Dahlan Iskan
Dahlan Iskan
Selama ini, secara ilmiah, memang terjadi perbedaan pandangan di antara lima putra petir yang menciptakan kendaraan/mobil listrik yang saya koordinasikan. Perbedaan pandangan seperti itu juga terjadi di luar negeri yang lagi sama-sama dikembangkan di seluruh dunia.
Ada yang berpandangan, mobil listrik tidak perlu menggunakan gear box. Untuk itu, power dari motor listrik langsung menggerakkan gardan/ roda.
Tapi ahli kita seperti Ir Dasep Ahmadi MSc (alumni ITB), berpendapat mobil listrik harus menggunakan gear box. Ricky Elson, putra Padang yang melahirkan 14 paten motor listrik di Jepang, termasuk golongan ini.
Demikian juga Ravi Desai (alumni Gujarat). Mereka setuju tidak harus pakai gear box, tapi harus hanya untuk mobil dalam kota (city car).
Kecelakaan mobil Tucuxi (baca: tukusi, nama sejenis lumÂba-lumba) yang saya kemudikan di dataran tinggi Tawangmangu-Sarangan Sabtu pekan lalu, memberikan pelajaran yang saÂngat penting mengenai pilihan-pilihan tersebut.
Saya memang tidak ingin meÂnyatukan pendapat mereka. Ilmuwan perlu diberi kebebasan untuk mewujudkan ambisi keÂilÂmuannya. Apalagi saya meÂnangÂkap sinyal para ahli kita itu meÂmang ingin membuktikan kehÂeÂbatan masing-masing. Saya saÂngat menghargai itu. Saya meÂmiÂlih bersikap memberikan otonomi yang luas kepada mereka.
Karena itu ketika Kang Dasep menciptakan mobil AhmaDI deÂngan menggunakan gear box saya dukung penuh. Dana talÂaÂngan langsung saya kirim. Ketika mobil hijau itu jadi kenyataan, saya langsung mencobanya.
Sebenarnya, pada awalnya, saya dan Kang Dasep meÂnangÂgung malu: begitu tiba di Jalan Thamrin Jakarta (dari Depok), moÂÂbil AhmaDI “mogokâ€. Media meliputnya dengan besar-besaÂran. Saya malu sekali. Tapi saya minta Kang Dasep tidak meÂnyeÂrah. Setelah dianalisis, ternyata mobil itu tidak rusak, meÂlainÂkan low batt. Indikator baterainya kuÂrang sempurna sehingga “menipuâ€.
Minggu berikutnya kami berÂdua masih menanggung malu: moÂbil listrik itu tidak kuat meÂnaiki tanjakan. Padahal tidak terÂjal. Padahal perjalanan uji coba ini juga diliput langsung oleh meÂdia secara luas. Sekali lagi saya minta Kang Dasep untuk tidak patah semangat.
Sebetulnya masih banyak “malu†yang lain. Tapi biarlah itu haÂnya kami berdua yang meraÂsaÂkan. Tiga bulan kemudian, ketika mobil AhmaDI kian sempurna, rasa malu itu berubah menjadi bangga. Putra bangsa kita bisa menciptakan mobil listrik. Saya pun mencobanya secara sungguh-sungguh. Saya mengemudikan moÂbil tersebut hampir setiap hari hingga mencapai 1.000 km. Kang Dasep sendiri, di luar 1.000 km yang saya lakukan, mencobanya dari Bandung ke Jakarta melalui Puncak. Tidak ada masalah sama sekali. Tanjakan yang terjal dan tuÂrunan yang curam dilewati deÂngan mudah. Kang Dasep dengan ketekunan dan kecerdasanÂnya boÂleh dikata berhasil gemilang.
Setelah itu saya minta Kang DaÂsep membuat mobil listrik jeÂnis yang lebih besar. Sebesar AlÂphard. Tiga bulan lagi, Insya-Allah, sudah bisa dilihat. Saya sudah setuju untuk memÂbiaÂyaiÂnya. Bahkan saya juga sudah minta Kang Dasep untuk memÂbuat bus listrik.
Seminggu setelah mobil AhmaDI selesai dicoba sampai 1.000 km, mobil Tucuxi bikinan Mas Danet Suryatama (alumni USA) selesai dibuat. Saya pun bertekad untuk mencobanya dengan sungguh-sungguh sampai 1.000 km.
Begitu tiba di Jakarta 19 DeÂsemÂber lalu, mobil Tucuxi (seÂmula saya usul namanya GunÂdala, tapi mas Danet memutuskan nama ini) saya coba dari PanÂcoÂran ke Bandara Soekarno-Hatta. Mas Danet mendampingi saya. Sepanjang perjalanan sekitar 30 km itu saya merasakan apa saja yang menjadi kelebihannya dan apa saja kekurangannya. Mobil tiba di Cengkareng dengan keÂbangÂgaan penuh: Mas Danet heÂbat! Hari pertama ini tidak memÂbawa malu.
