Berita

EFFENDI GHAZALI/IST

Politik

Pakar Komunikasi: Pemilih Pemula Sangat Tergantung Pada Kemasan Iklan

SABTU, 16 MARET 2013 | 18:58 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia (UI), Effendi Ghazali menjelaskan untuk mengambil simpati kalangan pemuda dalam mendapatkan suara pada pemilu 2014 mendatang harus ditentukan pada kemasan iklan yang menarik. Lantaran, kalangan muda atau pemilih pemula sangat tertarik terhadap popularitas seseorang yang kerap muncul di media massa khususnya televisi.

"Pemilih pemula atau pemilih muda itu sangat tergantung pada kemasan iklan, seperti iklan-iklan di tengah kota dan televisi sehingga kalangan muda sangat tergoda untuk memilihnya. Seperti yang dilakukan pak Hary Tanoe Soedibyo yang mulai sering masuk iklan dan Prabowo Subianto," kata Effendi saat menjadi pemateri dalam Pelatihan Nasional Kominfo Pengurus Pusat Tunas Indonesia Raya (Tidar) di Hotel Ibis Arcadia, Jakarta Pusat, Sabtu (16/3).

Akibat ingin mendapatkan suara dan dukungan dari kalangan muda, maka akhirnya para tokoh-tokoh politik saat ini lebih menjadi selebritis untuk bisa masuk TV dan iklan sehingga dapat dipilih oleh masyarakat pada saat pemilu yang akan datang.


"Begitu juga kebalikannya, bahwa para selebritis kini lebih mudah untuk masuk di dunia politik. Dan puncaknya itu pada pilkada jawa barat dimana para kandidatnya kebanyakan dari kalangan selebritis, seperti Dedi Yusuf, Dedy Mizwar, dan Rieke Diah Pitaloka," tuturnya.

Tapi, menurut Effendi, dalam konteks menaikan popularitas untuk supaya dipilih oleh kalangan muda maka lawan-lawan politik dari para tokoh tersebut juga sangat mudah merubah pandangan politik dan persepsi masyarakat khususnya kalangan muda dengan dibuat sinisme politik sebagai bagian dari komunikasi politik untuk menjatuhkan lawan politiknya melalui media social, talk show televisi dan radio serta media massa lainnya.

"Jadi, Kalau ingin menjual caleg atau pemimpin tertentu untuk supaya dipilih oleh kalangan muda adalah harus memunculkan karakter dari tokoh yang akan dipilih tersebut dan bukan figurisasi. Dan menurt saya itu karakter yang kuart dalam memimpin bangsa itu ya Jokowi. Karena dia punya karakter yang kuat," imbuhnya.

"Jadi saat ini seharusnya partai politik seperti Gerindra memasukkan orang-orang baik, karena saat ini susah menjadikan orang baik untuk menjadi pemimpin," tukasnya.

Ketua Umum Tidar, Aryo Djojohadikusumo, meminta seluruh calon kepala daerah dari parta Gerindra untuk tidak lagi mengunakan konsep kotak kotak Jokowi Basuki. Kekalahan cagub gubernur yang didukung Gerindra seperti di Sumut dan Jabar membuktikan "pengocopian" kotak kotak tidak berhasil.

"Caleg, calon kepala daerah tingkat provinsi, Kota/ kabupaten,Harus punya kreasi sendiri dan baru. Jangan tiru gaya kotak kotak, kegagalan sumut dan Jabar bukti itu tidak berhasil," ujarnya.

Aryo meminta semua kader Gerindra untuk meningkatkan sosialisasi kegiatan positif yang selama ini sudha dikerjakan, namun kurang dipublikasikan. Sosialisasi Tidar dan Gerindra tidak melulu harus dengan kegiatan sosial dan menyantuni panti asuhan. Tapi harus sudah menjangkau semua fasilitas tekonogi informasi dunia maya.

"Banyak organisasi saya partai lain kegiatannya tidak jelas, tapi sosialisasinya luar biasa, sementara Tidar dan Gerindra kegiatannya jelas tapi kurang publikasi. Ini harus kita balik selama 13 bulan mendatang," tegasnya.[wid]


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Menhan Sjafrie-Dubes Maroko Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:11

Kompensasi Uang Bau TPST Bantar Gebang Molor

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:01

DJP: Sistem Sudah Siap Pungut Pajak Pedagang Online Mulai 1 Juli

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:25

GMNI Dorong Efisiensi APBN Berorientasi Kesejahteraan

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:12

CBA Ancam Laporkan KPK ke Dewas soal Suap Impor Bea Cukai

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:00

Der Panzer Rontok, Bangsa yang Pernah Hampir Punah Justru Melaju

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:34

Erling Haaland Bawa Norwegia Tantang Brasil

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:22

Ini Alasan Upacara Hari Bhayangkara Digelar di Satlat Brimob Polri Cikeas

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:00

Sanksi Partai Tak Bisa Gantikan Proses Hukum Kasus Dokter Icha

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:41

Selengkapnya