mahfud-anas
mahfud-anas
Dan Rabu (28/11) kemarin, adalah momentum 'pentasbihan' pengakuan publik akan personality seorang Mahfud. Yaitu merujuk pada hasil survei opinion leader Lembaga Survei Indonesia (LSI). Berdasarkan survei yang melibatkan 223 responden yang terdiri para para kaum intelektual itu, Mahfud MD hampir memenangkan semua kategori.
Karena ketokohan Mahfud MD tersebut, tak ayal hampir semua partai melirik Gurubesar Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII) tersebut. Seperti PKB, PPP, Golkar, Gerindra, Hanura hingga Nasdem. Meski bervariasi, ada yang ingin mendorong sebagai calon presiden, tapi lebih banyak sebagai wakil presiden untuk disandingkan dengan masing-masing jagoan partai itu.
Tapi sejak tadi malam, sebagian kalangan mulai menerka-nerka soal kemungkinan Mahfud bakal berpasangan dengan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Keduanya terlihat serius berbincang di arena Musyawarah Nasional (Munas) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).
Keduanya memang sama-sama alumni HMI. Bahkan Anas saat ini merupakan Pimpinan Kolektif KAHMI. Sedangkan Mahfud, datang ke Pekanbaru, tempat perhelatan Munas, sebagai kandidat pemimpin baru KAHMI. Mahfud diusung KAHMI Yogyakarta untuk jadi pimpinan organisasi alumni mahasiswa tersebut.
Bila dilihat sekilas, Mahfud MD dan Anas bisa saling menutupi jika bergandengan menjadi pasangan calon presiden dan wakil presiden. Mahfud punya syarat untuk menjadi RI 1 sedangkan Anas punya partai, yang akan jadi kendaraan keduanya pada pilpres 2014 mendatang. Meski saat ini Demokrat 'babak belur' tapi sejumlah survei masih menempatkan partai pemenang Pemilu 2009 itu minimal akan berada di partai tengah hasil Pemilu 2014. Karena memang, sesuai UUD 1945, capres dan cawapres harus diusung partai politik atau gabungan partai.
Anas bisa meramaikan bursa pilpres tentu apabila bisa melalui dua hal. Yaitu, apabila ada putusan hukum yang menyebutkan bahwa dia bersih tidak terlibat kasus korupsi proyek pembangunan Pusat Pelatihan Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional ( SP3ON) di Bukit Hambalang, Bogor. Karena selama ini, namanya 'ternoda' akibat pernyataan bekas sejawatnya, M. Nazaruddin yang menyebutnya sebagai aktor di balik mega proyek itu.
Kedua, Anas bisa memenangkan 'pertarungan' di internal partai yang ia pimpin tersebut. Karena, jamak diketahui dan itu sudah menjadi konsensus di tubuh partai berlambang bintang mercy itu, bahwa yang paling berkuasa bukan Anas, melainkan Susilo Bambang Yudhoyono, pendiri dan ikon partai, yang saat ini menjabat Presiden.
Untuk mendapat tiket dari Demokrat tentu tidak mudah bagi Anas. Karena SBY, yang dipastikan tidak bisa kembali bertarung karena sudah dua periode menjabat RI 1, juga disebut-sebut punya jagoan. Jagoannya tak tanggung-tanggung, istrinya Ani Yudhoyono dan besannya Hatta Rajasa, serta Djoko Suyanto, yang saat ini menjabat Menko Polhukam.
Tapi bila kedua hal di atas bisa dilalui Anas dan dia berpasangan dengan Mahfud MD, harapan publik akan lahirnya figur alternatif, yang bukan tokoh 4L (lu lagi lu lagi), akan terpenuhi. Apalagi, berdasarkan survei opinion leader LSI, Mahfud MD paling diusulkan untuk menjadi capres alternatif dengan skor paling tinggi, 79. Indonesia mendatang akan dipimpin sosok yang fresh dan masih dalam umur produktif. Mahfud lahir di Sampang, Madura, Jawa Timur, 55 tahun; sedangkan Anas Urbaningrum tumbuh di Blitar, Jawa Timur, 43 tahun lalu, terpaut 12 tahun dari segi usia.
Walaupun tokoh alternatif, bukan berarti Mahfud tak punya pengalaman di pemerintahan. Mahfud pernah duduk di Kabinet Persatuan Nasional pemerintahan Abdurrahman Wahid meski hanya sebentar. Tapi untuk soal bisa memimpin negara dan pemerintahan, Mahfud MD berada di urutan dua, satu tingkat di bawah Jusuf Kalla, berdasarkan temuan LSI. Jusuf Kalla mendapatkan nilai 79; sedangkan Mahfud MD 74. Dan satu lagi kelebihan Mahfud, agaknya dia satu-satunya tokoh, yang pernah menjabat di tiga pilar kenegaraan, yaitu legislatif saat jadi anggota Komisi III DPR; eksekutif pernah jadi Menteri Pertahanan dan Menteri Hukum dan HAM; serta di yudikatif saat ini, yaitu hakim MK.
Sementara, sebagai orang muda, Anas memang belum punya pengalaman di pemerintahan. Tapi sebagai aktivis dan organisatoris, dan sekaligus pimpinan partai, Anas punya pasukan di DPR dan bisa sebagai bember untuk meloloskan kebijakan-kebijakan yang diambil karena pengalamannya dalam memimpin dan mengorganisasi massa serta keahliannya dalam hal lobi-melobi. Singkatnya, kedua tokoh ini bisa saling mengisi.
Meski memang tantangannya, keduanya sama-sama berasal dari kalangan santri. Tapi untuk yang saat ini, bisa ditutupi dengan keberadaan Partai Demokrat, yang merupakan partai nasionalis.
Apakah keduanya akan berpasangan? Kita lihat saja nanti... [zul]
Populer
Minggu, 05 April 2026 | 09:04
Sabtu, 04 April 2026 | 02:17
Sabtu, 04 April 2026 | 02:23
Selasa, 07 April 2026 | 05:19
Senin, 06 April 2026 | 05:31
Selasa, 07 April 2026 | 12:34
Selasa, 07 April 2026 | 11:04
UPDATE
Rabu, 15 April 2026 | 01:59
Rabu, 15 April 2026 | 01:41
Rabu, 15 April 2026 | 01:13
Rabu, 15 April 2026 | 00:58
Rabu, 15 April 2026 | 00:35
Rabu, 15 April 2026 | 00:06
Selasa, 14 April 2026 | 23:55
Selasa, 14 April 2026 | 23:37
Selasa, 14 April 2026 | 23:12
Selasa, 14 April 2026 | 22:48