Berita

dahnil anzar simanjuntak

Jangan Sampai Jokowi Kabulkan Tuntutan Buruh hanya Demi Popularitas

JUMAT, 16 NOVEMBER 2012 | 13:59 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Orientasi populis yang mengabaikan kepentingan jangka panjang dengan memamfaatkan miopia dan ketidakpahaman masyarakat berbahaya bagi ekonomi dan pembangunan Indonesia.

"Kasus UMP  DKI yang mencapai 2,2 juta dan demo buruh mendesak UMP mencapai 2,7 juta mencerminkan fakta tersebut," ujar ekonom Dahnil Anzar Simanjutak kepada Rakyat Merdeka Online Jumat (16/11).

Sebelumnya, dalam rapat di Balai Kota, Rabu (14/11), Dewan Pengupahan menetapkan UMP Rp 2.216.243,68, naik sekitar 112 persen dari kebutuhan hidup layak Rp1.978.789 per bulan. Pengusaha menolak angka ini dan langsung walk out dari ruang rapat. Bahkan mereka berencana menggugat Pemerintah DKI Jakarta apabila menetapkan UMP 2,2 juta tersebut.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sendiri belum memberikan persetujuan atas UMP Provinsi DKI tersebut. Karena pengusaha dan serikat belum ada kesepakatan. Apalagi dia mengaku belum mendapatkan laporan hasil pertemuan Dewan Pengupahan tersebut.

Melanjutkan keterangannya, Dahnil mengakui bahwa semua pihak bersepakat bahwa buruh harus sejahtera. Tapi, katanya, perlu disadari bahwa hampir 80 persen bisnis di Indonesia adalah usaha kecil dan pasti mengalami kesulitan ketika UMP sangat tinggi.

"Belum lagi UMP tinggi mengancam potensi PHK yang juga tinggi atau industri besar akan lari karena merasa Indonesia tidak kompetitif dan kondusif bagi investasi. Kondisi seperti ini sebenarnya mengancam buruh itu sendiri," ungkapnya.

Yang paling berbahaya, masih kata Dahnil menambahkan, adalah politisi dan pejabat negara, kepala daerah yang memanfaatkan desakan buruh untuk UMP ini sebagai arena pencitraan populis. "Tindakan-tindakan ini akan membahayakan ekonomi Indonesia di masa yang akan datang," demikian pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang ini. [zul]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

Ngobrol Serius Bareng Macron

Rabu, 15 April 2026 | 01:59

Diplomasi Konstruktif Diperlukan Buat Akhiri Perang di Selat Hormuz

Rabu, 15 April 2026 | 01:41

BGN Bantah Hapus Pemberian Susu dalam Program MBG

Rabu, 15 April 2026 | 01:13

Pujian Habiburokhman ke Polri soal Transparansi Sesuai Realitas

Rabu, 15 April 2026 | 00:58

Prabowo Disambut Pasukan Kehormatan saat Temui Macron di Istana Élysée

Rabu, 15 April 2026 | 00:35

Taman Sunyi: Sebuah Pembelaan atas Rumah-Rumah Fantasi

Rabu, 15 April 2026 | 00:06

Maruli Tuntut Yayasan Tanggung Biaya Perawatan Head Chef SPPG

Selasa, 14 April 2026 | 23:55

DPR Sambut Baik MDCP: Bisa Buka Kerja Sama Lain

Selasa, 14 April 2026 | 23:37

AFPI Buka Suara Usai Didenda KPPU: Kami Hanya Melindungi Konsumen

Selasa, 14 April 2026 | 23:12

Denda Rp755 Miliar ke Perusahaan Pinjol Menguak Borok Regulasi

Selasa, 14 April 2026 | 22:48

Selengkapnya