Kalau toh ada kekurangannya hanya kami berdua yang tahu. Saya langsung menyampaikan kekurangan-kekurangan itu ke Mas Danet. Saya minta diperÂbaiki. Dua hari kemudian Tucuxi saya coba lagi di sekitar Stadion Utama Senayan. Dua jam lamaÂnya. Tucuxi mengelilingi stadion berkali-kali. Beberapa wartawan secara bergantian ikut mencoba duduk di sebelah saya.
Semua yang menyaksikan terÂliÂhat bangga. Putra Indonesia ternyata hebat-hebat. Beberapa keÂkurangan memang masih teÂrasa. Tapi tidak mungkin diÂperÂbaiki di Jakarta. Maka saya minta Tucuxi dibawa kembali ke Jogja. Mas Danet lantas menuduh saya melakukan pencurian teknologi. Saya tidak begitu jelas teknologi apa yang saya curi dan untuk apa. Syukurlah, dalam keterangan pers terbarunya akhir pekan keÂmarin, Mas Danet tidak lagi meÂnyebut-nyebut soal pencurian tekÂnologi. Yang dipersoalkan tingÂgal kesalahan cara saya meÂngemudi dan (menurut peÂraÂsaÂanÂnya) saya akan meÂnyingÂkirkannya.
Setelah diperbaiki, mobil diÂcoba di sekitar Jogja. Tidak ada maÂsalah. Termasuk sampai KaÂliurang. Tapi suasana sudah kuÂrang nyaman akibat isu pencurian teknologi yang sudah meluas.
Saya sendiri saat itu lagi keliÂling hutan jati milik BUMN di Randublatung, Blora, dan PurÂwodadi. Saya sedang mendesain pola kemitraan antara Perum PerÂhutani dan masyarakat miskin seÂkitar hutan. Saya bermalam di Semarang. Karena mau pulang ke Magetan, saya harus lewat Solo. Karena itu saya minta Tucuxi diÂsiapkan di Solo. Untuk saya coba lewat medan yang berat.
Ini penting karena uji coba selama ini baru dilakukan di jalan yang datar. Sebagai mobil yang dibuat dengan biaya hampir Rp 3 miliar mobil ini harus dicoba di daerah yang sulit. Terutama melewati jalan yang menanjak. Pikiran saya selalu: bisakah meÂngatasi tanjakan. Apalagi sampai 1.300 meter seperti di Sarangan. Ricky Elson menemani saya.
Ternyata hebat sekali. SeÂpanÂjang jalan saya terus memuji Mas Danet. Luar biasa. TariÂkanÂnya, power-ya dan kemampuan meÂnanÂjaknya hebat sekali. DeÂmiÂkian juga kemampuan batÂeÂrainya. Baru ketika jalan mulai menurun dengan sangat tajamnya, dengan belokan-belokan yang berliku, saya mulai was-was.
Saya harus menginjak rem sekuat tenaga. Saya tidak segera menyadari bahwa Tucuxi berÂbeda dengan AhmaDI. Saya tidak segera menyadari kalau Tucuxi ciptaan Mas Danet ini tidak mengÂÂgunakan gear box. Untuk meÂnahan laju Tucuxi, sepenuhÂnya hanya menggantungkan pada kekuatan rem. Tidak ada bantuan pengendalian dari gear box!
Tentu saya mencoba untuk seÂseÂkali mengendorkan rem agar tidak over heated. Ini juga diÂsingÂgung dalam keterangan pers terÂbaru Mas Danet. Tapi setiap kali rem saya longgarkan mobil langÂsung melaju. Padahal jalan berÂkelok-kelok dengan jurang dalam di sisinya. Tentu saya tidak berani tidak menginjak rem kuat-kuat. Mungkin, seperti disebut Mas DaÂnet, saya memang salah dalam cara mengemudi seperti itu.
Tapi, mengingat jurang-jurang yang dalam di kawasan itu, saya terus menginjak rem dengan kekuatan kaki sekuat-kuatnya. Untung otot kaki saya lumayan kuat karena setiap hari senam satu jam di Monas. Tapi bau menyeÂngat akibat rem yang bekerja keÂras tak tertahankan. Saya meÂmuÂtuskan untuk berhenti. Sekalian mendinginkan rem. Penurunan taÂjam masih akan panjang dan berliku. Totalnya 15 km. Masih akan sampai di Ngerong.
Waktu berhenti ini, semua orang yang mengerumuni Tucuxi membicarakan soal bau yang menyengat itu. Lantas berfoto-foto di ketinggian lereng gunung Lawu yang indah. Kabut tebal yang menyelimuti jalan dan dataÂran tinggi itu menambah keindaÂhan pemandangan.
Seandainya waktu istirahat ini diÂbuat lama, sampai rem dingin, mungkin kecelakaan itu tidak terÂjÂadi. Tapi saya terikat janji deÂngan Dr Fachri Aly yang akan ke kamÂpung saya sore itu. Dan mÂaÂlamnya kami masih akan shoÂlaÂwatan MauÂlid Nabi dengan Habib Syekh dari Solo di kamÂpung saya itu.
Kami pun segera berangkat lagi. Tucuxi kembali harus meÂnuruni jalan yang curam dan berliku. Kami masih belum meÂnyadari bahwa tanpa banÂtuan gear box rem akan bekerja senÂdiÂrian terlalu keras. Kekuatan kaki saya sepenuhnya untuk meÂnginjak rem sedalam-dalamnya. Bau menyengat kembali meÂnuÂsuk-nusuk hidung.
Ketika akhirnya berhasil menÂcapai Ngerong saya pun lega. Tidak ada lagi penurunan yang cuÂram dan berkelok. Jalan meÂmang masih akan terus menurun tapi sudah tidak ekstrem.
Justru di saat hati sudah lega ituÂlah saya merasakan rem TuÂcuxi tidak lengket lagi. Mobil meÂlaju di jalan yang menurun tanpa bisa dihambat oleh rem. Saya coba angkat rem tangan. Sama saja. Mobil kian kencang. Tidak terkendali. Saya sadar sepenuhÂnya. Maka saya harus ambil keÂpuÂtusan cepat. Terlambat sedikit akan banyak memakan korban.
Saya segera memutuskan ini: lebih baik saya sendiri yang menÂjadi korban. Saya lihat ada tebing terjal di kanan jalan. Mumpung tiÂdak ada mobil dari arah berÂlawaÂnan, saya banting setir mobil itu unÂtuk menabrak tebing itu. Braaak! Mobil hancur. Tidak ada lagi atap di atas kepala saya. Tapi saya tidak terpelanting. Saya tetap terduduk di belakang setir. Saya raba kepala saya: tidak ada darah. Saya raba muka saya: tidak ada luka. Saya gerakkan kaki-kaki saya: normal. Tidak ada yang terjepit.
Setelah mengucap syukur keÂpada Allah, saya kembali memuji Mas Danet. Konstruksi mobil ini tidak membuat saya mati terjepit atau menderita luka. Bahkan tergores sedikit pun tidak. Padahal, seperti kata polisi, kaca-kaca mobil ini bukan kaca fiber yang kalau pecah berubah menjadi kristal. Kaca-kaca ini jenis kaca yang pecahnya memÂbentuk segitiga-segitiga kecil. Allahu Akbar!
Saya pun memperoleh pelajaÂran luar biasa hebat: pentingnya fungsi gear box. Karena itu, ke deÂpan, masyarakat harus bisa memilih: beli mobil listrik yang pakai gear box atau yang tidak pakai gear box.
Mungkin saya akan mengÂhaÂdapi masalah hukum akibat peÂlanggaran saya ini. Itu akan saya jalani dengan seikhlas-ikhlasnya. Tapi pelajaran teknologi tadi akan menyelamatkan banyak orang di masa depan. Saya akan jalani konsekwensi itu, tapi ilmu peÂngetahuan harus tetap beÂrÂkemÂbang. Tidak boleh terhenti karena kecelakaan ini.
Mobil listrik harus jaya! Baik Kang Dasep yang mengguÂnaÂkan gear box maupun Mas Danet yang tidak menggunakan gear box sama-sama hebatnya. Sama-sama sudah membuktikan dirinya menjadi putra bangsa yang memÂbanggakan. Tucuxi akan diÂkeÂnang sepanjang sejarah mobil listrik di Indonesia.
Mas Danet akan terus saya doÂrong untuk proyek berikutnya. Tentu kalau dia terbuka untuk mendiskusikan teknologinya. Yang penting putra-putra bangsa harus menguasai teknologi mobil listrik. Saya terbuka untuk putra-putra petir yang lain. Mari berÂlomÂba untuk kebaikan negeri. Mumpung negara-negara maju juga baru mulai melakukannya. Kesalahan masa lalu tidak boleh terulang. Kalau mobil listrik tidak kita siapkan sekarang kita akan menyesal untuk kedua kalinya. Kelak, kalau dunia sudah berganti ke mobil listrik jangan sampai kita kembali hanya jadi pasar mobil impor seperti sekarang ini!
Mobil listrik made in Indonesia harus berjaya! Sekaranglah saatnya Indonesia punya kesemÂpatan bisa bersaing dengan neÂgara maju!
Populer
Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25
Senin, 02 Februari 2026 | 13:47
Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07
Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34
Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50
Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41
Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51
UPDATE
Jumat, 06 Februari 2026 | 23:47
Jumat, 06 Februari 2026 | 23:33
Jumat, 06 Februari 2026 | 23:13
Jumat, 06 Februari 2026 | 22:37
Jumat, 06 Februari 2026 | 22:25
Jumat, 06 Februari 2026 | 22:15
Jumat, 06 Februari 2026 | 22:12
Jumat, 06 Februari 2026 | 22:05
Jumat, 06 Februari 2026 | 21:53
Jumat, 06 Februari 2026 | 21:29