah ditentukan ke Tempat Pemilihan Suara (TPS).

Konsuler Jenderal (Konjen) untuk Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong, Chalief Akbar, menjelaskan, sesuai undangan, pemilu dimulai pukul 09.00 hingga pukul 17.00 waktu setempat. Chalief mengatakan waktu penutupan TPS disesuaikan dengan izin yang diberikan oleh pemerintah Hongkong. Sebab, Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) menggelar hajatan lima tahunan kali ini di ruang publik di Victoria Park.

Namun, sekitar pukul 17.30, sekitar 200 WNI yang mengaku belum mencoblos melakukan demonstrasi. Mereka meminta PPLN untuk membuka TPS kembali. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Polisi Pastikan Pengemudi Pikap yang Tabrak Petugas di Gerbang DPR Mabuk Alkohol

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:26

Wakil Presiden Tanzania Emmanuel Nchimbi Mundur Usai Berselisih dengan Presiden

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:18

Wall Street Melemah, Investor Cermati Pidato Kevin Warsh

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:14

Dony Oskaria Bongkar Penataan BUMN: 290 Selesai, 254 Jadi Target

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:03

Banjir Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Paus Leo XIV Kirim Doa

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:46

Saham Eropa Melesat Cantik Dipimpin Sektor Mewah dan Perbankan

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:34

Dua Sumur Baru PHSS di Struktur Semberah Lampaui Target Produksi Migas

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:19

PKM Dorong Keluarga Muba Naik Kelas, Rp25 Juta Jadi Modal Kemandirian Ekonomi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:07

Ichsanuddin Noorsy dan Pemikiran Ekonomi Konstitusi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:54

MBG Jadi Bantalan Ekonomi Masyarakat Bawah, Kritik jadi Evaluasi

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 06:46

Selengkapnya