Berita

saleh p. daulay

SPD: Ada Banyak Ironi Melihat Realitas Buruh, Tani, dan Nelayan Kita

JUMAT, 16 NOVEMBER 2012 | 14:26 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Persoalan buruh, tani, dan nelayan sangat kompleks dan diliputi berbagai persoalan yang sampai sekarang belum bisa dituntaskan. Buruh domestik dan buruh migrant belum ditangani secara baik. Para petani masih jauh dari tingkat kesejahteraan. Demikian juga para nelayan masih lebih banyak dieksploitasi para pemilik modal.

"Ada banyak ironi melihat realitas buruh, tani, dan nelayan kita," ujar Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, pada acara Silatnas Bidang Buruh, Tani dan Nelayan Pemuda Muhammadiyah dengan tema "Konektivitas Gerakan Pencerahan Buruh, Tani dan Nelayan" di Kampus Universitas Prof. DR Hamka (UHAMKA) Jakarta (Jumat, 16/11).

Di satu sisi, lanjut Saleh, kita melihat jutaan rakyat Indonesia bekerja di luar negeri untuk menghidupi keluarganya. Di sisi lain, di dalam negeri pemerintah belum bisa menyetop tenaga-tenaga kerja asing untuk bekerja di Indonesia. Belum lagi, tingkat kesejahteraan buruh masih tetap memprihatinkan.

Buruh migrant yang bekerja di luar negeri selalu dipuji sebagai pahlawan devisa. Namun, sistem penempatan dan perlindungan mereka masih jauh dari memuaskan. Setiap waktu persoalan buruh migrant selalu menghiasi berita-berita nasional. Bahkan, tidak jarang isu-isu yang ada bisa mengganggu hubungan bilateral antara Indonesia dengan negara-negara dimana buruh migrant banyak ditempatkan.

Dalam bidang pertanian, Indonesia selama ini dikenal sebagai negara agraris. Namun pada kenyataannya, Indonesia sampai hari ini masih tetap mengimpor beras dari luar negeri. Petani beras sulit mendapatkan kesejahteraan. Bahkan untuk harga gabah saja, pemerintah kelihatannya belum berpihak dengan mereka.

Dalam bidang kelautan, Indonesia dikenal sebagai negara maritim yang kaya dengan sumber daya laut. Tetapi, hasil laut Indonesia lebih banyak mensejahterakan para pengusaha dan nelayan-nelayan asing yang mencuri ikan di Indonesia.

Ironi-ironi tersebut sudah diketahui oleh pemerintah. Sayangnya, sambung Saleh, sampai hari ini pemerintah tidak memiliki political will untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Padahal, suara buruh, tani, dan nelayan sangat menentukan dalam setiap kontestasi peralihan kekuasaan di Indonesia. [zul]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

Ngobrol Serius Bareng Macron

Rabu, 15 April 2026 | 01:59

Diplomasi Konstruktif Diperlukan Buat Akhiri Perang di Selat Hormuz

Rabu, 15 April 2026 | 01:41

BGN Bantah Hapus Pemberian Susu dalam Program MBG

Rabu, 15 April 2026 | 01:13

Pujian Habiburokhman ke Polri soal Transparansi Sesuai Realitas

Rabu, 15 April 2026 | 00:58

Prabowo Disambut Pasukan Kehormatan saat Temui Macron di Istana Élysée

Rabu, 15 April 2026 | 00:35

Taman Sunyi: Sebuah Pembelaan atas Rumah-Rumah Fantasi

Rabu, 15 April 2026 | 00:06

Maruli Tuntut Yayasan Tanggung Biaya Perawatan Head Chef SPPG

Selasa, 14 April 2026 | 23:55

DPR Sambut Baik MDCP: Bisa Buka Kerja Sama Lain

Selasa, 14 April 2026 | 23:37

AFPI Buka Suara Usai Didenda KPPU: Kami Hanya Melindungi Konsumen

Selasa, 14 April 2026 | 23:12

Denda Rp755 Miliar ke Perusahaan Pinjol Menguak Borok Regulasi

Selasa, 14 April 2026 | 22:48

Selengkapnya