Berita

DAHLAN ISKAN

Dahlan Iskan

MANUFACTURING HOPE 33

Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan Sebagai Kuntilanak

OLEH DAHLAN ISKAN, Menteri BUMN
SENIN, 02 JULI 2012 | 08:36 WIB

RMOL.Apa kabar PT Kertas Leces (Persero)? Yang sudah lebih dari dua tahun mati suri? Yang selama itu nasib karyawannya tidak menentu? Yang diyakini tidak akan bisa hidup lagi kalau tidak digerojok uang negara Rp 200 miliar? Sejak dua minggu lalu pabrik kertas yang sangat besar yang berlokasi di selatan Probolinggo ini sudah mulai siuman. Tanda-tanda kehidupan sudah mulai kelihatan. Suara mesin sudah kembali menderu. Leces hidup lagi! Bukan sebagai mayat berjalan, tapi sebagai pasien yang sudah bisa dipaksa berjalan.

Semula negara sudah setuju kembali menggerojok uang Rp 200 miliar ke Leces. Tapi ketika saya diangkat jadi Menteri BUMN rencana penggerojokan itu saya minta ditunda. Saya ingin lihat dulu apakah benar persoalan pokoknya pada modal. Apakah bukan pada manajemen. Ini harus saya pelajari dulu, agar negara

tidak mudah begitu saja menggerojokkan dana ratusan miliar.

Belum tentu dengan dana tersebut pabrik kertas, atau bisnis apa pun yang lagi kesulitan, bisa diselamatkan. Kadang satu manajemen memiliki kecenderungan untuk mencari jalan yang paling mudah. Alasan ketidakcukupan modal adalah kambing hitam yang sangat lezat disate dan disuguhkan. Tapi dari pengalaman saya belum tentu akar masalahnya di modal. Sering kali pokok persoalannya di manajemen itu sendiri.

Memang banyak yang sewot ketika saya menyetop pengucuran dana itu. Untuk apa distop? Kan sudah disetujui? Tinggal dicairkan? Kok bodoh amat diberi uang ratusan miliar tidak segera ditangkap?

Tentu saya tidak akan tergo­yah­kan dengan penilaian seperti itu. Kalau memang ada jaminan de­ngan pencairan dana tersebut Le­ces pasti hidup, saya pun akan lang­sung setuju. Masalah­nya ja­mi­nan pasti hidup itu yang tidak ada.

Terbukti gerojokan uang ratu­san miliar di tahun-tahun yang lalu juga tidak berhasil meng­hi­dupkan Leces. Uang itu habis lagi dan habis lagi. Dan kecen­de­rungannya akan minta lagi dan minta lagi.

Untuk Leces saya melihat per­soalan pokok di manajemen. Itu bisa saya rasakan ketika saya ber­malam di komplek pabrik kertas Leces di malam Idul Adha lalu. Saya melihat manajemen sudah betul membangun boiler baru de­ngan bahan bakar batu­bara. Itu akan membuat biaya energi Leces jauh lebih murah. Saya salut de­ngan pemikiran dan langkah itu.

Tapi untuk menghidupkan Leces tidak cukup hanya de­ngan satu langkah. Dia mem­butuhkan pu­luhan, bahkan ratu­san terobo­san. Itulah sebabnya diperlukan manajemen yang lebih kuat.

Tidak gampang menemukan tim manajemen yang tangguh. Apalagi untuk ‘dijerumuskan’ ke dalam perusahaan yang sedang pingsan. Tim manajemen yang kuat tentu ingin masuk ke peru­sahaan yang besar dan bagus.

Leces rupanya masih bernasib baik. Seseorang yang bernama Budi Kusmarwoto mau dijeblos­kan ke situ. Pengalamannya yang panjang saat menjadi direktur anak perusahaan PLN (PT PLN Engeneering) memudahkannya menganalisis kondisi Leces. Orang­nya juga tidak egois.

Ke­tika diminta membentuk dream team untuk manajemen Leces, Budi tidak serta merta mengajak rombongan dari luar masuk ke Leces. Budi memilih orang-orang dalam untuk menjadi timnya.

Sebagai mantan Dirut PLN tentu saya mengenal Budi dengan baik. Antusiasmenya meledak-le­dak. Gairah kerjanya tidak pernah padam. Kecintaan­nya pada pe­kerjaan membuat motto hidupnya hanya kerja, kerja, kerja!

Antusiasme itu yang juga ter­lihat menular ke seluruh tim Le­ces sekarang ini.  Sebagaimana saya, Budi juga berpandangan ini: untuk menghidupkan Leces tidak perlu gerojokan dana dari kas negara.

Kni Leces hidup lagi tanpa men­dapat modal baru satu rupiah pun. Kalau kelak Leces berhasil maju kembali, seluruh karya­wan­nya tentu akan sangat bangga: bisa maju tanpa modal!  Kar­ya­wan bisa menunjukkan bahwa tambahan modal bukan segala-galanya!

Tentu, karena sudah terlanjur disetujui, Budi tetap berharap dana Rp 200 miliar itu bisa cair. Bu­kan lagi untuk modal, tapi un­tuk membayar utang lama. Di masa lalu, Leces meninggalkan utang hampir Rp 1 triliun. Ma­na­jemen Leces berhasil me­lakukan negosiasi: kalau Leces mau bayar Rp 150 miliar utang hampir Rp 1 triliun itu dianggap lunas.

Utang yang sudah berumur lebih 10 tahun itu harus dibayar. Ka­lau tidak, utang itu akan me­musingkan manajemen baru yang sedang dituntut untuk maju.  Budi juga berencana meng­­gunakan dana sisanya un­tuk membangun hu­tan tanaman industri. Untuk mencukupi ba­han baku Leces di masa depan. Tentu saya setuju de­ngan dua rencana itu: bayar utang dan hu­tan tanaman industri. Per­soalannya, belum tentu ang­garan yang sudah disetujui untuk modal bisa dialihkan untuk bayar utang.

Di sinilah BUMN akan sel­alu ka­lah lincah dengan swasta.  Apa pun kasus menghidupkan kem­bali Leces ala Budi akan menjadi perhatian saya. Maksud saya pe­rusahaan seperti galangan kapal IKI Makassar yang juga sudah lama mati, bisa hidup kembali de­ngan cara yang sama. Demikian juga pabrik PT Iglas yang lagi dalam kesulitan.

Kelak, kalau Leces sudah se­hat, ha­rus segera di-go public-kan. In­dustri kertas tidak lagi me­nempati posisi strategis bagi ne­gara. Tidak selayaknya lagi ne­ga­ra terus menggerojokkan dana un­tuk in­dustri seperti Le­ces. Se­makin banyak modal pu­b­lik ma­suk ke dalamnya akan se­makin baik.  Leces memang be­lum teruji akan menjadi peru­sa­haan yang pasti akan hidup se­hat. Masih harus dilihat dalam satu periode tertentu.

Tapi setidaknya Leces kini sudah kembali berjalan: bukan sebagai kuntilanak, tapi sebagai badan yang sudah lengkap dengan rohnya. Roh antusias dan roh penuh kiat!


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

BRI Catat 6.022 Debitur KUR di Pangkalpinang, Didominasi Petani Sawit

Senin, 29 Juni 2026 | 22:23

Mengenal Emission Trade System

Senin, 29 Juni 2026 | 22:06

KPK Perpanjang Penahanan ASN BPK Sumsel Titin Rita Lestari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:52

DPR Minta Polisi Segera Penjarakan Penganiaya Caddy di Tangerang

Senin, 29 Juni 2026 | 21:36

Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Perkuat Resiliensi Media demi Pembangunan Papua

Senin, 29 Juni 2026 | 21:34

Ahmad Muzani Bicara Potensi Wisata Religi Saat Temui Ketua MPR Uzbekistan

Senin, 29 Juni 2026 | 21:32

Bupati Muara Enim Edison Masih Nginep di Rutan KPK dalam 40 Hari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:14

DMO dan RKAB Harus jadi Prioritas Amankan Pasokan Batu Bara

Senin, 29 Juni 2026 | 20:44

Hampir Rampung, Sekolah Rakyat Kementerian PU di Bekasi Usung Gentengisasi

Senin, 29 Juni 2026 | 20:36

Brasil vs Jepang: Duel Raksasa di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Senin, 29 Juni 2026 | 20:28

Selengkapnya