Berita

Politik

Tak Pecat Kapolda dan Pangdam Papua, SBY Cuek Bebek TNI Tewas Di Papua

MINGGU, 03 MARET 2013 | 21:27 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Sudah lebih dari 10 hari kasus penembakan yang menewaskan delapan anggota TNI dan empat warga sipil di Papua belum menunjukkan tanda-tanda akan terungkap. Pemerintahan SBY belum mengungkapkan siapa yang bertanggungjawab terhadap penembakan itu. Benarkah penembakan dilakukan gerakan sparatis Papua? Jika benar, seberapa kuat gerakan sparatis itu sehingga aparat keamanan tidak berdaya menghadapinya?

"Kami mengimbau Presiden SBY peduli dengan kasus ini dan mendorong elit-elit pemangku keamanan seperti Polri, segera mengungkapkan kasusnya," ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane, dalam keterangan persnya yang diterima redaksi, Minggu (3/3).  

"SBY jangan hanya terpaku pada kasus-kasus di Jakarta, dan sibuk mengurusi internal Partai Demokrat," sambung dia.


Menurut Neta, jika kasus penembakan ini tidak diungkapkan secara tuntas, maka kematian delapan anggota TNI itu menjadi kematian sia-sia dan akan menimbulkan ketakutan tersendiri bagi aparat keamanan yang akan ditugaskan ke Papua.

"Tidak terungkapnya kasus ini akan membuat para pelaku merasa besar kepala dan akan semakin membuat khawatir aparat yang ditugaskan ke Papua," imbuh dia.

Dia mengatakan, penembakan yang terjadi pada 21 Februari itu merupakan sejarah terburuk dalam sistem keamanan di Indonesia, pada khususnya Papua. Ironisnya, meski belum ada tanda-tanda bakal terungkap, Pemerintah SBY belum juga melakukan tindakan agar elit-elit keamanan bertanggungjawab terhadap kasus ini.
"Seharusnya Presiden mencopot Kapolda dan Pangdam Papua serta mengevaluasi posisi Kapolri dan Panglima TNI. Jika tidak dilakukan, Presiden SBY berarti cuek bebek dengan apa yang terjadi di Papua, termasuk tewasnya TNI dan warga sipil ini," demikian Neta. [dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Menhan Sjafrie-Dubes Maroko Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:11

Kompensasi Uang Bau TPST Bantar Gebang Molor

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:01

DJP: Sistem Sudah Siap Pungut Pajak Pedagang Online Mulai 1 Juli

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:25

GMNI Dorong Efisiensi APBN Berorientasi Kesejahteraan

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:12

CBA Ancam Laporkan KPK ke Dewas soal Suap Impor Bea Cukai

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:00

Der Panzer Rontok, Bangsa yang Pernah Hampir Punah Justru Melaju

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:34

Erling Haaland Bawa Norwegia Tantang Brasil

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:22

Ini Alasan Upacara Hari Bhayangkara Digelar di Satlat Brimob Polri Cikeas

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:00

Sanksi Partai Tak Bisa Gantikan Proses Hukum Kasus Dokter Icha

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:41

Selengkapnya