Berita

ilustrasi

Demokrat Jangan Beri Ampun Elit yang Terlibat Suap Sesmenpora

RABU, 15 JUNI 2011 | 16:13 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

RMOL. Partai Demokrat seharusnya tak memberi ampun pada siapapun elit partai yang oleh publik diduga kuat terlibat dalam kasus suap Sesmenpora.

Menurut Pengamat Kebijakan Publik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro, Partai Demokrat seharusnya reaktif terhadap hasil survei terbaru oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang menunjukkan tren penurunan suara partai akibat kasus suap Sesmenpora.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat sudah mengambil tindakan dengan memecat Nazaruddin sebagai bendahara umum. Namun, menurut Siti, tindakan demikian tidak cukup untuk meyakinkan masyarakat akan komitmen Partai Demokrat pada kasus antikorupsi.  Seharusnya, semuanya dibenahi agar kesan pembiaran tak muncul.


“Evaluasi kabinet dan kinerja menteri itu harus dilakukan. Yang terindikasi terlibat kasus korupsi itu harusnya tidak ada ampun karena bisa membatalkan perjuangan antikorupsi SBY dan Partai Demokrat sejak awal,” kata Siti di Jakarta (Rabu, 15/6).

Dia melanjutkan, seharusnya Partai Demokrat belajar dari pengalaman PDIP dan Partai Golkar yang selalu kesulitan untuk menaikkan suara di dua pemilu terakhir hanya karena ada sejumlah elitnya yang pernah diberitakan terkait kasus korupsi dan perbuatan amoral.

Berdasarkan survei periode Juni 2011 yang dirilis minggu lalu oleh LSI, Publik meyakini ada tiga elit partai yang terlibat. Menurut hasil survei, sebanyak 53,7 persen responden meyakini mantan bendahara umum partai Nazaruddin terlibat dalam kasus tersebut, 40,2 persen responden meyakini Menteri pemuda dan olah raga Andi Mallarangeng terlibat dan 33,5 persen percaya anggota DPR Angelina Sondakh terlibat. Survei yang dilakukan pada 1-7 Juni 2011 pada 1.200 responden di 33 provinsi, 42,4 persen responden menjadikan kasus korupsi di Kemenpora menjadi pertimbangan untuk memilih Demokrat di Pemilu mendatang.

“Apa ketiganya mau dipelihara terus oleh partai? Kalau dibiarkan ini akan bisa menjadi pembenaran bahwa Demokrat memang menjadi bungker koruptor yang ujungnya bisa berpengaruh pada semakin menurunnya suara partai,” ucap Siti Zuhro.

Siti Zuhro mengatakan wajar bagi publik untuk percaya bahwa Nazaruddin dan Andi Malarangeng benar-benar terlibat dalam kasus suap sesmenpora.Untuk Nazaruddin, publik pasti bertanya alasannya melarikan diri ke Singapura setelah kasusnya mencuat deras di publik. “Kalau dia tak salah, harusnya dia segera menghadapi KPK,” ucap Siti.

Sementara tentang keterlibatan Andi Mallarangeng, Sesmenpora Wafid Muharram yang tertangkap tangan menerima uang secara jelas mengatakan uang itu sebenarnya untuk dana talangan pelaksanaan Sea Games. “Tidak masuk akal kalau Andi Mallarangeng tak tahu soal keputusan itu. Seorang sekretaris kementerian pasti lapor dan mendapat endorsement dari si menteri,” kata Siti.

Dia melanjutkan seharusnya Andi Malarangeng sudah mengundurkan diri karena terbukti tak mampu memimpin kementerian dengan benar dan membiarkan kasus suap itu terjadi. “Karena dia tak mau mundur secara ksatria, Presiden SBY harus tegas untuk mengatakan bahwa kamu sudah tak dukung apa yang saya kibarkan selama ini,” kata Siti.

Sementara itu, Peneliti politik ICW Abdullah Dahlan mengatakan riset LSI tersebut bisa dilihat dari dua kacamata yakni politik dan hukum. Secara politik, hasil survei seharusnya dilihat sebagai dorongan agar Partai Demokrat konsisten menjalankan agenda antikorupsi. Yang terlihat sekarang ini adalah mereka hanya terlihat setengah hati menjalankan agenda tersebut.

“Harusnya beberapa pihak yang diduga terlibat dengan menggunakan AD/ART partai, dinon-aktifkan. Setidaknya dengan dinonaktifkan, penyidik KPK bisa lebih objektif menyidik mereka,” ucap Abdullah.

Sementara dari kacamata hukum, kata dia, hasil riset tersebut harus dilihat sebagai keharusan untuk memperdalam dugaan keterlibatan ketiga elit partai Demokrat itu. “Tanpa hasil survei sebenarnya sudah jelas penegak hukum harus memperdalam dugaan keterlibatan ketiga elit itu,” tambah Abdullah. [dem] 


Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

Komisi III DPR Sambut KUHP dan KUHAP Baru dengan Sukacita

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:12

Bea Keluar Batu Bara Langkah Korektif Agar Negara Tak Terus Tekor

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:08

Prabowo Dua Kali Absen Pembukaan Bursa, Ini Kata Purbaya

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:07

Polri Susun Format Penyidikan Sesuai KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:06

Koalisi Permanen Mustahil Terbentuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:01

Polri-Kejagung Jalankan KUHP dan KUHAP Baru Sejak Pukul 00.01 WIB

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:58

Tutup Akhir Tahun 2025 DPRD Kota Bogor Tetapkan Dua Perda

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:46

Presiden Prabowo Harus Segera Ganti Menteri yang Tak Maksimal

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:42

Bitcoin Bangkit ke Level 88.600 Dolar AS

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Berjualan di Atas Lumpur

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Selengkapnya