Berita

Dunia

PEMILU MAROKO

Marie Kakon, Yahudi Pertama yang Jadi Calon Anggota DPR

KAMIS, 24 NOVEMBER 2011 | 10:29 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Nama lengkapnya adalah Marie-Yvonne “Maguy” Kakon. Wanita berusia 57 tahun ini menjadi satu-satunya keturunan Yahudi yang mencalonkan diri dalam pemilihan umum di Maroko. Sekitar 7.000 calon anggota DPR bertarung untuk memperebutkan kursi parlemen di negeri berpenduduk 36 juta jiwa ini dalam Pemilu yang akan digelar besok (Jumat, 25/11).

Politisi wanita adalah sesuatu yang amat jarang di dunia Arab. Kehadiran Kakon di pentas politik Maroko dianggap sementara kalangan sebagai bukti lain dari praktik politik Maroko yang matang. Maroko menjadi satu-satunya negara Afrika Utara yang selamat dari demam revolusi di Afrika Utara. Empat negara tetangga Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya dan Mesir, mengalami gelombang demokratisasi yang mematikan.

Presiden Ben Ali terpaksa meninggalkan Tunisia bulan Februari lalu. Sementara Hosni Mubarak setelah terjungkal dari kekuasaannya kini menghadapi peradilan korupsi dan kejahatan HAM. Adapun Muammar Kadhafi tewas secara tragis di tangan rakyat yang marah dan membenci dirinya. Sebegitu benci kaum oposisi pada Kadhafi, sampai-sampai ia dikuburkan di sebuah tempat yang dirahasiakan.

Maroko memiliki tradisi politik yang berbeda. Sejak merdeka dari Prancis pada 1956, kerajaan ini telah mengubah dirinya menjadi monarki konstitusional. Parlemen memiliki kekuasaan yang memadai untuk membikin undang-undang, dan perdana menteri menjalankan pemerintahan di bawah supervisi raja. Kelompok oposisi tumbuh subur mewarnai panggung politik.

Pada Juli lalu, Maroko menggelar referendum untuk mengamandemen konstitusi. Itu adalah amandemen konstitusi kesekian yang dilakukan kerajaan itu sejak merdeka. Amandemen kali ini dipandang banyak kalangan semakin memperkuat pondasi demokrasi Maroko.

Sebelumnya perdana menteri dipilih raja. Tetapi kini, perdana menteri dipilih dari partai yang memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan umum. Kekuasaan kehakiman juga dipisahkan dari institusi kerajaan. Pasal-pasal perlindungan HAM semakin ditegaskan di dalam konstitusi baru. Hal lain yang diacungkan jempol oleh banyak kalangan adalah pengakuan terhadap bahasa Berber atau Amazigh sebagai bahasa nasional disamping bahasa Arab.

Kembali ke Kakon yang juga dikenal sebagai penulis belasan buku tentang tradisi Yahudi di Maroko. Dia bukan wanita yang baru terjun ke kancah politik. Di tahun 2007 lalu, Kakon dan partainya juga ikut dalam pemilihan umum. Ia berhasil memperoleh jumlah suara yang memadai untuk masuk parlemen, yakni 30 ribu suara. Namun karena partainya gagal mendapatkan parliamentary threshold sebesar 6 persen, Kakon terpaksa batal jadi anggota parlemen.

Bagi Kakon, identitasnya sebagai orang Maroko jauh lebih menonjol dari cerita masa lalu yang menempatkannya sebagai bagian dari masyarakat Yahudi.

Maroko dan Israel yang dianggap sebagai negeri Yahudi tidak memiliki hubungan diplomatik. Namun Maroko tidak pernah menganggap Israel sebagai musuh yang harus dihabisi.

Keturunan Yahudi tinggal di Maroko jauh hari sebelum Muslim masuk ke negeri di ujung barat Afrika itu yang berdiri sejak abad ke-8 itu. Pada abad ke-15, Maroko menjadi tempat pelarian orang-orang Yahudi yang menghindarkan pasukan Spanyol. Hingga 1950an disebutkan sekitar 30 ribu orang Yahudi tinggal di Maroko. Kini keturunan Yahudi di Maroko hanya tinggal sebanyak 2.500 jiwa. Sebagian besar terkonsentrasi di Kasablanka, Agadir dan Marakesh.

Dilihat dari jumlah orang Yahudi Maroko yang kecil sementara dukungan yang diperoleh Kakon dalam pemilihan umum 2007 begitu besar, dapat disimpulkan bahwa bagi masyarakat Maroko, yang paling penting dalam politik adalah komitmen dalam membangun negara, bukan soal darah dan asal usul yang dikembangkan dari cerita di masa lalu.

Kokan sendiri bukan orang Yahudi pertama yang mendapat tempat di panggung politik Maroko. Serge Berdugo mantan menteri pariwisata Maroko di era 1990an juga seorang Yahudi. Begitu juga dengan Andre Azoulay. Sebelum menjadi penasihat Raja Muhammad VI, Azoulay lebih dahulu bertugas menjadi penasihat bagi sang ayah, Hassan II. [guh]


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya