Berita

Adhie Massardi: Permintaan Maaf Sutan Bhatoegana Tidak Ikhlas

MINGGU, 02 DESEMBER 2012 | 17:36 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Sebelum meminta maaf kepada keluarga besar almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sutan Bhatoegana terlebih dahulu meminta Adhie M. Massardi juga minta maaf kepada SBY karena pernyataannya dianggap memfitnah Sang Presiden.

Kini, setelah minta maaf kepada keluarga besar Gus Dur di Ciganjur (Kamis, 29/11), giliran Bhatoegana Cs menunggu kapan Adhie minta maaf ke Istana.

Keinginan agar jubir Presiden Gus Dur itu mengikuti langkah Bhatoegana yang katanya secara ksatria mau minta maaf, diungkapkan juga Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi dan Informasi Heru Lelono.

Ketika Rakyat Merdeka Online, petang ini (Minggu, 2/12), mengonrfirmasi hal itu kepada Adhie, koordinator Gerakan Indonesia Bersih itu terperanjat.

“Kalau begitu, permintaan maaf Sutan Bhatoegana kepada keluaga (alm) Gus Dur di Ciganjur Kamis lalu itu tidak ikhlas dong! Ada pamrihnya. Yaitu agar saya juga minta maaf kepada Presiden Yudhoyono? Atau malah jangan-jangan hanya sekedar taktik dia untuk meredam kemarahan kaun Nahdliyin?” tanya Adhie.

Menurut Adhie, menggunakan terminologi ksatria dalam konteks ini tidak tepat. Karena Bhatoegana memutar-balik fakta yang sudah final.

“Gus Dur dilengserkan 100% karena politik. Bukan karena tidak bersih alias korupsi sebagaimana disampaikan Bhatoegana dalam berbagai forum. Ada dokumennya,” ujar Adhie.

“Sedangkan pernyataan saya merupakan bagian dari menjalankan hak konstitusional warga negara untuk menyatakan pendapat, mengritisi pemerintahan. Sebagian sudah ada buktinya, sebagian lagi masih sedang berjalan. Jadi kesalahan maupun kebenarannya masih dalam proses juga,” katanya melanjutkan.

Penyair Negeri Para Bedebah ini memberi contoh soal pernyataannya tentang dugaan gelar Knight Grand Cross in the Order of Bath yang diterima SBY dari Ratu Elizabeth dibarter kontrak baru proyek gas di Blok Tangguh, Papua.

“Ini kan wacana yang berkembang di masyarakat. Buktinya, kalau kita googling dengan kata kunci ‘sby barter gelar’ maka dalam tempo 29 detik akan muncul lebih dari 1.370.000 result. Wacana ini belum tentu salah, sampai ada penjelasan resmi dari si pemberi gelar, yaitu Ratu Elizabeth II, kepada rakyat Indonesia,” jelasnya.

Adhie menjelaskan, pandangan ini bukan tanpa dasar. Dalam bukunya, jenderal kerajaan Inggris Sir Thomas Stamford Bingley Raffles yang pernah berkuasa di Nusantara (1811-1815), mengungkapkan bagaimana cara mudah menaklukan penguasa di Nusantara, terutama di Jawa. Yaitu dengan memberi upeti seperti sutera, dinner set gaya Eropa, kereta kuda, gelar, dan berbagai jenis kehormatan lainnya.

Jadi, katanya, ini bukan soal ksatria atau bukan ksatria. Tapi soal kebohongan dan kenyataan. Kalau soal ksatria, Adhie mengaku sebelum Bhatoegana ke Ciganjur, dia sudah datang seorang diri memenuhi panggilan Komisi Pengawas Partai Demokrat di Menara Sudirman, di bilangan jalan Jenderal Sudirman, Rabu, (28/11) lalu.

Di hadapan tim Komisi Pengawas Partai Demokrat yang dipimpin Wakil Ketuanya, Letjen TNI (Pur) Suaidi Marasabessy, Adhie menjelaskan dan mengulang kritik apa saja yang sering ia lontarkan kepada rezim Yudhoyono.

“Tentu saja saya tidak mungkin minta maaf atas semua kritikan saya kepada Presiden Yudhoyono. Nanti bisa dijadikan preseden, semua yang mengeritik SBY harus minta maaf. Kalau sudah begini, demokrasi kita akan menjadi demokrasi basi. Makanya, Presiden kan memegang kekuasaan atas kepolisian dan kejaksaan. Gunakan saja mekanisme ini kalau memang tidak mau dikritik,” demikian Adhie.  [zul]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya