Berita

fajar riza ul haq: net

Waspadai Kemunculan Gejala Talibanisasi di Indonesia

RABU, 17 JULI 2013 | 22:31 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Setelah 15 tahun era reformasi bergulir, publik Indonesia masih menyaksikan munculnya berbagai gerakan sosial keagamaan yang bercorak skripturalis dan cenderung menegasikan kemajemukan. Arus demokratisasi telah meniscayakan aneka pemikiran bahkan ideologi tersebut tumbuh subur, tidak terkecuali gerakan "Islam Syariat."

Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Fajar Riza Ul Haq, menilai memang gerakan-gerakan pro formalisasi syariat di ruang publik sudah meredup pada tahun 2007. Namun eskalisasi pola pikirnya yang formalistik dan skriptural di level kultural harus diantisipasi.

"Model keberagamaan semacam ini terlihat kian mewarnai kehidupan sosial, mengarah pada homogenisasi pola pikir dan prilaku. Menjadi berbeda seakan melawan kenormalan. Kita patut mewaspadai munculnya gejala talibanisasi yang akan mengkerdilkan mozaik keislaman di Indonesia," ungkap Fajar.

Fajar mengungkapkan itu dalam diskusi dan bedah buku karya Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia yang digelar MAARIF Institute di PP Muhammadiyah, Jakarta petang tadi (Rabu, 17/7).

Hadir sebagai pembicara dalam peluncuran buku terbitan Mizan yang berasal dari studi doktoral itu Prof. Dr. Azyumardi Azra Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta dan Prof. A. Malik Fadjar Ketua PP Muhammadiyah.

Fajar melanjutkan, gejala talibanisasi ditandai munculnya peraturan yang mengharamkan tarian daerah dilakukan oleh wanita dewasa, larangan bagi perempuan untuk mengendarai sepeda motor dengan cara mengangkang, bahkan pelaksanaan hukum cambuk. Kebijakan-kebijakan seperti ini didasarkan pada model penafsiran syariat Islam yang sempit dan monolitik, sehingga menciptakan diskriminasi bagi perempuan di ranah publik. [zul]


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya