Berita

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

MANUFACTURING HOPE 60

Mulai Pencurian Teknologi Sampai Cara Mengemudi

Oleh Dahlan Iskan Menteri BUMN
SENIN, 14 JANUARI 2013 | 08:28 WIB

Ini mirip dengan istilah “sengsara membawa nikmat”. Kecelakaan ini, meski menimbulkan keributan yang bising, benar benar memberikan pelajaran yang berharga.

Selama ini, secara ilmiah, memang terjadi perbedaan pandangan di antara lima putra petir yang menciptakan kendaraan/mobil listrik yang saya koordinasikan. Perbedaan pandangan seperti itu juga terjadi di luar negeri yang lagi sama-sama dikembangkan di seluruh dunia.

Ada yang berpandangan, mobil listrik tidak perlu menggunakan gear box. Untuk itu, power dari motor listrik langsung menggerakkan gardan/ roda.

Tapi ahli kita seperti Ir Dasep Ahmadi MSc (alumni ITB), berpendapat mobil listrik harus menggunakan gear box. Ricky Elson, putra Padang yang melahirkan 14 paten motor listrik di Jepang, termasuk golongan ini.

Demikian juga Ravi Desai (alumni Gujarat). Mereka setuju tidak harus pakai gear box, tapi harus hanya untuk mobil dalam kota (city car).

Kecelakaan mobil Tucuxi (baca: tukusi, nama sejenis lum­ba-lumba) yang saya kemudikan di dataran tinggi  Tawangmangu-Sarangan Sabtu pekan lalu, memberikan pelajaran yang sa­ngat penting mengenai pilihan-pilihan tersebut.

Saya memang tidak ingin me­nyatukan pendapat mereka. Ilmuwan perlu diberi kebebasan untuk mewujudkan ambisi ke­il­muannya. Apalagi saya me­nang­kap sinyal para ahli kita itu me­mang ingin membuktikan keh­e­batan masing-masing. Saya sa­ngat menghargai itu. Saya me­mi­lih bersikap memberikan otonomi yang luas kepada mereka.

Karena itu ketika Kang Dasep menciptakan mobil AhmaDI de­ngan menggunakan gear box saya dukung penuh. Dana tal­a­ngan langsung saya kirim. Ketika mobil hijau itu jadi kenyataan, saya langsung mencobanya.

Sebenarnya, pada awalnya, saya dan Kang Dasep me­nang­gung malu: begitu tiba di Jalan Thamrin Jakarta (dari Depok), mo­­bil AhmaDI “mogok”. Media meliputnya dengan besar-besa­ran. Saya malu sekali. Tapi saya minta Kang Dasep tidak me­nye­rah. Setelah dianalisis, ternyata mobil itu tidak rusak, me­lain­kan low batt. Indikator baterainya ku­rang sempurna sehingga “menipu”.

Minggu berikutnya kami ber­dua masih menanggung malu: mo­bil listrik itu tidak kuat me­naiki tanjakan. Padahal tidak ter­jal. Padahal perjalanan uji coba ini juga diliput langsung oleh me­dia secara luas. Sekali lagi saya minta Kang Dasep untuk tidak patah semangat.

Sebetulnya masih banyak “malu” yang lain. Tapi biarlah itu ha­nya kami berdua yang mera­sa­kan. Tiga bulan kemudian, ketika mobil AhmaDI kian sempurna, rasa malu itu berubah menjadi bangga. Putra bangsa kita bisa menciptakan mobil listrik. Saya pun mencobanya secara sungguh-sungguh. Saya mengemudikan mo­bil tersebut hampir setiap hari hingga mencapai 1.000 km. Kang Dasep sendiri, di luar 1.000 km yang saya lakukan, mencobanya dari Bandung ke Jakarta melalui Puncak. Tidak ada masalah sama sekali. Tanjakan yang terjal dan tu­runan yang curam dilewati de­ngan mudah. Kang Dasep dengan ketekunan dan kecerdasan­nya bo­leh dikata berhasil gemilang.

Setelah itu saya minta Kang Da­sep membuat mobil listrik je­nis yang lebih besar. Sebesar Al­phard. Tiga bulan lagi, Insya-Allah, sudah bisa dilihat. Saya sudah setuju untuk mem­bia­yai­nya. Bahkan saya juga sudah minta Kang Dasep untuk mem­buat bus listrik.

Seminggu setelah mobil AhmaDI selesai dicoba sampai 1.000 km, mobil Tucuxi bikinan Mas Danet Suryatama (alumni USA) selesai dibuat. Saya pun bertekad untuk mencobanya dengan sungguh-sungguh sampai 1.000 km.

Begitu tiba di Jakarta 19 De­sem­ber lalu, mobil Tucuxi (se­mula saya usul namanya Gun­dala, tapi mas Danet memutuskan nama ini) saya coba dari Pan­co­ran ke Bandara Soekarno-Hatta. Mas Danet mendampingi saya. Sepanjang perjalanan sekitar 30 km itu saya merasakan apa saja yang menjadi kelebihannya dan apa saja kekurangannya. Mobil tiba di Cengkareng dengan ke­bang­gaan penuh: Mas Danet he­bat! Hari pertama ini tidak mem­bawa malu.

Kalau toh ada kekurangannya hanya kami berdua yang tahu. Saya langsung menyampaikan kekurangan-kekurangan itu ke Mas Danet. Saya minta diper­baiki. Dua hari kemudian Tucuxi saya coba lagi di sekitar Stadion Utama Senayan. Dua jam lama­nya. Tucuxi mengelilingi stadion berkali-kali. Beberapa wartawan secara bergantian ikut mencoba duduk di sebelah saya.

Semua yang menyaksikan ter­li­hat bangga. Putra Indonesia ternyata hebat-hebat. Beberapa ke­kurangan memang masih te­rasa. Tapi tidak mungkin di­per­baiki di Jakarta. Maka saya minta Tucuxi dibawa kembali ke Jogja. Mas Danet lantas menuduh saya melakukan pencurian teknologi. Saya tidak begitu jelas teknologi apa yang saya curi dan untuk apa. Syukurlah, dalam keterangan pers terbarunya akhir pekan ke­marin, Mas Danet tidak lagi me­nyebut-nyebut soal pencurian tek­nologi. Yang dipersoalkan ting­gal kesalahan cara saya me­ngemudi dan (menurut pe­ra­sa­an­nya) saya akan me­nying­kirkannya.

Setelah diperbaiki, mobil di­coba di sekitar Jogja. Tidak ada ma­salah. Termasuk sampai Ka­liurang. Tapi suasana sudah ku­rang nyaman akibat isu pencurian teknologi yang sudah meluas.

Saya sendiri saat itu lagi keli­ling hutan jati milik BUMN di Randublatung, Blora, dan Pur­wodadi. Saya sedang mendesain pola kemitraan antara Perum Per­hutani dan masyarakat miskin se­kitar hutan. Saya bermalam di Semarang. Karena mau pulang ke Magetan, saya harus lewat Solo. Karena itu saya minta Tucuxi di­siapkan di Solo. Untuk saya coba lewat medan yang berat.

Ini penting karena uji coba selama ini baru dilakukan di jalan yang datar. Sebagai mobil yang dibuat dengan biaya hampir Rp 3 miliar mobil ini harus dicoba di daerah yang sulit. Terutama melewati jalan yang menanjak. Pikiran saya selalu: bisakah me­ngatasi tanjakan. Apalagi sampai 1.300 meter seperti di Sarangan. Ricky Elson menemani saya.

Ternyata hebat sekali. Se­pan­jang jalan saya terus memuji Mas Danet. Luar biasa. Tari­kan­nya, power-ya dan kemampuan me­nan­jaknya hebat sekali. De­mi­kian juga kemampuan bat­e­rainya. Baru ketika jalan mulai menurun dengan sangat tajamnya, dengan belokan-belokan yang berliku, saya mulai was-was.

Saya harus menginjak rem sekuat tenaga. Saya tidak segera menyadari bahwa Tucuxi ber­beda dengan AhmaDI. Saya tidak segera menyadari kalau Tucuxi ciptaan Mas Danet ini tidak meng­­gunakan gear box. Untuk me­nahan laju Tucuxi, sepenuh­nya hanya menggantungkan pada kekuatan rem. Tidak ada bantuan pengendalian dari gear box!

Tentu saya mencoba untuk se­se­kali mengendorkan rem agar tidak over heated. Ini juga di­sing­gung dalam keterangan pers ter­baru Mas Danet. Tapi setiap kali rem saya longgarkan mobil lang­sung melaju. Padahal jalan ber­kelok-kelok dengan jurang dalam di sisinya. Tentu saya tidak berani tidak menginjak rem kuat-kuat. Mungkin, seperti disebut Mas Da­net, saya memang salah dalam cara mengemudi seperti itu.

Tapi, mengingat jurang-jurang yang dalam di kawasan itu, saya terus menginjak rem dengan kekuatan kaki sekuat-kuatnya. Untung otot kaki saya lumayan kuat karena setiap hari senam satu jam di Monas. Tapi bau menye­ngat akibat rem yang bekerja ke­ras tak tertahankan. Saya me­mu­tuskan untuk berhenti. Sekalian mendinginkan rem. Penurunan ta­jam masih akan panjang dan berliku. Totalnya 15 km. Masih akan sampai di Ngerong.

Waktu berhenti ini, semua orang yang mengerumuni Tucuxi membicarakan soal bau yang menyengat itu. Lantas berfoto-foto di ketinggian lereng gunung Lawu yang indah. Kabut tebal yang menyelimuti jalan dan data­ran tinggi itu menambah keinda­han pemandangan.

Seandainya waktu istirahat ini di­buat lama, sampai rem dingin, mungkin kecelakaan itu tidak ter­j­adi. Tapi saya terikat janji de­ngan Dr Fachri Aly yang akan ke kam­pung saya sore itu. Dan m­a­lamnya kami masih akan sho­la­watan Mau­lid Nabi dengan Habib Syekh dari Solo di kam­pung saya itu.

Kami pun segera berangkat lagi. Tucuxi kembali harus me­nuruni jalan yang curam dan berliku. Kami masih belum me­nyadari bahwa tanpa ban­tuan gear box rem akan bekerja sen­di­rian terlalu keras. Kekuatan kaki saya sepenuhnya untuk me­nginjak rem sedalam-dalamnya. Bau menyengat kembali me­nu­suk-nusuk hidung.

Ketika akhirnya berhasil men­capai Ngerong saya pun lega. Tidak ada lagi penurunan yang cu­ram dan berkelok. Jalan me­mang masih akan terus menurun tapi sudah tidak ekstrem.

Justru di saat hati sudah lega itu­lah saya merasakan rem Tu­cuxi tidak lengket lagi. Mobil me­laju di jalan yang menurun tanpa bisa dihambat oleh rem. Saya coba angkat rem tangan. Sama saja. Mobil kian kencang. Tidak terkendali. Saya sadar sepenuh­nya. Maka saya harus ambil ke­pu­tusan cepat. Terlambat sedikit akan banyak memakan korban.

Saya segera memutuskan ini: lebih baik saya sendiri yang men­jadi korban. Saya lihat ada tebing terjal di kanan jalan. Mumpung ti­dak ada mobil dari arah ber­lawa­nan, saya banting setir mobil itu un­tuk menabrak tebing itu. Braaak! Mobil hancur. Tidak ada lagi atap di atas kepala saya. Tapi saya tidak terpelanting. Saya tetap terduduk di belakang setir. Saya raba kepala saya: tidak ada darah. Saya raba muka saya: tidak ada luka. Saya gerakkan kaki-kaki saya: normal. Tidak ada yang terjepit.

