Berita

ilustrasi/ist

Louay Qaddoumi: Indonesia Permalukan Umat Muslim Sedunia

SELASA, 05 JULI 2011 | 10:20 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Louay Qaddoumi adalah kepala seksi pemberitaan internasional di harian independen Al Watan yang terbit di Qatar. Sudah belasan tahun ia bekerja sebagai jurnalis di negeri monarki absolut yang dipimpin keluarga Al Thani itu.

Sebagai kepala seksi pemberitaan internasional sudah barang tentu laki-laki ke lahiran Jordania ini mengikuti dari dekat berbagai peristiwa politik di banyak negara, tidak terkecuali di Indonesia.

Dengan fasih ia menceritakan berbagai problem yang dihadapi Indonesia, sejak zaman Orde Baru hingga masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Dia tahu bahwa korupsi masih menjadi salah satu persoalan utama negeri ini. Louay Qaddoumi juga tahu bahwa banyak koruptor Indonesia yang lari ke Singapura. Dan ini sering membuat hubungan Indonesia-Singapura panas dingin. Begitu juga hubungan Indonesia dengan Malaysia.

Peristiwa eksekusi mati Ruyati, seorang tenaga kerja wanita Indonesia asal Bekasi, Jawa Barat, di Arab Saudi, pertengahan bulan lalu pun diikutinya. Ruyati dinyatakan bersalah karena membunuh majikan di awal 2010 lalu. Perwakilan pemerintah Indonesia tidak mengetahui ketika kepala Ruyati dipenggal di barat Mekah.

“Itu tidak akan terjadi kalau Indonesia adalah negara yang disegani Arab Saudi. Kalau Indonesia disegani, pasti Raja Arab Saudi akan meminta keluarga korban untuk mengampuni. Dan pasti bisa diampuni,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka Online dalam perjalanan dari Rabat menuju bandara Internasional Muhammad V di Kasablanka, Maroko.

Indonesia sudah terlanjur dikenal sebagai produsen house maid. Image inilah yang antara lain membuat Indonesia hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat dunia, termasuk negara-negara Timur Tengah yang banyak mempekerjakan pembantu asal Indonesia.

“Saya tidak pernah bertemu dengan orang yang mengatakan akan ke Indonesia. Pemerintah Indonesia harusnya malu karena tidak bisa menjadikan negara dengan potensi yang begitu besar sebagai negara yang patut dihormati oleh dunia internasional,” katanya lagi.

Louay Qaddoumi telah mengunjungi beberapa negara Asia, seperti Jepang, China dan Korea Selatan. Malaysia dikunjunginya beberapa kali. Bulan Desember nanti, ia dan keluarganya akan beramai-ramai datang ke Malaysia. Sejauh ini, sebutnya, ia sama sekali tidak pernah berencana melakukan perjalanan ke Indonesia.

Wajar bila pernyataan Louay Qaddoumi membuat panas telinga sementara orang Indonesia. Tapi jangan buru-buru marah. Pikirkan sekali lagi.

Keluarga Louay Qaddoumi di Qatar pernah mempekerjakan seorang pembantu dari Indonesia. Sumirah, namanya. Setelah bekerja selama tiga tahun, beberapa tahun lalu Sumirah pulang ke Indonesia. Menurut Louay Qaddoumi, Sumirah adalah pembantu yang cerkatan dan cukup bisa diandalkan. Ketika Sumirah mau berhenti, ibumda Louay Qaddoumi menawarkan gaji dua kali lebih besar. Tapi Sumirah bersikeras pulang ke Indonesia karena anak perempuannya sudah semakin besar.

Salah satu hal yang disesalkan Louay Qaddoumi adalah ketidakmampuan pemerintah Indonesia memaksimalkan potensi pariwisata. Industri pariwisawat Indonesia nol besar. Dalam beberapa dekade terakhir ini Bali tetap masil lebih dikenal daripada Indonesia.

Menurut Louay Qaddoumi, dan ini bukan pandangan yang baru sama sekali, daripada mengirimkan tenaga kerja ke luar negeri, jauh lebih baik bila pemerintah Indonesia membangun industri pariwisata yang kuat. Bayangkan multiplier effect yang dihasilkan industri turisme. Berapa banyak pekerja yang terserap dan berapa banyak orang yang selamat dari jerat kemiskinan. Kalau kedua hal itu tercapai, Indonesia akan menjadi negara yang stabil secara politik.

Popularitas Indonesia, sebutnya lagi, kalah jauh dibandingkan Malaysia yang berani mempromosikan diri dengan menggunakan tagline “Trully Asia”. Selain mempromosikan diri, Malaysia terlihat sungguh-sungguh membangun industri pariwisata.

Malaysia masuk dalam daftar top ten jumlah turis mancanegara. Malaysia berada di peringat ke-9 dengan jumlah wisman sebanyak 23,65 juta orang per tahun. Sementara jumlah wisman yang mengunjungi Indonesia dalam satu tahun masih berada di kisaran 6 juta orang.

Masih menurut Louay Qaddoumi, secara umum ada dua sebab utama mengapa Indonesia termasuk negara yang jeblok di sektor pariwisata. Pertama, promosi yang sangat kurang di dunia internasional. Kedua, ya itu tadi, image Indonesia sebagai negara penghasil pembantu masih lebih kuat daripada image Indonesia sebagai anggota G-20 dan negara demokratis.

Kenyataan Indonesia dikenal sebagai penghasil pembantu juga merusakan image umat Muslim secara global. Bayangkan, Indonesia adalah negara dengan umat Muslim terbanyak di dunia. Semakin banyak pembantu yang dikirimkan ke luar negeri, semakin kuat anggapan masyarakat dunia bahwa Islam tidak mampu mensejahterakan manusia.

“Hanya negara miskin yang tak punya lapangan pekerjaan yang mengirimkan warga negaranya ke luar negeri. Sementara kemiskinan sangat dekat dengan ketidakamanan, ketidaknyamanan dan kekacauan,” demikian Louay Qaddoumi. [guh]


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya