Berita

Mahfudz Siddiq

Wawancara

WAWANCARA

Mahfudz Siddiq: Penyadapan Nodai Hubungan RI Dengan Australia & Amerika

SELASA, 19 NOVEMBER 2013 | 10:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Indonesia keliru memposisikan Australia dan Amerika Serikat (AS) sebagai mitra strategis. Sebab, kedua negara itu tidak bisa dipercaya.  

“Mereka memperlakukan pejabat Indonesia seperti ancaman atau musuh yang harus dan perlu disadap,” tegas Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Padahal, lanjutnya, sebagai mitra kerja, mereka tinggal ketuk pintu jika ada keperluan. Sebab, Indonesia selalu membuka kerja sama secara resmi dengan Australia dan AS.


“Dengan terbuktinya penyadapan itu, berarti Australia dan Amerika Serikat (AS) berbahaya,’’ warning-nya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Bukankah dalam dunia intelijen, sadap menyadap itu hal biasa?
Memang. Tapi tetap  harus ada etikanya. Indonesia kan bekerja sama dengan Australia dan AS. Kalau dibutuhkan, tinggal tukar-menukar informasi.
 
Barangkali mereka butuh informasi lain?
Mereka kan bisa berkomunikasi dulu dengan pemerintah Indonesia. Siapa tahu bisa dirundingkan untuk memberikan informasi dalam batas-batas tertentu. Ini malah di acara sepenting pemilihan Sekjen PBB dan KTT pejabat kita disadap. Indonesia dalam posisi sebagai tamu saat itu, kan tidak etis.

Apa kepentingan Australia dan AS menyadap Indonesia?
Aksi penyadapan itu memiliki motif kepentingan tertentu. AS dan Australia memiliki kepentingan terhadap kawasan Indonesia.

Penyadapan itu sudah menodai hubungan baik Indonesia dengan kedua negara itu.

Sudah saatnya Indonesia mengevaluasi kerja sama dengan Australia dan AS.

Bukankah selama ini kerja sama intelijen Indonesia sudah bagus?

Saya menilai kerja sama bidang intelijen, termasuk pertukaran informasi selama ini tidaklah efektif. Buktinya, AS dan Australia masih mengambil saluran informasi melalui pintu belakang.

Apa yang harus dilakukan?
Presiden SBY harus bicara langsung dengan Perdana Menteri Tony Abbott dan Presiden Barack Obama. Dengan demikian, ada penjelasan resmi akan kebenaran berita ini. Kemudian mereka minta maaf jika itu terjadi.

Bukankah Kemlu sudah melakukan itu?
Masih kurang. Kedua negara itu harus benar-benar diperingatkan agar tidak melakukan tindakan seperti itu jika ingin tetap bekerja sama dengan Indonesia.

Beberapa waktu lalu, Komisi I DPR ke Australia, apa peringatan itu sudah disampaikan?
Kami tidak membicarakan soal itu dengan Australia. Sebab, itu bukan ranah DPR.

Reaksi keras soal itu tugas dari Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.

Tujuan kami ke sana mau dengar dan menggali pikiran dan pandangan politik luar negeri Menlu Australia Julie Bishop.

Kalau Presiden turun tangan, langkah selanjutnya apa?
Kalau itu betul terjadi, berarti keamanan sistem informasi komunikasi kita masih harus dibenahi lagi. Perlu adanya penguatan sistem persandian nasional, khususnya dalam Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) untuk mencegah terjadinya aksi spionase dan penyadapan pihak asing.

Sistem persandian nasional ini bukan hanya untuk pemerintah pusat dan daerah, tapi juga perwakilan Indonesia di luar negeri, termasuk pesawat kepresidenan.

Negara memiliki lembaga yang tugas pokoknya di bidang persandian, yaitu Lemsaneg. Persandian itu berfungsi mengamankan sistem komunikasi informasi dan data yang ada di pemerintahan.

Berarti harus ada penguatan Lemsaneg?
Betul. Selama ini kinerja Lemsaneg belum maksimal, sehingga sistem persandian yang dibangun belum mampu mengakses semua lembaga pemerintahan. Ada beberapa kendala penyebab Lemsaneg tidak berjalan.

Apa saja?
Pertama, kesadaran terhadap sistem keamanan informasi dan komunikasi yang belum merata. Kedua, ada keengganan pada lembaga-lembaga tertentu sistem komunikasinya dicampuri lembaga lain meskipun tujuannya untuk pengamanan. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

ISIS Mengaku Dalangi Serangan Bom Bunuh Diri di Masjid Syiah Pakistan

Minggu, 08 Februari 2026 | 16:06

BNI Gelar Aksi Bersih Pantai dan Edukasi Kelola Sampah di Bali

Minggu, 08 Februari 2026 | 15:36

Miliki Lahan di Makkah, Prabowo Optimistis Turunkan Biaya Haji

Minggu, 08 Februari 2026 | 15:16

Dukungan Parpol ke Prabowo Dua Periode Munculkan Teka-teki Cawapres

Minggu, 08 Februari 2026 | 14:52

KPK Telusuri Kongkalikong Sidang Perdata Perusahaan Milik Kemenkeu Vs Masyarakat di PN Depok

Minggu, 08 Februari 2026 | 14:42

RI Harus Tarik Diri Jika BoP Tak Jamin Keadilan Palestina

Minggu, 08 Februari 2026 | 14:32

Kehadiran Prabowo di Harlah NU Bawa Pesan Ulama-Umara Bersatu

Minggu, 08 Februari 2026 | 13:50

Forum Perdana Board of Peace akan Berlangsung di Washington pada 19 Februari

Minggu, 08 Februari 2026 | 13:31

Prabowo Tegaskan Pemimpin Wajib Tinggalkan Dendam dan Kebencian

Minggu, 08 Februari 2026 | 13:17

KPK Gali Dugaan Korupsi Dana Konsinyasi di PN Depok

Minggu, 08 Februari 2026 | 12:28

Selengkapnya