Berita

Teguh Santosa: Demokratisasi di Tindouf Jalan Keluar Selesaikan Konflik Sahara Barat

KAMIS, 11 OKTOBER 2012 | 11:12 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Komunitas internasional bertanggung jawab menghadirkan demokrasi di kamp Tindouf yang terletak di Aljazair. Ketiadaan demokrasi di kamp tersebut membuat pembicaraan damai dan upaya penyelesaian sengketa Sahara Barat menjadi terhambat.

Sejak pembicaraan damai kembali dilakukan pada 2007, pemerintah Maroko telah membuka diri dengan menawarkan konsep otonomi khusus. Proposal otonomi khusus Maroko itu diakui pemimpin-pemimpin dunia sebagai proposal yang paling memadai dan jalan keluar paling visible untuk mengakhiri konflik yang terjadi sejak pertengahan 1970an itu.

Di sisi lain, kelompok separatis Polisario yang berkuasa di Tindouf sejak lama dan didukung penuh Aljazair sama sekali menutup pintu.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Maroko atau Sahabat Maroko, Teguh Santosa, ketika berbicara dalam pertemuan Komisi Politik Khusus dan Dekolonisasi atau Komisi Empat Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Rabu siang waktu setempat (10/10).

"Ini bukan kejutan yang besar manakala kita memahami bahwa masyarakat yang tinggal di Tindouf (sekalipun) mengalami situasi tidak demokrasi, seperti ketiadaan hak dasar dan fundamental, ketiadaan kebebasan untuk bergerak, ketiadaan akses terhadap bahan makanan dan perawatan kesehatan yang memadai, dan juga ketiadaan perlindungan dari personel militer dan lingkungan militer," ujar Teguh.

Teguh merupakan salah satu petisioner yang diundang Komisi Empat PBB untuk memberikan pandangan mengenai konflik di Sahara Barat. Ini adalah kali kedua Ketua bidang Luar Negeri PP Pemuda Muhammadiyah itu diundang Komisi Empat PBB untuk membahas masalah Sahara Barat.

Bersama beberapa wilayah lain di berbagai kawasan di dunia, seperti Kepulauan Falkland atau Malvinas, Kepulauan Cayman, Kepulauan Virgin, dan Gilbraltar serta Samoa-Amerika, Sahara Barat yang pernah dijajah Spanyol hingga 1976 dinyatakan sebagai wilayah yang tidak memiliki pemerintahan sendiri (non self-governing territories).

Dalam perjanjian di Fez tahun 1912, Prancis dan Spanyol sepakat membagi dua Maroko. Wilayah utara berada di bawah perlindungan Prancis. Sementara wilayah selatan yang kini disebut sebagai Sahara Barat dikuasai Spanyol. Prancis meninggalkan wilayah utara pada 1956. Sejak saat itu, Maroko menggalang perlawanan untuk mendapatkan kembali wilayah selatan yang masih dikuasai Spanyol.

Menyusul krisis di di Eropa pada pertengahan 1970an, Spanyol meninggalkan wilayah selatan Maroko pada 1976.

"Ketika saya mengunjungi Sahara, saya bertemu dengan mantan pengungsi yang melarikan diri dari Tindouf. Beberapa dari mereka adalah pendiri Polisario dan pemimpin Polisario. Cerita yang mereka sampaikan memberikan gambaran umum kepada saya mengenai situasi sulit yang ada di Tindouf," ujar Teguh lagi.

Belakangan ini, sambung Teguh, masyarakat internasional mendapatkan laporan mengenai intimidasi dan penyiksaan yang dialami pengungsi Tindouf. Laporan lain menyebutkan pimpinan Polisario terlibat dalam korupsi dan penggelapan bantuan kemanusiaan yang diberikan berbagai pihak internasional. Banyak dari bantuan kemanusiaan itu dijual di negara-negara di sekitar Aljazair.

"Kini juga ada laporan yang menyebutkan keterlibatan anggota Polisario dalam jaringan teroris yang ada di kawasan Sahel," demikian Teguh. [zul]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya