Berita

Enam Dosa Boediono yang Dicatat Hatta dan Din Syamsuddin yang Mungkin Lupa

SABTU, 30 JULI 2011 | 14:31 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Pertemuan tertutup selama dua jam lebih antara Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Wakil Presiden Boediono kemarin (Jumat, 29/7) masih jadi pembicaraan di kalangan kaum oposisi.

Mantan anggota DPR, Hatta Taliwang, termasuk pihak yang mempertanyakan maksud dan tujuan pertemuan yang juga dihadiri oleh sejumlah aktivis Muhammadiyah itu.

"Dengan enam dosa besar Boediono, kok Prof. Din Syamsuddin dan atau Muhammadiyah berangkulan dengan Boediono?" tanya Hatta Taliwang.


Beberapa waktu lalu mantan anggota Partai Amanat Nasional (PAN) itu pernah, katakanlah, menerbitkan daftar enam dosa yang pernah diperbuat Boediono.

Dosa pertama dalam daftar itu adalah keterlibatan Boediono yang ketika itu adalah Direktur Analis Perkreditan BI di balik kebijakan BLBI di tahun 1997. Kebijakan itu membuat Indonesia mengalami kerugian hingga Rp 700 triliun. Hatta mengutip pengakuan mantan Menteri Keuangan terakhir Orde Baru, Fuad Bawazier, yang suatu kali mengatakan dirinya diperintah Soeharto untuk memecat Boediono. Karena keterlibatannya di balik BLBI itu pula, Fuad Bawazier menyebut Boediono sebagai residivis BLBI.

Adapun dosa kedua dilakukan ketika Boediono menjadi Menteri Keuangan di era Megawati Soekarnoputri. Adalah Boediono yang merancang kebijakan release and discharge yang menguntungkan pengemplang BLBI. Untuk kebijakan yang satu ini negara dirugikan Rp 300 triliun.

Dosa ketiga adalah turunan dari dosa pertama dan kedua. Bank-bank yang ditutup harus diselamatkan melalui skema rekapitalisasi sampai 30 tahun. Dan itu artinya kerugiaan tersebut harus ditanggung rakyat lewat APBN bernilai puluhan triliun rupiah.

Selanjutnya adalah dosa keempat. Di tahun 2003 pemerintah Amerika Serikat mengucurkan program pinjaman senilai 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 15 triliun. Pinjaman ini diberikan untuk pengembangan koperasi dan dunia pertanian. Boediono malah "menggunakan" bantuan itu untuk menyelamatkan bank plat merah berukuran kecil yang sakit-sakitan, yakni Bank CIC. Sekitar setahun kemudian bank sakit itu dimerger dengan dua bank sakit lainnya menjadi Bank Century.

Dosa kelima yang dilakukan Boediono adalah yang paling populer belakangan ini, yakni pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) yang dikucurkan BI dan danatalangan yang dikucurkan KSSK untuk Bank Century senilai Rp 6,7 triliun. Ketika dua kebijakan itu diambil, Boediono adalah Gubernur BI dan anggota KSSK.

Terakhir, dosa keenam Boediono, masih menurut daftar yang dihimpun Hatta, berkaitan dengan skandal pajak Bank Mandiri yang merugikan negara sebesar Rp 2,2 triliun. Kasus ini telah berkali-kali disampaikan Sekjen Asosiasi Pembayar Pajak Indonesia (APPI) Sasmito Hadinagoro. Bahkan, dalam banyak seminar mengenai kejahatan keuangan di Indonesia, Sasmito memberikan gelar Bapak Pornografi Keuangan Indonesia untuk Boediono.

Wajar bila kaum oposisi mempertanyakan sikap yang diperlihatkan Din Syamsuddin terhadap Boediono. Bukankah selama ini Din termasuk dalam golongan yang kerap bersuara keras terhadap pemerintah?

Mungkinkah ia mendadak lupa? Kalau ia memang lupa, mengapa?[guh]

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Investor Diminta Wait and See, Pengamat Prediksi Banyak yang Ditangkap Imbas MSCI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:30

Serangan Houthi Ganggu Ajang Olahraga Saudi, Piala Asia Tetap Sesuai Jadwal

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:14

Putusan MK soal UU Peradilan Militer Momentum Akhiri Impunitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:06

Komisi III DPR Desak Pelaku Korupsi Dana Bencana Dihukum Maksimal!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:46

Daftar Negara Masuk Standalone Market MSCI, Ada 12 Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:34

Dihantam Ancaman MSCI, IHSG Terancam Anjlok ke 4.700 Pekan Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:24

Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:07

Profil Hamenang Wajar Ismoyo, Bupati Klaten Tersangka Kasus Suap Audit BPK

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:53

Karhutla Meluas, Legislator Golkar Desak Evaluasi Pencegahan dan Penegakan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:52

BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta dan Papua

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:39

Selengkapnya