Setelah mengucap syukur ke­pada Allah, saya kembali memuji Mas Danet. Konstruksi mobil ini tidak membuat saya mati terjepit atau menderita luka. Bahkan tergores sedikit pun tidak. Padahal, seperti kata polisi, kaca-kaca mobil ini bukan kaca fiber yang kalau pecah berubah menjadi kristal. Kaca-kaca ini jenis kaca yang pecahnya mem­bentuk segitiga-segitiga kecil. Allahu Akbar!

Saya pun memperoleh pelaja­ran luar biasa hebat: pentingnya fungsi gear box. Karena itu, ke de­pan, masyarakat harus bisa memilih: beli mobil listrik yang pakai gear box atau yang tidak pakai gear box.

Mungkin saya akan meng­ha­dapi masalah hukum akibat pe­langgaran saya ini. Itu akan saya jalani dengan seikhlas-ikhlasnya. Tapi pelajaran teknologi tadi akan menyelamatkan banyak orang di masa depan. Saya akan jalani konsekwensi itu, tapi ilmu pe­ngetahuan harus tetap be­r­kem­bang. Tidak boleh terhenti karena kecelakaan ini.

Mobil listrik harus jaya! Baik Kang Dasep yang menggu­na­kan gear box maupun Mas Danet yang tidak menggunakan gear box sama-sama hebatnya. Sama-sama sudah membuktikan dirinya menjadi putra bangsa yang mem­banggakan. Tucuxi akan di­ke­nang sepanjang sejarah mobil listrik di Indonesia.

Mas Danet akan terus saya do­rong untuk proyek berikutnya. Tentu kalau dia terbuka untuk mendiskusikan teknologinya. Yang penting putra-putra bangsa harus menguasai teknologi mobil listrik. Saya terbuka untuk putra-putra petir yang lain. Mari ber­lom­ba untuk kebaikan negeri. Mumpung negara-negara maju juga baru mulai melakukannya. Kesalahan masa lalu tidak boleh terulang. Kalau mobil listrik tidak kita siapkan sekarang kita akan menyesal untuk kedua kalinya. Kelak, kalau dunia sudah berganti ke mobil listrik jangan sampai kita kembali hanya jadi pasar mobil impor seperti sekarang ini!

Mobil listrik made in Indonesia harus berjaya! Sekaranglah saatnya Indonesia punya kesem­patan bisa bersaing dengan ne­gara maju! 


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

IPW Dinilai Tidak Netral soal Evaluasi Pelaku Tambang Nikel

Jumat, 06 Februari 2026 | 23:47

Megawati Kirim Bunga Buat HUT Gerindra sebagai Tanda Persahabatan

Jumat, 06 Februari 2026 | 23:33

Tiga Petinggi PN Depok dan Dua Pimpinan PT Karabha Digdaya Resmi jadi Tersangka

Jumat, 06 Februari 2026 | 23:13

Reaksi Menkeu Purbaya Ada Anak Buah Punya Safe House Barang Korupsi

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:37

Gerindra Sebar Bibit Pohon Simbol Keberlanjutan Perjuangan

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:25

Gus Yusuf Kembali ke Dunia Pesantren Usai Mundur dari PKB

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:15

Bahlil Siap Direshuffle Prabowo Asal Ada Syaratnya

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:12

Dasco Jaga Kenegarawanan Prabowo dari Ambisi Jokowi

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:05

PDIP Tak Masalah PAN dan PKB Dukung Prabowo Dua Periode

Jumat, 06 Februari 2026 | 21:53

KPK Dikabarkan Sudah Tetapkan 5 Tersangka OTT Depok

Jumat, 06 Februari 2026 | 21:29

Selengkapnya