Berita

Burhan Abdurahman

Lewat Barifola, Bangun Ratusan Rumah Rakyat Miskin Tanpa APBN/APBD

SABTU, 04 MEI 2013 | 08:35 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Program sosial dalam bentuk pembangunan rumah layak huni bagi kaum dhuafa di berbagai tempat sasarannya boleh sama; meringankan beban masyarakat tak mampu.

Namun, Barifola yang dilakukan Ikatan Keluarga Tidore (IKT) Maluku Utara memiliki karakteristik berbeda, terutama dari sumber dana maupun bentuk pelaksanaan.
 
Barifola, idiom bahasa Tidore yang berarti gotong royong membangun rumah, diimplementasikan  IKT sebagai aksi sosial berbagi keikhlasan. Karena itu, Barifola berbeda dengan model pembangunan instansi dengan dukungan dana pemerintah yang disokong pihak sponsorship. Selain tanpa dukungan dana APBD maupun APBN, Barifola diwujudkan dalam konteks gotong royong sejati.


Karena, mereka yang tidak terlibat dalam pembangunan rumah, baik dari aspek material maupun tenaga, bukanlah orang berada. Artinya, orang yang masih susah menolong yang susah.

Mewujudkan rumah layak huni bagi kaum dhuafa itu merupakan bentuk gotong royong, baik aspek material maupun tenaga. Inilah perwujudan kesetiakawanan sosial yang sesungguhnya.

Ketua IKT Maluku Utara Burhan Abdurrahman yang juga Wali Kota Ternate selaku penelor konsep implementasi program Barifola ini mengakui, subtansi dari kegiatan itu terletak pada semangat gotong royong anggota IKT yang didasari keikhlasan.

“Tidak ada tujuan lain karena sesungguhnya program ini saya gagas dan dijalankan IKT sejak Maret 2008 semasih menjabat Sekretaris Kota,” kata Burhan yang belum lama ini mengunjungi Redaksi Rakyat Merdeka Group di gedung Graha Pena, Jalan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Kata Burhan Abdurrahman, aksi Barifola sebagai bagian dari nilai kearifan lokal itu bersandar pada semboyan Limau Ma Dade Dade Ma Bara Jiko Se Doe (Persatuan, persaudaraan, dan semangat kekeluargaan), tanpa membatasi pada simpul-simpul promodial namun terarah pada aspek sosial kemasyarakatan secara universal.

Karena itu, yang menjadi sasaran program bukan saja dari berbagai etnis lain yang kondisinya dianggap tak layak huni dan tentu memenuhi syarat-syarat terutama status tanah. Dalam program ini, imbuhnya, pekerjaan ditangani oleh tim IKT dan tanpa dibebani pemilik rumah, baik bahan bangunan maupun kebutuhan konsumsi pekerja.

Meski tim pekerja ini orang-orang susah, namun ikhlas. Hal itu yang membuat aksi ini terus bergulir mulai dari rumah pertama hingga sudah lebih dari seratus rumah, bahkan tidak saja di Ternate tetapi juga menjangkau Kabupaten Halmahera Utara dan Morotai.

Dia mengatakan untuk satu unit rumah yang dibangun membutuhkan dana antara antara Rp 30 sampai dengan Rp 40 juta, tanpa menghitung biaya tukang. “Biasanya, selain menyumbang tenaga, anggota IKT juga menyumbang bahan bangunan. Istilah, satu batu bata saja tetap punya nilai karena keikhlasan itu,” tandasnya.

Kebutuhan dana untuk membiayai aktifitas Barifola, selain tidak bersumber dari pemerintah, IKT juga tidak pernah mengajukan proposal bantuan kepada pihak ketiga. Semua dilakukan atas kekuatan internal.

“Kalau ada yang menyumbang, tentu kami tidak menolak. Tetapi pantang meminta sumbangan kepada pihak ketiga. Karena di sinilah nilai-nilai sosial itu sesungguhnya tumbuh dan berkembang,” tambahnya.

Metode Barifola ini diakui Hi Bur, begitu ia akrab dipanggil, semakin memiliki magnitude yang sangat dahsyat dalam lingkup komunitas IKT, sehingga setiap anggota selalu gelisah jika tidak ada program dalam sebulan.

“Secara berkelakar, ada anggota yang mengatakan Ketua IKT harus dipecat jika tidak ada rumah lagi yang kita bangun. Ini artinya, Barifola sudah mendarah daging dalam komunitas mini dan mampu memberi efek kepada masyarakat secara universal,” paparnya.

Barifola, kata Hi Bur, tidak saja untuk dhuafa tetapi juga membendung kecendrungan pola hidup individualistis di tengah masyarakat modern. “Hal ini yang barangkali membedakan program Barifola dengan proyek-proyek sosial lainnya. Karena itu, Barifola sesungguhnya merupakan roh dari kesetiakawanan sosial,” ungkap Hi Bur.

Dia memimpin Ikatan Keluarga Tidore Maluku Utara sejak 2008. Pembangunan rumah miskin pertama dilakukan di Kelurahan Santiong pada Maret 2008.

“Prihatin melihat kondisi rumah warga, membuat kami merasa tertantang. Apalagi, setelah rumah selesai dibangun, tim Barifola bertanya dimana selanjutnya rumah-rumah lain yang mau dibangun lagi. Hal ini menumbuhkan keyakinan saya bahwa suatu gagasan yang lahir dari hati yang ikhlas akan mampu menaklukan kendala seberat apapun,” pungkasnya.

Hingga kini, organisasi sosial kemasyarakatan ini telah membangun ratusan rumah sederhana bagi warga miskin Maluku Utara. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya