Berita

Boy Rafli Amar

Wawancara

WAWANCARA

Boy Rafli Amar: Pembentukan Densus Anti Korupsi Masih Dikaji Secara Mendalam

JUMAT, 08 NOVEMBER 2013 | 09:18 WIB

Porli masih melakukan pengkajian secara mendalam mengenai ide pembentukan Densus Anti Korupsi.

“Kami evaluasi kapasitas dan kemampuan penyidik Polri. Maka perlu kajian yang mendalam mengenai itu,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Boy Rafli Amar kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Polri, lanjut Boy, terus berupaya melakukan terobosan untuk mencegah praktik korupsi. Antara lain, merespons positif terhadap rencana pembentukan Densus Anti Korupsi.


“Ini pertanda besarnya harapan masyarakat terhadap Polri untuk meningkatkan kemampuan dalam pemberantasan tindak pidana korupsi,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa lagi yang perlu dikaji?
Tentu banyak. Makanya Polri sampai saat ini masih terus melakukan pengkajian secara mendalam mengenai itu.

Yang paling penting dikaji soal apa?
Mempelajari dan mengevaluasi penanganan kasus tindak pidana korupsi yang sudah berjalan. Pengkajian itu perlu dilakukan agar penanganannya jauh lebih baik lagi.

Kenapa nggak langsung dibentuk saja, bukankah masalah korupsi sudah sering ditangani?
Pembentukan struktur baru dalam tubuh Polri harus dikaji serta dikomunikasikan dengan kementerian lainnya. Nggak bisa buru-buru.

Dengan kementerian mana saja?
Kementerian yang perlu dilakukan komunikasi lebih lanjut, yakni Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB), Kementerian Keuangan dan lainnya. Tidak bisa diputuskan sendiri oleh Polri. Pada prinsipnya perlu dikomunikasikan bila ada penambahan struktur.

Apa langkah persiapan komunikasi itu sudah dilakukan?

Sudah. Itu selalu kami lakukan.  Saat ini juga Polri terus melakukan capacity building untuk peningkatan kemampuan penyidik Polri dalam penanganan tindak pidana korupsi. Hal itu  dilakukan dengan upaya peningkatan anggaran pendidikan, peningkatan koordinasi dengan penegak hukum, seperti Kejaksaan Agung dan KPK. Termasuk juga dengan BPK dan BPKP. Kita sudah lakukan langkah itu.

Apa itu saja yang dilakukan?

Tidak. Kami juga terus berupaya meningkatkan kemampuan penyidik kita dengan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan. Terutama bagi penyidik Polri yang berada di daerah, seperti di tingkat Polda dan Polres. Penyidik Polri sudah ada sampai tingkat Polres.  Saat ini Polri fokus pada peningkatan kemampuan, makanya kita berikan dukungan anggaran pendidikan kepada penyidik di daerah.

Bagaimana dengan kewenangan Densus Anti Korupsi itu?
Kami akan komunikasikan dengan DPR. Makanya kami terus lakukan pengkajian secara simultan.

 Buat apa bicara dengan DPR, bukankah Polri sudah punya kewenangan penyidikan terhadap kasus korupsi?

Perlu dibicarakan dengan DPR karena terkait dengan persetujuan anggaran. Selain itu, mana tahu ada revisi undang-undang juga.

Artinya Densus Anti Korupsi ini akan membantu KPK memberantas Korupsi sampai ke daerah?
Betul sekali. Selama ini yang tidak terjangkau KPK, tentu penyidik Polri di tingkat Polda dan Polres yang akan menangani kasus korupsi itu.

Tidak akan ada tabrakan kewenangan dengan KPK dan Kejaksaan?
Tidak ada. Kami selalu memegang prinsip sinergitas dan koordinasi dalam penanganan tindak pidana korupsi dengan KPK  dan Kejaksaan Agung. Koordinasi dan sinergitas penting untuk hindari benturan kewenangan itu.

Berapa banyak kasus korupsi yang ditangani penyidik Polri di daerah?
Rata-rata dalam satu tahun 500 perkara kasus tindak pidana korupsi. Semuanya diselesaikan penyidik Polri.

Siapa saja yang dijerat dan kasus apa saja?
Kasus tindak pidana korupsi biasanya terkait penyelewengan APBD dan penggunaan APBN. Selain itu, kami juga menangani kasus tindak pidana korupsi yang berkaitan penyalahgunaan wewenang pejabat tingkat daerah, baik pejabat di provinsi atau kabupaten/kota.

Apa ada kendala?
Ada. Antara lain masalah kewenangan dalam melakukan penyadapan. Polri menangani kasus terorisme dan narkoba sesuai amanahnya. Maka untuk melakukan tugas penanganan tindak pidana korupsi, kewenangan penyadapan itu perlu disesuaikan karena ini kan kaitannya dengan extra ordinary crime.

Apa Densus Anti Korupsi ini bisa menindak oknum internal Polri yang korupsi ?
Bisa dong. Tindak pidana korupsi itu kan bisa menimpa internal Polri juga. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya