Berita

Olahraga

TRAMP Sesalkan Larangan Ekskul Pecinta Alam SMA di Jakarta

SELASA, 01 JULI 2014 | 12:56 WIB | LAPORAN:

Kebijakan Dinas Pendidikan DKI melarang kegiatan pecinta alam di seluruh SMA di wilayah ibukota dipandang bukan kebijakan yang mendidik. Justru, dengan keputusan itu menjerumuskan kegiatan pecinta alam menjadi tak terkendali.

Ketua Umum Organisasi Pemuda Pecinta Alam TRAMP (Top Ranger And Mountain Pathfinder), Hendrata Yudha menyesalkan kebijakan yang terkesan sangat reaktif tersebut karena diambil menyusul jatuhnya korban jiwa ketika sedang mengikuti pendidikan pecinta alam SMA 3 Jakarta.

"Kejadian di SMA 3 itu kan kasuistis, sehingga tidak bisa dipukul rata kegiatan pecinta alam membahayakan dan menimbulkan korban jiwa sampai harus dilarang semuanya," kata Hendrata Yudha, yang pernah menjadi ketua pecinta alam SMA 37, Tebet, Jakarta Selatan.


TRAMP adalah organisasi pecinta alam yang berbasis di Jakarta, dan sejak tahun 1975 banyak melakukan pelatihan kegiatan pecinta alam kepada siswa-siswa SMA di DKI Jakarta.

Hendrata yang telah bergiat di pecinta alam sejak 29 tahun lalu, khawatir dengan pelarangan itu. Sebab, anak-anak muda yang berminat pada kegiatan pecinta alam selalu tinggi setiap tahunnya. Jika mereka tidak disalurkan dengan bimbingan yang benar, akan muncul rangkaian efek kecelakaan selama kegiatan pecinta.

"Remaja ini sifatnya selalu ingin tahu dan ingin tantangan, kalau mereka dilepas petualangan tanpa bekal pendidikan pecinta alam yang memadai, mereka cenderung kurang waspada sehingga bisa terjadi kecelakaan di alam bebas," kata pemilik sertifikat penyelam mahir ini.

Pemda DKI seharusnya membuka lebar-lebar kegiatan pecinta alam, sambil memberikan dukungan kepada generasi muda. Pecinta alam merupakan kegiatan ekstrakurikuler  yang bermanfaat membentuk karakter pemuda yang disiplin, cinta negara dan berwawasan kebangsaan.

"Jangan lupa, kedua calon presiden kita, Jokowi adalah anggota aktif pecinta alam di UGM, begitu Prabowo yang sangat mendukung kegiatan pecinta alam dengan menjadi Ketua Ekspedisi Mount Everest," demikian Hendrata.[wid] 

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Negara Hadir, Penanganan Gempa NTT Dilakukan Cepat dan Terkoordinasi

Minggu, 16 Agustus 2026 | 00:26

Legislator PDIP Anggap Semu Keberhasilan Swasembada Pangan Pemerintah

Minggu, 16 Agustus 2026 | 00:18

Anggota PJ91 Gelar Plogging di Lapangan Utama Jamnas 2026

Minggu, 16 Agustus 2026 | 00:01

Dinamika Internal Organisasi Jelang Muktamar NU Makin Panas

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:46

HNI Berkontribusi dalam Gerakan Perekonomian dan Serap Tenaga Kerja

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:38

Program Prabowo Perkuat Layanan Kesehatan

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:23

Tantangan Membangun Sistem Pertahanan Udara Nasional

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:00

Transformasi BRI Tuai Pengakuan Global

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:52

Dampak Gempa NTT, Wings Air Batalkan 8 Penerbangan di Ende

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:28

Pemerintah Kerahkan Personel Gabungan ke Daerah Terdampak Gempa NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:50

Selengkapnya