Berita

alkatiri-nurima/ist

Dunia

Inilah Nurima, Putri Sulung Mari Alkatiri

JUMAT, 09 SEPTEMBER 2011 | 10:55 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Namanya Nurima Riberio Alkatiri. Sudah dua hari ini wanita itu terlihat begitu sibuk di arena Kongres Nasional III Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente (Fretilin), di Dili, Timor Leste.

Mahasiswi program master studi lingkungan hidup di salah satu universitas di Darwin, Australia itu, hilir mudik hampir tiada henti, dari satu sudut ke sudut lain di dalam Dili Convention Center yang menjadi lokasi kongres. Nurima bertanggung jawab mengurusi berbagai hal yang berkaitan dengan protokoler, mulai dari memastikan kehadiran peserta kongres dan berbagai delegasi partai maupun peninjau dari luar negeri, sampai memastikan setiap mata acara berjalan sesuai rencana.

Dia juga melibatkan diri di stasiun radio yang dikelola partai itu. Dan di arena Kongres, kru Radio Fretilin tampak sibuk meliput dan merelai jalannya Kongres.


Nurima adalah anak sulung mantan Perdana Menteri Timor Leste dan Sekretaris Jenderal Fretilin, Mari Alkatiri. Ia lahir di Mozambik pada tahun 1983, delapan tahun setelah keluarga Alkatiri menetap di negara itu. Alkatiri dan istinya, Marina Ribeiro, meninggalkan tanah air mereka setelah Indonesia yang didukung Amerika Serikat dan negara-negara barat menduduki Timor Leste pada Desember 1975. Marina Ribeiro hingga kini masih berada di Mozambik sebagai Dutabesar Timor Leste. Begitu juga anak bungsu keluarga itu, Solok Alkatiri. Sementara anak kedua, Lukito Alkatiri, tengah menyelesaikan pendidikan master di Portugal.

Menurut Nurima, tahun ini ia terpaksa meninggalkan bangku kuliah untuk membantu ayahnya dan Fretilin. Konsolidasi partai harus dilakukan menjelang pelaksanaan pemilihan umum yang semakin dekat.

Apakah Nurima akan terjun ke politik mengikuti jejak ayahnya?

Menurut Nurima, lebih senang membantu ayahnya dan Fretilin di belakang layar. Ibu dua putri ini juga belum punya rencana untuk mengikuti jejak Wan Azizah, putri politisi Malaysia, Anwar Ibrahim, yang kini menjadi salah satu ikon politisi muda negeri jiran itu.

"I am just a simple member (of Fretilin)," jawab Nurima dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka Online di arena kongres.

Sebagai anak Alkatiri, Nurima jelas bukan anggota biasa. Dia sendiri tidak merasa perlu untuk memisahkan image dirinya dengan image ayahnya yang terpandang itu.

"Saya bangga dengan ayah saya. Bukan karena ia Sekjen Fretilin. Saya mengagumi ayah saya apa adanya. Setiap kali menjalani karier, saya harus ingat bahwa saya adalah anak Alkatiri, dan karenanya saya selalu berada di spotlight," ujar Nurima.

Walau bukan anggota biasa, tapi lihatlah: Nurima tidak berpangku tangan. Dia bagai gasing yang berputar-putar hampir tak mengenal henti di arena Kongres. Dia bukan jenis anak pendiri atau ketua umum partai politik yang senang duduk berleha-leha bagaikan putra dan putri raja.

Sementara Nurima terlihat begitu sibuk, di depan ayahnya dan Presiden Fretilin Lu Olo memperhatikan dengan seksama setiap pandangan yang disampaikan anggota Kongres.

Alkatiri kembali menjadi sekjen Fretilin. Bersama Fransiscus Guterres "Lu Olo" yang menjadi presiden Fretilin, ia menang dalam pemilihan tanggal 20 Agustus lalu. Dalam pemilihan yang diikuti 166 ribu anggota Fretilin itu, pasangan Lu Olo dan Alkatiri melawan kotak kosong karena memang hanya ada satu pasang kandidat saja. Lu Olo dan Akatiri menang dengan perolehan suara 95 persen.

Seperti umunya anggota Fretilin, Nurima menilai bahwa pemilihan tanggal 20 Agustus lalu itu adalah pertanda bahwa Fretilin tengah berada di atas segalanya dan sangat siap untuk mengikuti pemilihan umum yang akan diselenggarakan antara Juni dan Juli tahun depan. Bila memenangkan mayoritas kursi di Parlemen, bisa dipastikan partai itu akan menempatkan Mari Alkatiri kembali menjadi perdana menteri. Adapun Lu Olo bisa jadi dicalonkan partai itu dalam pemilihan presiden yang akan lebih dahulu digelar di bulan Maret.

Apa yang akan terjadi kalau Fretilin kalah?

"Saya yakin Fretilin tidak akan kalah," jawabnya.

Di Timor Leste Fretilin bukan partai biasa. Ia adalah partai pertama yang memperjuangkan kemerdekaan Timor Leste dari Portugis, juga dari negara-negara barat yang menggunakan Indonesia. Pada tahun 1975 ketika  meninggalkan Timor Leste pada 4 Desember, Alkatiri adalah menteri urusan politik Fretilin dan juga negara Timor Leste. Dalam pemilihan 2002 Fretiin berhasil menguasai parlemen, dan Alkatiri menjadi perdana menteri. Namun di tahun 2006 ia terpaksa mengundurkan diri menyusul konflik yang semakin memanas di panggung politik nasional. Tahun 2007 Fretilin kembali menang dalam pemilihan umum. Namun kali ini jumlah kursi yang mereka peroleh turun. Akibatnya, dengan mudah CNRT yang didirikan Zanana Gusmao membangun koalisi untuk mengalahkan Fretilin. 

Bagaimana Nurima memandang Indonesia?

Nurima menginjakkan kaki pertama kali di Timor Leste pada tahun 2000, setahun setelah referendum yang menghasilkan pemisahan diri Timor Leste dengan Indonesia digelar.

Di awal-awal, akunya, dia punya perasaan yang sulit untuk digambarkan tentang Indonesia. Maklumlah, sedari kecil yang dia tahu Indonesia adalah negara yang menduduki negaranya.

Pandangan Nurima tentang Indonesia mulai berubah setelah ia mengunjungi Bali pada tahun 2001. Setelah itu, di tahun 2005 ia mengunjungi Surabaya, dan mengunjungi Jakarta setahun kemudian.

"Indonesia adalah negeri yang begitu besar dengan begitu banyak suku dan bangsa. Saya kira, kita dapat belajar dari manapun, tentu saja juga dari Indonesia."

"Saya rasa hubungan Indonesia dan Timor Leste sedang berada dalam posisi terbaik," sambungnya.

Bagaimana dengan catatan kelam yang mewarnai hubungan kedua negara?

"Masa lalu perlu untuk diingat. Tetapi kita tidak hidup di masa lalu. Kita hidup di masa kini untuk melangkah ke masa depan," demikian Nurima. [guh]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya